Makalah observasi k3 di konveksi busana

Makalah Observasi K3 di konveksi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dewasa ini, banyak perusahaan maupun industri garmen yang melalaikan Undang-Undang keselamatan kerja padahal kita tahu bahwa undang-undang undang-undang ini telah lama disahkan yaitu sekitar tahun 1970. Undang-undang mengenai K3 ini, amatlah penting disosialisasikan di lingkungan perusahaan / badan industry lainnya. Hal ini dikarenakan untuk memicu penerapan K3 dalam industry yang bisa berdampak pada hasil produksi dan keselamatan tenaga kerja.
K3 sendiri merupakan kepanjangan dari kesehatan keselamatan kerja, hal ini membahas mengenai hak serta kewajiban yang di tanggungkan pada suatu tempat kerja, bisa juga meliputi jamsostek,cuti hamil,pemberian ganti rugi bagi pekerja yang mengalami cacat fisik. Hal ini penting untuk di berikan kepada setiap anggota dari tenaga kerja sehingga kesejahteraan tenaga kerja bisa tercapai.
Keterjaminan kesejahteraan tenaga kerja juga akan memberi dampak secara langsung maupun tidak langsung pada hasil yang dihasilkan karena hal tersebut berkaitan dengan kondisi psikis seseorang.
Mengacu pada pernyataan diatas penulis melakukan observasi di suatu tempat industry yaitu di konveksi yang bernama “gudang soak” yang bertempat di jalan jodipan wetan no 14 malang. Tujuannya guna mengetahui seberapa jauh penerapan UU K3 di industry tersebut. Observasi ini dilakukan selain untuk mengetahui seberapa jauh tingkat penerapan K3 di industry tersebut juga untuk memenuhi tugas mata kuliah K3 yang kemudian disajikan dalam bentuk makalah.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan membahas tentang (1) Proses produksi dan identifikasi permasalahan keslamatan kerja,(2) Pemantauan dan metoda, (3) Upaya pengetahuan, rekayasa pengendalian dan penanggualangan kecelakaan kerja.(4) Faktor yang mempengaruhi kesehatan tenaga kerja, (5)Penyesuaian peralatan dan sarana kerja dengan tenaga kerja.

C. Tujuan observasi
1. Menambah informasi mengenai UU yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan kerja.
2. Mengetahui seberapa tingkat penerapan K3 di industry konveksi.
3. Dapat menurunkan terjadinya kecelakaan pada pekerja.
4. Dapat meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan dan pentingnya jaminan kesehatan bagi pekerja.
5. Mengetahui berbagai dampak penerapan K3 di industry terhadap hasil produksi
6. Mengetahui cara untuk mengatasi serta mencegah terjadinya kecelakaan kerja di industry.

BAB II
PROSES PRODUKSIDAN IDENTIFIKASI PERMASALAHAN

A. Diagram alir dan uraian proses produksi

gambar 1: proses produksi
Dari hasil observasi yang telah dilakakan diagram alir dari proses produksi di konveksi ini meliputi:

Proses produksi suatu baju di konveksi gudang soak ini diawali dengan pemesaan terlebih dahulu, pemesan bisa sesuka hati memilih model busana yang dikehendaki,pemesanan ini bisa dari luar maupun dalam kota malang sendiri, biasanya para pemesan memberi contoh baju apa yang ingin dibuat,bila tidak ada contohnya bisa dengan menggunakan sketsa. Kemudian dilanjutkan dengan pemilihan bahan yang akan digunakan untuk busana tersebut,pemilihan ini amat penting,Karena hal ini juga memberi pengaruh terhadap kualiatas suatu busana. Proses selanjutnya ialah pembuatan pola baju, dalam proses ini kain akan tata kemudian dipotong sesuai dengan pola yang telah dibuat, cara pembuatan pola yang digunakan dalam konvesi tersebut, a) dengan menggunakan jiplakan yang telah dibuat biasanya terbuat dari kertas, b) dengan mendedel contoh baju yang telah dibawa oleh si pemesan, dari dedelan tersebut akan terbagi dalam beberapa pola, pola inilah yang dijiplak di bahan c) tanpa jiplakan, maksudnya disini pola busana yang akan dibuat langsung digambar dibahan, kemudian langsung dipotong. Pemotongan bahan, ada 3 alat gunting yang digunakan untuk memotong bahan, a) gunting kain biasa gunting ini biasa digunakan untuk bahan kain yang hanya beberapa lapis, tidak terlalu banyak. Gunting inilah yang sering kita jumpai ketika ingin memotong sesuatu. b) gunting kain yang sedang, gunting ini digunakan untuk ketebalan yang sedang, yaitu kurang lebih sekitar 10 lapis kain, gunting ini bentiknya sama sekali berbeda dengan gunting yang sering kita jumpai. c) gunting kain yang digunakan untuk memotong bahan dengan ketebalan yang amat tebal, cara penggunaan mesin gunting ini hampir sama dengan yang sedang tadi,mesin gunting jenis ini bisa menggunting dengan ketebalan mencapai kurang lebih 10 cm. proses selanjutnya yaitu penjahitan busana, dalam konveksi ini cara menjahit busananya tidak per bagian-bagian, maksudnya jahit busananya itu satu orang menjahit satu baju utuh dari awal sampai akhir tanpa dioper pada orang lain. Setelah selesai menjahit proses yang paling akhir yaitu proses packing. Proses ini meliputi pengepresan busana, melipat busana, serta pemasukan busana dalam plastik kemas. Setelah selesai dikemas barang siap untuk dikrimkan kepada pelanggan.
B. Identifikasi permasalahan
1. Faktor lingkungan kerja
Faktor ini amat berpengaruh terhadap meningkat atau tidaknya suatu tempat usaha seperti konvesi/garmen. Jika perusahaan dapat menurunkan tingkat dan beratnya kecelakaan – kecelakaan kerja, penyakit, dan hal – hal yang berkaitan dengan stress, serta mampu meningkatkan kulitas kehidupan kerja para pekerja, perusahan akan semakin efektif. Peningkatan – peningkatan terhadap hal ini akan mengasilkan :
a) Mengingkatkan produktivitas karena menurunnya jumlah hari kerja yang hilang
b) Menginkatnya efisensi dan kualitas kerja yang lebih berkomitmen
c) Menurunnya biaya – biaya kesehatan dan asuransi
d) Tingkat Kompensasi pekerja dan pembayaran langsung yang lebih rendah karena menurunnya pengajuan klaim
e) Felksibilitas dan adaptabilitas yang lebih besar sebagai akibat dari meningkatnya partisipasi dan rasa kepemilikan
f) Rasio seleski tenaga kerja yang lebih baik karena meningkatnya citra perusahaan

2. Potensi bahaya kecelakaan kerja
Tentunya suatu garmen/konvesi seperti halnya di tempat observasi kami tidak menginginkan suatu kecelakaan yang terjadi pada karyawan mereka, tetapi suatu kecelakaan kerja bisa terjadi setiap saat, seperti halnya yang pernah terjadi di konvesi gudang soak,ada seorang karyawan dibagian pemotong kain/bahan tledor sehingga mengakibatkan terjadinya kecelakaan kerja,yaitu berupa tangannya terkena mesin pemotong. Suatu badan perusahaan/industry sebaiknya lebih memperhatikan hal ini karena hal ini bila terjadi suatu musibah pada karywan akan merugikan perusahaan sendiri,karena perusahaan harus memberi ganti rugi, hasil yang didapat akan menurun karena kehilangan seorang pegawai. Jadi, sebaiknya konvesi gudang soak maupun perusahaan lain lebih memperhatikan hal tersebut.agar omset yang didapat lebih meningkat lagi.
3. Kererasian peralatan dan sarana kerja dengan tenaga kerja
Di tempat konveksi gudang ini memiliki dua orang pemilik yaitu pak faisol serta adik kandungnya yang bernama pak yudi, dari dua orang pemilik ini hasil yang di hasilkan tidak hanya pada konveksian kemeja saja, tapi juga tempat pembordiran serta ada juga tempat pembuatan kaos banyak yang telah memesan di tempat itu seperti halnya SMK 4 MALANG saat membuat kaos olahraga dari sekolah mereka.
Peralatan yang ada ditempat itu beragam ada mesin pemotong kain manual,pemotong kain mesin, mesin besar/high speed,mesin obras,mesin pembuat lubang kancing, di ruang yang berbeda ada mesin pembuat bordiran, ada mesin untuk membuat rantai,mesin memasang rib,mesin untuk menjahit kain kaos, serta banyak lagi mesin yang ada di tempat tersebut. Pemilik dari gudang soak sangatlah mengerti tentang pegawainya. Beliau memempatkan orang yang telah lama berkecimpung didunia pembuatan busana di bagian pembuatan pola dan pemotang pola, karena ujung tombak dalam pembuatan busana ada di bagian tersebut, bila pada terjadi kesalahan pada bagian ini akan menyebabkan gangguan juga pada bagian yang lainnya sesuai atau tidak sesuainya model juga bergantung pada bagian ini, sehingga pak faisol mengangkat orang bagian ini sebagai tangan kanannya, yaitu orang yang telah mendapat kepercayaan dari pak faisol untuk mengarahkan para pegawai lain bila pak faisol tidak ada. Sebagian pegawai di tempat itu adalah laki-laki hal ini dikarenakan agar peralatan yang berat-berat bisa dikerjakan oleh mereka, tanpa merasa kesulitan karena pemiliknya sangat kasihan bila dikerjakan oleh seorang wanita.
4. Faktor manusia
Faktor ini biasanya diakibatkan karena seseorang kurang teliti,kurang memperhatikan keselamatan kerja,akhirnya berdampak pada hasil yang akan di hasilkan. Seharusnya sebagai karyawan harus bisa melindungi dirinya sendiri sehingga dia akan tetap merasa aman dan bisa terhindar dari hal yang tidak diinginkan, seperti terjadinya kecelakaan kerja yang dilakukan si pekerja sendiri dan berakibat pada kesehatan pekerja serta merugikan perusahaan atau industry tempet si pekerja bekerja. Perlingdungan bisa dilakukan dengan menggunakan berbagai alat pelindung diri ketika sedang bekerja, suatu alat pelindung diri seharusnya bisa memberi kenyamanan serta keamanan bagi si pemakai

BAB III
PEMANTAUAN DAN METODA KERJA
A. Faktor teknis
1. Faktor lingkungan kerja
Karena factor ini sangat mempengaruhi adanya pemingkatan maupun penurunan omset suatu badan industry, Kesehatan dan kerja sangat erat hubungannya, sebab lingkungan kerja dapat mempengaruhi kesehatan seseorang. Pekerja mungkin saja terkena jarum mesin saat menjahit,terkena mesin pemotong saat memotong kain, ataupun situasi kerja penuh tekanan.
Oleh karena itu diperlukan pengetahuan dan kesadaran bagi para pekerja terhadap kesehatan lingkungan kerja yang dapat menyebabkan penyakit akibat kerja. maka perlu adanya kajian yang membahas tentang hal ini.metode-metode untuk mengurangi kecelakaan yang dikarena factor lingkungan perlu di adakan di suatu tempat industry. Metode yang bisa diterapkan yaitu dengan :
a) Penyusunan dan penyimpanan barang-barang yang berbahaya yang kurang diperhitungkan keamanannya.
b) Ruang kerja yang terlalu padat dan sesak.
c) Pembuangan kotoran dan limbah yang tidak pada tempatnya
2. Potensi bahaya kecelakaan kerja
Keselamatan adalah merujuk pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cedera yang terkait dengan pekerjaan. Kesehatan adalah merujuk pada kondisi umum fisik, mental dan stabilitas emosi secara umum (Mathis dan Jackson 2002). Ditempat observasi yang kami datangi, disana potensi kecelakaan yang sering terjadi yaitu terkena patahan jarum mesin jahit, terkena sengatan arus listrik, terkena setrika saat menyetrika pakaian serta kecelakaan berat yaitu terkena mesin pemotong saat memotong bahan, terjadi ketulian dikarenakan terlalu seringnya pegawai menjahit. Maka dari itu perlu pencegahan agar hal tersebut tidak sampai terjadi.
Metode yang bisa terapkan yaitu dengan adanya perlindungan bagi diri seorang pekerja saat pekerja, bisa menggunakan alat pelindung diri. Hal ini harus disertai dengan kesadaran pegawai tentang pentingnya memakai alat pelindung diri serta juga harus ada pengawasan pemimpin terhadap karywannya mengenai hal tersebut.
3. Sarana dan peralatan kerja
Peralatan kerja yang digunakan pada saat menjahit seperti gunting tidak dilengkapi dengan pengaman. Oleh sebab itu tingkat terjadinya cedera pada tangan semakin tinggi untuk pengunaan gunting dalam jangka waktu yang lama.
Sebaiknya utnuk mengurangi kecelakaan kerja alat yang digunakan seperti gunting dilengkapi dengan pelindung berupa lilitan kain pada pegangan gunting. Hal ini dilakukan untuk mencegah cedara pada tangan. Misalnya tangan menjadi lecet seperti yang dilakukan di tempat observasi kami, disana yang berada di bagian pemotongan mengeluhkan karena tangannya yang lecet bila menggunakan pemotong kain manual, makanya disana di beri lilitan kain di bagian yang bersentuhan dengan tangan saat di operasikan.
B. Faktor manusia
1. Kesehatan tenaga kerja
Kita amat tahu kesehatan tenaga kerja itu penting agar omset bisa meningkat, penjagaan terhadap kesehatan tenaga kerja bisa dilakukan dengan cara memberikan peraturan tentang penggunaan alat pelindung diri.ada banyak pengertian mengenai alat perlindungan diri.
Alat Pelindung Diri (APD) adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan risiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di sekelilingnya. Kewajiban itu sudah disepakati oleh pemerintah melalui Departement Tenaga Kerja Republik Indonesia (http://id.wikipedia.org).
APD adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorangdalam pekerjaanpekerjaan yang fungsinya mengisolasi tubuh tenaga kerja dari bahaya di tempat kerja. APD merupakan cara terakhir untuk melindungi tenaga kerja setelah dilakukan beberapa usaha (Syamsul Mubarok, 2007).

Alat perlindungan diri ini ada berbagai macam:
a) Alat pelindung kepala
Melindungi rambut pekerja supaya tidak tertarik mesin yang berputar, melindungi kepala dari benturan benda keras.
a) Alat pelindung mata
Digunakan untuk melindungi mata dari terkena patahan jarum,serta melindungi mata agar terkena debu.
b) Pelindung tangan
Hal ini penting ada untuk melindungi tangan dari benda-benda tajam serta
benda yang berat.
c) Pakaian kerja

Gambar 1 Baju Kerja Berbentuk Celemek
Sumber : http// http://www.google.co.id/sarungtanganindustri.wordpress.com

Hal ini penting bagi semua pekerja, agar setelah selesai bekerja potongan
potongan benang tidak menempel di baju serta baju tetap terlihat bersih.
Pada tempat yang telah kami datangi sebagian sudah menggunakan APD akan tetapi penggunaan APD ini tidak semua diberlakukan pada semua aspek. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan pekerja tentang APD itu sendiri.
Akan tetapi disisi lain pekerja sudah menggunakan APD misalnya saja kursi yang dilengkapi dengan sandaran agar sewaktu-waktu saat punggung terasa capek itu dapat direfleksikan pada sandaran kursi.
Selain itu kursi juga dilengkapi dengan bantal kursi. Hal ini merupakan salah satu cara mencegah terjadinya penyakit akibat kerja. Penggunaan bantal kursi ini memebrikan manfaat yang sangat besar bagi pekerja karena dapat mengurangi rasa sakit saat duduk terlalu lama di kursi kerja. Semua alat pelindung diri yang pekerja sediakan dilandasi dengan kenyamanan dan pengalaman saat bekerja.
Oleh sebab itu perlu adanya pengarahan dan pemberian informasi kepada pekerja tentang penggunaan APD dan pentingnya penggunaan APD dilingkungan kerja untuk mecegah terjadinya PAK dan kecelakaan akibat kerja.

2. Kesesuaian sikap, cara dan system kerja
Setiap pekerjaan merupakan beban bagi pelakunya. Beban tersebut dapat berupa beban fisik, mental dan sosial. Seorang tenaga kerja memiliki kemampuan tersendiri dalam hubungannya dengan beban kerja. Diantara mereka mungkin lebih cocok untuk beban fisik atau mental atau sosial. Sesuai dengan hal teesebut sehingga perlu adanya penyesuaian mengenai pekerjaan dengan si pekerja agar bisa terjadi kesinambungan. Hal ini bisa dengan cara dengan memberikan training kepada pegawai baru,sehingga nantinya dikala mereka sudah benar-benar bekerja mereka tidak merasa terbebani. Karena telah diajari terlebih dahulu bagaimana cara menggunakan mesin jahit,, serta di ajari bagaimana cara mengoperasikan mesin tersebut, hal ini juga bisa dimanfaatkan oleh pemilik usaha untuk menyeleksi orang-orang yang sesuai dengan criteria yang ada, yaitu kriteria yang telah ditentukan oleh perusahaan/tempat konveksi.

BAB IV
UPAYA PENGETAHUAN, REKAYASA PENGENDALIAN DAN PENANGGULANGAN
A. Rekayasa teknologi pengendalian
Bila penyebabnya sudah diidentifikasi, strategi – strategi dapat dikembangkan untuk menghilangkan atau mengurangi bahaya – bahaya kerja. Untuk menentukan apakah suatu strategi efektif atau tidak, perusahaan dapat membandingkan insiden, kegawatan, dan frekuensi penyakit – penyakit dan kecelakaan sebelum dan sesudah strategi tersebut diberlakukan
1. Memantau Tingkat Keselamtan Dan Kesehatan Kerja
Mewajibkan perusahaan – perusahaan untuk menyimpan catatan insiden – insiden kecelakaan dan kasus penyakit yang terjadi dalam perusahaan. Perusahaan juga mencatat tingkat kegawatan dan frekuensi setiap kecelakaan atau kasus penyakit tersebut
a) Tingkat Insiden
Indeks keamanan industri yang paling ekspilist adalah tingkat insiden yang menggambarkan jumlah kecelakaan dan penyakit dalam satu tahun. Hal ini patut diterapkan dalam suatu tempat konveksi agar, setiap tahunnya ada pengevaluasian mengenai seberapa tingkat kecelakaan yang terjadi dalam satu tahun, sehingga kecelakaan pekerja bisa lebih dikurangi.
b) Tingkat Frekuensi
Tingkat frekuensi mencerminkan jumlah kecelakaan dan penyakit setiap satu juta jam kerja bukan dalam tahunan seperti dalam tingkat insiden. Biasanya tingkat frekuensi ini sering di sajikan dalam bentuk diagram batang.
c) Tingkat Kegawatan
Tingkat kegawatan menggambarkan jam kerja yang hilang karena kecelakaan atau penyakit,inilah akibatnya bila suatu tempat konveksi kurang memperhatikan tentang keselamatan kerja, badan usaha tersebut akan merugi dikarenakan omset yang didapat menurun.
d) Mengendalikan Kecelakaan
Cara terbaik untuk mencegah kecelakaan dan meningkatkan keselamatan kerja barang kali adalah dengan merancang lingkungan kerja sedemikian rupa sehingga kecelakan tidak akan terjadi.
e) Ergonomis
Ergonomis merupakan suatu proses penyesuaian pekerjaan dengan pekerja, bukan sebaliknya. Di tempat observasi kami sangat memperhatikan hal tersebut, karena hal ini merupakan cara lain yang bisa dilakukan untuk meningkatakan keselamatan kerja yaitu dengan membuat pekerjaan itu sendiri menjadi lebih nyaman dan tidak terlalu melelahkan bagi pekerja.
2. Lingkungan kerja
Lingkungan kerja memberi dampak pada kesehatan bagi pekerja, misalnya : bila tempat kerja tidak bersih maka kurang sedap dipandang, serta akan memimbulkan gangguan terhadap kesehatan diri seorang karyawan/pegawai. Beradasarkan observasi yang kami lakukan disana telah menerapkan berbagai kegiatan yang berkaitan penjagaan lingkungan, disana telah diadakan jadwal giliran untuk piket sebelum bekerja, serta di mesin disertai dengan adanya kantong untuk membuang sampah sehingga kebersihan bisa di jaga selalu.
3. Keselamatan kerja
Keselamatan saat bekerja amatlah penting, karena itu perlu adanya pantauan dari pihak pemilik produksi sendiri.
B. Pencegahan dan penanggulangan dari aspek manusia
1. Penyakit akibat kerja
Sumber – sumber potensial penyakit- penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan sama beragamanya seperti gejala – gejala penyakit tersebut.
a) Kategori Penyakit Yang Berhubungan Dengan Pekerjaan
Dalam jangak panjang, bahaya – bahaya di lingkungan tempat kerja dikaitkan dengan kanker kelenjar tiroid, hati, paru – paru, otak, ginjal dan lain – lain
b) Kelompok – kelompok Pekerja Yang Berisiko
c). Kehidupan Kerja Berkualitas Rendah
Bagi banyak pekerja, kehidupan kerja berkualitas rendah akan menyebabkan oleh kondisi tempat kerja yang gagal untuk memenuhi preferesnis – preferensi dan minat – minat tertentu seperti rasa tanggung jawab, keinginan akan pemberdayaan dan keterlibatan dalam pekerjaan tantangan, harga diri, pengendalian diri, penghargaan, prestasi, keadilan, keamanan, dan kepastian
d). Stress Pekerjaan
Penyebab umum stress bagi banyak pekerja adalah supervisor (atasan), salary (gaji), security (keamanan), dan safety (keselamatan). Aturan – aturan kerja yang sempit dan tekanan – tekanan yang tiada henti untuk mencapai jumlah produksi yang lebih tinggi adalah penyebab utama stress yang dikaitkan para pekerja dengan supervisor. Berikut ini salah satu penyebab stress kerja yaitu :
•Perubahan Organisasi
Perubahan – perubahan yang dibuat oleh perusahaan biasanya melibatkan sesuatu yang penting dan disetai keridakpastian
Tingkat Kecepatan kerja
Tingkat kecepatan kerja dapat dikendalikan oelh mesin atau manusia
Lingkungna Fisik
Walaupun otomatisasi kantor adalah suatu cara meningkatkan produktivitas, hal itu juga mempunyai kelemahan – kelemahan yang berhubungan dengan stress
Pekerja Yang Rentan Stres
Manusia memang berbeda dalam memberikan respon terhadap penyebab stress
e). Kelelahan Kerja
Adalah sejenis stress yang banyak dialami oleh orang – orang yang bekerja dalam pekerjaan – pekerjaan pelayanan

2. Sikap dan system kerja
Seorang penjahit memang dituntut untuk duduk lebih lama dibandingkan dengan pekerjaan lain seperti SPG. Kondisi penjahit yang dominan berada dalam kondisi duduk, kepala menunduk, punggung membungkuk serta leher menekuk dapat mengakibatkan penyakit dan kecelakaan kerja.
Misalnya posisi duduk sekalipun pada saat duduk menurut tegangan pada kaki rendah, sikap tak alami dapat dihindari, konsumsi energi terkurangi dan kebutuhan peredaran darah hanya sedikit (Sastrowinoto, 1985). Akan tetapi untuk posisi duduk yang keliru dan terlalu lama tanpa adanya refleksi otot punggung dapat mengakibatkan sakit punggung. Selain itu pada saat duduk otomatis perut mengendor maka ini dapat mengakibatkan gangguan dalam salauran pencernaan dan paru-paru.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada observasi kali ini yang menjadi objek penelitian usaha konveksi gudang soak adalah usaha penjahitan pakaian yang dimiliki olehbapak faisol beserta adik kandungnya pak yudi. Tempat penjahitan ini terletak di jalan jodipan wetan no 14 malang.
Beberapa kegiatan/lingkungan pada penjahit yang dapat mengakibatkan kecelakan dan penyakit akibat kerja diantaranya adalah potensial hazard lingkungan fisik, potensial hazard lingkungan biologi, dan potensial hazard lingkungan kimia.
Contoh potensial hazard llingkungan fisik adalah : tata ruang, kebisingan dan polusi, sikap tubuh, peralatan kerja dan getaran. Potensial hazard lingkungan biologi adalah bakteri yang ada pada kain yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan pakaian. Selain itu ada juga potensial hazard lingkungan kimia contohnya akibat zat pewarna yang digunakan pada proses pewarnaan pakaian yang dapat menagkibatkan perih pada mata.
Penggunaan APD pada tukang jahit tidak diberlakukan pada semua aspek kegiatan kerja misalnya pekerja hanya menggunakan kursi dengan sandaran dilengkapi dengan bantal kursi. Akan tetapi mereka tidak memperhitungkan kemungkinan yang dapat disebabkan karena penggunaan gunting dalam waktu yang lama sehingga gunting yang digunakan tidak dilapisi dengan pelindung agar tidak mencederai tangan.
Pada usaha penjahitan ini saat pekerja membuat pola dan melakukan pengguntingan kain dan pola diletakkan diatas meja untuk digunting. Hal ini merupakan salah satu cara pencegahan PAK pada tukang jahit.
Akan tetapi, pada tempat usaha penjahitan pakaian ini tidak dilengkapi dengan peralatan kesehatan seperti kotak P3K. Hal ini dapat membantu jika sewaktu waktu terjadi kecelakaan kerja. Dengan adanya kotak P3K ini dapat memberikan pertolongan pertama pada pekerja saat mengalami cedera.

B. Kritik dan saran
Sebaiknya dalam bekerja pekerja menggunakan alat pelindung diri dan memperhatikan kemungkinan terjadinya kecelakaan dan PAK yang disebabkan karena penggunaan alat dan posisi dalam bekerja.

PUSTAKA ACUAN
Moeadi,M.Kes.,Drs. Ir.2006.Upaya Membudayakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Masyarakat Industri.Malang.Universitas Negeri Malang.

http://www.google.com

http://id.wikipedia.org

Tentang k3tium

sehat dan bersemangat
Tulisan ini dipublikasikan di BuS1A12-AmaliaAmirotussaida, BuS1A12-AndriyanKristiyoni, BuS1A12-Imro'atinNurulMufakhomah, BuS1A12-Liachikmatulfitri, Dwi Astuti Sih Apsari. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s