Tugas 1 : Dya Ratna Octavianing Putri

” Tugas 1 : Lingkungan Sekitar Dya Ratna Octavianing Putri ”
 

SENANDUNG HIDUP YANG KU ALAMI

Semua kehidupanku berawal dari sebuah cinta dan kasih sayang yang telah dibangun oleh orangtuaku. Ayahku bernama Achmad Basori, dan Ibuku bernama Nurul Jannah. Yang telah hidup bersama selama 7 tahun pernikahan, ketika aku dilahirkan. Walaupun ayahku bukan presiden, bukan seorang pejabat,juga bukan PNS. Tapi ayahku selalu memberikanku yang terbaik. Dan menjagaku layaknya mutiara kecil. Dan peranan ayahhku hebatnya melebihi seorang presiden ataupun PNS. Dan ibuku hanyalah seorang penjahit rumahan saja. Namun kasih sayangnya begitu besar padaku. Dari kecil aku dirawat begitu tulus, walaupun ibu sering ngomel – ngomel, namun semua itu adalah yang terbaik untukku.Orangtua yang begitu sempurna dimataku. Mereka lah yang telah  membesarkanku,menimangku,membelaiku dan menemani sepanjang perjalanan hidupku sampai saat ini selama 19 tahun.

Aku adalah anak kedua dan merupakan anak terakhir yang terlahir dari rahim ibuku. Dan anak terakhir dari pernikahan orangtuaku. Aku hanya mempunyai satu saudara perempuan, namanya Ma’rifatul Fithriyah. Ketika aku lahir, kakakku pun sudah umur 6 tahun. Aku terlahir pada hari kamis legi tepatnya tanggal 14 oktober 1993 pada pukul 20.00 WIB. Sebenarnya yang diharapkan oleh orangtuaku terutama Ayahku adalah lahirnya anak laki – laki , bukan anak perempuan. Karena Ayahku tidak menyiapkan nama perempuan untukku. Hanya nama laki – laki yang disediakan untukku ketika aku mau lahir, yaitu nama yang mungkin keramat bagiku “NUR KHOLIS”.

Sehingga aku lahirpun orangtuaku belum mempunyai nama yang pas untukku, sehingga sempat aku dipanggil bidan yang telah membantu persalinan Ibuku dengan memanggilku gendis, karena aku terlahir putih, mungil dan manis. Itu yang dikatakan bidan terhadap ibuku. Akhirnya namaku tercetus karena diberi nama oleh  tetanggaku yang bernama Yaminah dan Abdul Wahid. Mereka telah menikah selama sepuluh tahun lebih namun belum dikaruniai seorang anak. Bahkan sempat mereka ingin mengadopsi aku sebagai anaknya, karena melihat bayi aku yang lucu dan mungil.

Namun Ayah dan Ibuku tak mau, walaupun mereka menginginkan anak laki – laki, tapi orangtuaku tidak mau mengasuhkan aku pada keluarga Wahid itu. Orangtuaku tetap merawatku dan menyayangi aku sampai sekarang. Walaupun aku tidak tau persis bagaimana masa kecilku ketika aku masih balita, namun mendengar cerita dari kakekku tentang perjuangan ibuku merawatku. Aku merasa terharu, karena ketika aku masih umur 3 tahun, aku ditinggal ibuku berdagang gorengan keliling, gorengan buatan nenekku tercinta yang bernama Kasmiati.

Ketika aku ditinggal ibuku dagang, aku ditemani oleh kakek bututku. Yaitu kakek dari ibuku, kakek buyutku bernama Thosim, beliau adalah suami dari nenek buyutku yang bernama Misti. Nenek buyutku adalah turunan belanda. Yaitu ibunya nenek buyutku menikah dengan Mr.Welldan yang saat itu adalah dari keluarga terpandang  yang ada di daerah tempat tinggalku. Ibu nenek buyutku hanya dijadikan istri ketiga dari Mr.Welldan. Namun anehnya ciri – ciri fisik yang diturunkan hanya sampai cucunya saja. Jadi yang masih mirip dengan Mr.Welldan adalah kakekku yang bernama Sujiadi.

Kembali lagi ke ceritaku ketika masih kecil. Ketika aku masih umur 3 tahun, aku di asuh oleh kakek buyutku Thosim, beliau selalu menemaniku bermain di halaman rumahku, yaitu main ayunan yang terbuat dari menjalin. Aku masih ingat sekali ketika kakek butut Thosim memanggilku ketika aku masih kecil. Karena dalam keluarga aku dipanggil puput. Yang berasal dari nama asliku Dya Ratna Octavianing Putri. Dan kakek buyutku memanggilku dengan nama Fufut. Karena kakek butut Thosim sudah cukup rentan usianya. Jadi mungkin karena sudah agak gagu pelafalan abjadnya.

Ayah Ibuku memberi nama yang membuat aku dan kakakku jadi saling terkaitan, yaitu kakakku dipanggil pipit, padahal namanya fitri. Dan aku dipanggil dengan nama puput padahal nama asliku putri. Begitu banyak pengalaman – pengalaman indah yang terukir jelas diingatanku ketika aku masih kecil dan belum sekolah. Bahkan aku pernah ikut ibuku jualan keliling dengan dimasukkan ranjang disamping sepeda goesnya. Aku juga ingat betul gimana nakal – nakalnya aku ketika aku masih kecil. Sampai – sampai ibuku marah dan menjilatkan air liurnya padaku, karena aku menangis meminta sesuatu tidak dipenuhi. Sehingga aku lari dan mengadukan kepada nenekku tercinta, dan akhirnya ibuku yang dimarahi nenekku, bahwasanya salah,apa yang telah dilakukan ibuku menghukumku seperti itu.

Cerita itu memang agak menjijikkan, tapi itulah yang pernah ku alami, bahkan aku pernah menangis karena ibuku sembunyi dan pura – pura meninggalkan aku karena tidak betah dengan aku yang suka menangis ketika apa yang aku minta tidak bisa tersampaikan. Namun dari situlah aku menjadi anak yang penurut dan sayang banget sama orangtuaku. Terutama pada ibuku tercinta, dan takut untuk kehilangannya untuk yang kedua kali. Walaupun waktu itu ibu hanya bilang meninggalkanku dengan cara sembunyi, namun rasa kehilangan dan ketakutanku begitu besar.

Aku sayang sekali pada keluargaku, aku juga pernah di bentak Ayahku malam – malam sekitar pukul 01.00 perutku lapar dan aku ingin di belikan nasi goreng, tapi karena aku menangis terus sehingga membuat Ayahku berisik, dan membuat Ayahku marah. Padahal Ayahku tidak pernah memarahi aku, karena beliau selalu sabar dan menuruti semua keinginanku. Sehingga ketika Ayahku sedikit saja membentakku, aku langsung menangis dan sangat sakit rasanya dimarahin oleh Ayahku. Ayah bagiku adalah kaki bagiku, karena tak ada Ayah rasanya hidup tak bisa berjalan dengan sempurna. Dan Ibuku ibarat mata untukku, karena tanpa mata aku tak bisa melihat indah kehidupan  dan bahaya yang ada disekitarku.

Aku juga masih ingat ketika aku mau masuk usia TK, aku selalu intip – intip di pintu sekolahan TK Roudhotul Adfa yang kebetulan adalah sekolahan Pak Lek ku sendiri. Mungkin lebih tepatnya adalah adik dari kakekku Sujiadi, namanya Sunaryo. Beliaulah yang disekolahkan nenek buyutku sampai jadi orang sukses dan menjadi kepala sekolah dan sampai menjadi kepala pembimbing haji di daerahku saat ini. Jadi beliau lebih sukses dari kakekku. Yang kakekku hanyalah seorang pengelolah tanah kafling di daerahku.

Aku yang masih kecil dan mungkin belum waktunya memasuki usia sekolah TK, namun aku sering ikut masuk kelas TK yang kebetulan guru TKnya adalah tanteku sendiri namanya Sri akhada, yaitu istri dari omku Taufiq Hidayat. Yaitu adik dari ibuku. Aku sering maju di depan kelas ketika pelajaran nyanyi, di depan eman – teman TK yang saat itu seharusnya adalah kakak kelasku. Dan teringat jelas olehku aku yang masih kecil itu ternyata sudah di ikutkan rekaman lagu mars TK di kabupaten Mojokerto tempat tinggalku. Dan aku juga di ikutkan lomba melukis se kabupaten Mojokerto. Yang Alhamdulillah aku mendapat juara 1, dan mengalahkan 30 anak TK yang pada saat itu menjadi pesaingku.

Padahal seharusnya aku belum menjadi siswa TK yang resmi saat itu, tapi prestasi yang ke peroleh membuat ibuku bangga. Karena saat aku lomba melukis, kakak perempuanku juga di ikiutkan lomba cerdas cermat se kabupaten mojokerto. Yang Alhamdulillah saat itu juga mendapat juara 2. Akhirnya ketika aku, dan kakak perempuanku pulang, dengan membawa dua piala dan piagam.

Sehingga ketika aku sudah waktunya memasuki usia TK aku sudah tidak lagi duduk di bangku TK,  melainkan aku menjadi siswi SD yang duduk di bangku pertama,yaitu kelas 1. Aku masih ingat sekali betapa gembiranya ku ketika hari pertama masuk sekolah, dengan bangganya memakai seragam putih – putih dan memakai kerudung. Yang tidak tidak usah memakai seragam hijau muda dahulu, yaitu seragam anak TK. Dengan memakai sepeda baruku yang di berikan oleh kakek buyutku Thosim. Namun setelah kakek buyutku memberikan hadiah sepeda baru untukku, hanya senggang beberapa hari kakek buyutku meninggal dunia.

Betapa aku sangat kehilangannya, karena beliau yang selalu memupuk rasa percaya diriku, bahwa aku terlahir adalah menjadi anak yang cerdas dan membanggakan orang tua. Dan aku masih ingat sekali pesan dari kakek buyutku, yaitu “ketika kamu dalam keadaan sesulit apapun jangan sampai mengorbankan orang tuamu,dan dalam keadaan sesukses apapun kamu nanti jangan pernah menjauhi orangtuamu, apalagi meninggalkan mereka, karena semua yang kau peroleh juga tak luput dari doa mereka,yaitu orang tuamu nduk”. Kakek buyutku pun pernah bilang kepadaku “ ketika kamu ada di samping orang tuamu, ketika kamu masih dalam pengawasan mereka, janganlah pernah bosan untuk selalu mendekap mereka nduk..karena saat itulah mereka merasakan betapa nikmanya menjadi orangtua. Yaitu bisa menemani anak – anaknya dan berjuang untuk anaknya, melihat perkembangan anaknya dari dekat, karena suatu saat ketika kamu jauh dari mereka, mungkin ketika kamu sudah menikah kelak, atau ketika kamu menuntut ilmu yang jauh dari mereka, mereka tak bisa merasakan lagi dekapan anak – anaknya. Dan merasa sepi ketika mereka hanya tinggal berdua tanpa anaknya, oleh karena itu nduk berikanlah kebahagiaan pada mereka saat ini,saat kamu merasa begitu dekat dengan mereka”.

Dan aku baru bisa meraskan bahwa pesan kakek buyutku adalah benar, dan memang terjadi. Yaitu aku menuntut ilmu, di Perguruan Tinggi Negeri UM malang. Yaitu yang kurasakan jauh dari orangtuaku, yang tak bisa merasakan kasih sayang mereka setiap saat. Tidak seperti yang ku rasakan ketika aku masih SD yang sering di jemput ibuku ketika pulang sekolah, bahkan aku sudah duduk di bangku SMA pun ibu selalu memperhatikanku, dengan selalu menyiapkan bekal makan untukku. Mungkin saat itu, peristiwa yang terjadi adalah biasa, namun sekarang mulai kurasakan betapa bedanya ketika kita dekat dan jauh dari orangtua.

Karena pesan – pesan kakek buyutku lah aku menjadi anak yang selalu inin menikmati dan membuat orangtuaku merasa nikmatnya menjadin orang tua. Aku Alhamdulillah selalu mendapat rengking 1 dalam kelas. Dari kelas 1 sampai kelas 6 SD. Namun dibalik prestasi yang aku peroleh pada kenyataannya aku kalau di rumah tidak pernah belajar. Hanya dengan bekal ketika pelajaran sedang berlangsung saja aku benar – benar menyimak dan memahami benar apa yang disampaikan oleh guru SD ku saat itu. Aku pintar bukan karena aku rajin belajar, karena memang pada kenyataannya aku tidak pernah belajar ketika aku SD namun selalu mendapatkan peringkat pertama, aku sempat dikalahkan oleh teman satu kelas denganku yang bernama Dewa Wisnu Mahdi, dia adalah salah satu murid di SD ku yang kebetulan anak dari guruku yang bernama Siti Aminah.

Dia pandai menggambar, dan dia tampan menurutku ketika aku masih sama – sama di usia SD. Bahkan aku sempat cinta monyet dengan dia, karena melihat dia dari sisi kepandaiannya, aku berpacaran dengannya karena ingin mengalahkan dia lagi untuk memperoleh peringkat pertama di kelas. Karena sebelumnya aku dikalahkan menjadi rengking 2. Dan ketika aku pacaran dengannya, dia selalu mengalah kepadaku. Sehingga ketika kenaikan terakhir yaitu kelas 6 SD ada dua rengking satu. Namun aku yang rengking satu pertama dan dia yang kedua. Akhirnya kami beda sekolah SMP dan semua kisah itu akan menjadi sebuah cerita yang lucu bila diingat.

Aku bisa dibilang cewek tomboy saat itu dan mungkin sampai sekarang, tapi sekarang sudah agak feminine karena sudah mulai mengenal bahwa aku adalah seorang remaja. Namun ketika ingat masa SD ku, aku selalu bermain klereng, game, PSan, dan obak sodor dalam istilah permainan di daerahku, namun mungkin biasa dikenal dengan petak umpet. Aku juga sering panjat – panjat pohon jambu ketika aku masih usia – usia sekolah SD. Bahkan pernah dicari ibuku ketika siang – siang yang seharusnya waktu untuk tidur siang, namun aku bangun pelan – pelan dari kamar tidurku dan lari ke belakang rumahku yang waktu itu ada pohon jambu, dan aku memanjatnya dan sambil duduk – duduk di atas pohon dengan memandang langit dengan berfikir “ pasti kalau aku sudah dewasa aku tak lagi bisa merasakan hal seperti ini” .

Akhirnya ibuku pun triak – triak mencariku dan tak tau bahwa aku ada di atas pohon jambu yang ada di belakang rumahku, karena aku sampai tertidur di atas pohon jambu sampai sore. Sulit dipercaya, bahkan konyol menurutku ketika aku mengingat masa kecilku yang begitu songongnya dan usilnya aku yang sering mengempeskan ban teman – temanku. Bahkan teman – temanku  laki – laki semua tidak ada yang berani denganku. Aku juga pernah dipukul guru bahasa arabku dengan buku LKS yang lumayan tebal karena protes dengan nilai yang tidak sesuai untuk pekerjaanku. Namun aku tetap kuat mental dan meminta maaf pada Pak Agus namanya. Namun disisi lain dari kenakalan – kenakalan yang konyol itu aku juga mengimbanginya dengan menonjolkan kelebihanku yaitu mampu bersaing sehat dalam pelajaran dan tidak hanya itu, karena aku juga pernah ikut lomba tartil sekecamatan, alhaqmdulillah menang nomor 2.

Disisi kenakalanku aku tetap berprestasi dibidang pelajaranku seperti yang ku katakan. Karena setiap persemester di pabrik dimana Ayahku bekerja selalu mengadakan penghargaan untuk anak – anak berprestasi. Dan Alhamdulillah juga, karena setiap penghargaan itu diadakan aku selalu mendapat hadiah. Yaitu uank tunai sebesar “dua ratus lima puluh ribu rupiah” dan berfoto dengan atasan Ayahku bersama anak berprestasi lainnya. Namun sayangnya aku tidak punya copyan foto itu.

Karena saat ini pun pabrik itu hangus karena peralihan pimpinan yang tidak tepat dan seluruh saham pabrik dijual dan dibawa kabur,sehingga Ayahku tak lagi bekerja menjadi mandor di pabrik, lumayan tragis perjuangan Ayahku ketika saat itu, karena sudah cukup lama Ayahklu bekerja di pabrik itu,hampir 25 tahun lamanya. Tanpa pesangon juga uank kompensasi selama 25 tahun tersebut. Sehingga membuat Ayahku sempat sakit. Mungkin karena shock dan bingung memikirkaan aku juga. Karena saat itu aku mulai masuk SMP dan kakak perempuanku pun memasuki bangku perkuliahan. Otomatis uank yang di butuhkan tidak sedikit,dan dalam keadaan seperti itu ibuku tak mau membuat Ayahku menjadi down, melainkan dengan ibu kursus menjahit.

Dari situlah Ayahku mulai bangkit dan semangat sembuh dari sakitnya, dan mulai mencari pekerjaan seadanya. Aku masih ingat betul pertama kali ada pekerjaan untuk Ayahku saat itu, yaitu menjadi kuli kayu, yang berangkat dari setengah tujuh pagi sampai jam lima sore. Haanya dengan gaji 25ribu /hari. Sampai Ayahku pun menangis ketika hanya bisa memberikan uank segitu pada ibuku. Karena dibandingkan dengan pekerjaannya dulu yang hanya mengawasi pekerja – pekerja, dengan berpakaian rapi, pekerjaan bersih tanpa harus kotor – kotor.

Pekerjaan jadi buruh kayu itupun tak lama dijalani oleh Ayahku. Hanya bertyahan selama kurang lebih dua bulan saja. Ibuku pun mulai sedikit mahir dalam membuat baju, dan nekat membuka jahitan rumahan. Akhirnya sedikit demi sedikit tetangga mulai mengenali bahwa ibuku adalah seorang penjahit, akhirnya banyak job untuk ibuku. Ayahpun masih bingung  karena mungkin saat itu gengsi Ayahku masih menyelimutinya, sehingga membuatnya tak percaya diri mencari pekerjaan yang mungkin tak biasa dilakukannya. Yaitu mencoba dagang krupuk keliling, seperti yang dilakukan oleh salah satu sudara jauh ibuku, yang menjadi pedagang krupuk keliling.

Awalnya Ayahku tak mau melakukan pekerjaan itu dengan alas an tak siap dan tidak biasa dengan pekerjaan itu, yang harus setiap hari mendatangi warung – warung kceil untuk mencari pelanggan. Namun karena dorongan ibuku, dan semangat dariku pun akhirnya Ayahku mau melakukan pekerjaan itu sebagai mata pencahariannya sampai saat ini. Dan aku bangga mempunyai orang tua seperti mereka, yang tetap menguatkan satu sama lain ketika dalam keadaan sesusah apapun itu.

Ketika kakak perempuanku menginjak waktu pendaftaran perkuliahan dimulai, kakak ku pun tak bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri, karena alasan pertama mungkin membutuhkan uank banyak untuk pertama kali masuk perguruan tinggi negeri, sehingga dengan sekuat hati kakakku menerima keadaan itu, dan berfikiran untuk kuliah sambil kerja. Sehingga dia mencari universitas yang  bisa sesuai dengan pekerjaannya. Yang kebetulan saat itu kakakku test menjadi pegawai bank swasta, dan ketrima. Semua itu juga tak luput dari keikhlasan seorang ibu yang ingin melihat anaknya sukses walau dalam hatinya menagis karena tak bisa menyekolahkan kakakku ke perguruan tinggi layaknya teman – temannya saat itu.

Sehingga kakakku kuliah di daerah Mojokerto sendiri, yaitu di UNIM( Universitas Islam Majapahit). Dengan begitu dia tak menyusahkan orangtua lagi, dan orangtuaku hanya tinggal menyekolahkanku, karena selama kakakku kuliah dia membiayahi kuliahnya sendiri. Aku yang waktu itu duduk di bangku SMP,aku disekolahkan di MTs Negeri Mojosari. Dalam masaku SMP aku tak begitu merasakan apa – apaa yang menonjol seperti prestasi yang ku raih ketika aku SD. Rasa malaspun mulai menghampiriku, aku juga tak tau apa yang membuatku down. Namun hanya satu mata pelajaran yang tetap aku sukai dan tetap semangat, yaitu Matematika.

Namun ketika aku duduk bangku SMP, banyak juga pengalaman – pengalaman yang tak pernah terlupakan. Sekali lagi semua itu terjadi karena aku yang ceroboh dan kenakalan – kenakalanku. Ketika aku masih pertama duduk di bangku SMP, aku berada di kelas unggulan yang waktu itu kelasku adalah kelas D. kelas yang dikhususkan cewek cowok campur jadi satu kelas. Karena kelas – kelas yang lain dibeda – bedakan antara kelas laki – laki dan perempuan.

Aku masih ingat betul ketika waktunya Alqur’an dan Hadist yang di ajar oleh guruku yang masih sangat muda dan tampan pula. Beliau bernama Pak Ashyari. Ketika beliau sedang menjelaskan dan menerangkan pelajaran aku dan temanku fitri yang sebangku sama aku, dia anak trawas. Aku dengan asik mengobrol dengan fitri tanpa memperhatikan guruku tersebut. Tiba – tiba penghapus papan tulispun melayang ke bangku ku. Dan seketika itu aku langsung shock dan diam sambil menelan ludah karena kaget.

Aku pun dihukum sama fitri yang sebangku denganku, disuruh berdiri di samping bangku guru, atau disamping beliau dengan menghadap muka teman – teman satu kelas. Bukan hanya berdiri saja, namun Pak Ashyari juga menyuruhku untuk terus membuka mulutku sampai jam pelajarannya habis. Betapa konyolnya apa yang telah ku perbuat, sehingga sampai sekarangpun menjadi cerita yang tak pernah terlupakan.

Aku juga sempat membuat heboh satu sekolahan SMPku, yaitu suatu hari aku beli jajanan di Koprasi Siswa, aku membeli sebuah jajan yang produksi rumahan. Aku tak sadar kalau jajan mie itu ternyata ada struplesnya. Sehingga aku takut sekali karena aku merasa ada yang nyangkut di tenggorokanku. Sampai akhirnya aku ke kamar mandi siswa dan muntah – muntah karena mencoba untuk mengeluarkan sesuatu yang mengganjal de tenggorokanku. Namun tak bisa juga aku mengeluarkannya, sampai membuat guru – guru dan semua teman – temanku panic karena kecerobohanku.

Akhirnya aku dibawa ke Puskesmas Pungging. Namun di Puskesmas pun tak berhasil mengelluarkan sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku. Dan akupun dibawa ke THT Rumah Sakit Umum SOEKANDAR Mojosari. Tidak lama kemudian hanya dalam waktu 10 menit pun sesuatu yang tersangkut di tenggorokanku bisa keluar. Dan akhirnya aku di antarkan oleh guruku. Sampai di rumah aku di tertawakan oleh orangtuaku, karena kecerobohanku. Hal itupun juga masih tetap teringat, karena memang sangat konyol sekali.

Di bangku SMP pun kelas satu aku mulai merasakan sedikit – sedikit tertarik kepada cowok, yaitu kakak kelasku yang waktu itu duduk di bangku kelas 3. Dia namanya Masrukhin, dia adalah kakak kelasku yang juga sama ekstrakurikulernya denganku, yaitu drumband. Hanya sebatas ngefans saja, karena ternyata Masrukhin sudah mempunyai cewek yaitu Fenty, dia juga satu ekstrakurikuler denganku.

Aku saat itu jabatanku sebagai mayoret, dan ada salah satu kakak kelasku cowok yang juga satu angkatan dengan Yenty dan Masrukhin. Namanya Erwin, namun lebih akrab dipanggil RW. Dia manis, baik dan selalu menghibur, dia pandai membuat lelucon. Dan menghidupkan suasana ketika capek latihan ekstrakurikuler. Namun dia hanya aku anggap sebagai kakak saja. Karena dia juga sudah mempunyai cewek. Bahkan ceweknya berkali – kali cemburu padaku, dan melabrakku dengan alas an yang seakan – akan RW adalah miliknya.

Akhirnya persahabatanku dengan RW tlah hilang sejak dia lulus SMP, dan tidak ada lagi yang bisa menghibur dan membuat lelucon – lelucon. Karena aku senang ketika melihat cowok itu suka bercanda, dan bisa menghibur. Akhirnya aku keluar dari ekstrakurikulerku, dang anti ke Pramuka. Dan dalam organisasi ini aku mempunyai teman – teman yang usianya di atasku satu tahun, namanya Ferliani, Khusnul, Ghozy, Ikhwan, Yusup yang culun, dan terakhir Rohman. Rohman lah yang bagiku beda, karena dia terlihat  tegas, apalagi ketika dia menjadi pemimpin upacara setiap hari senin. Dan melihat dia selalu sholat dhuha di mushollah sekolahan. Membuat hatiku terenyuh melihat sosok cowok seperti itu.

Akhirnya semakin banyak organisasi yang sama dengan dia, yaitu ikut surfifel, dll. Namun aku dekat dengannya bukan berarti aku suka dengan dia. Namun hanya karena kagum saja melihat apa yang ada dalam dirinya. itu secuplik kisahku tentang diriku yang mulai merasakan ketertarikan terhadap lawan jenis. Di masa SMP pun aku juga mempunyai pengalaman yang indah bersama teman – teman dekatku, sosok teman yang begitu tulus bersahabat, yaitu Dewi, Heny dan Wulan. Dari ketiga temanku itu mempunyai karakteristik yang berbeda,  pertama Dewi, dia adalah teman yang paling tomboy dan susah ditebak. Dia juga tak suka ketika melihat temannya dekat dengan cowok. Karena baginya cowok hanyalah akan merusak masa depannya saja dan tak penting untuk dimiliki ketika belum pada waktunya.

Temanku yang kedua yaitu Heny, dia adalah teman baikku yang paling pendiam, dan agak tertutup anaknya. Ketika dia mempunyai masalah dia lebih senang dengan diam dan menyimpan masalahnya sampai berlarut – larut sampai kapanpun, baru ketika masalahnya sudah terungkap dengan sendirinya, ketika itulah dia baru meminta tolong dan selalu curhat “aku butuh kalian,,,” menemukan Dewi yang tomboy, Heny yang lebih suka diam ketika mempunyai masalah dan Wulan yang begitu feminine yang selalu ingin terlihat sempurna. Mereka juga berperan penting di senandung hidupku. Karena mereka yang bergantian menyemangatiku dan mengkritikku ketika aku salah. Dan merangkulku ketika aku sedang sedih.

Aku bersahabat dengan mereka selama 7 tahun,sampai saat ini tak pernah putus komunikasi. Namun jalan hidup sudah berbeda, tidak seperti waktu SMP dulu yang sama – sama di hokum ketika makan dikelas, dan jajan bareng di kantin. Mereka mempunyai garis kehidupan masing – masing. Dewi sekarang kuliah di Universitas Budi Utomo Malang,dan sudah tunangan. Heny pun sudah menikah, bahkan kemarin baru melahirkan anak perempuan. Wulan bekerja di salah satu swalayan, dia bekerja karena himpitan hidup yang sedang menguji keluarganya. Jadi kami hanya bisa komunikasi dengan via phone. Tak lagi hangout bareng seperti dulu, sebelum keadaan mulai berubah.

Dahulu kami berempat sering dan bahkan wajib berkumpul setiap liburan sekolah tiba, seperti merayakan ulang tahun, atau tradisi traktiran ketika ada yang ulang tahun, merayakan ulang tahun dengan pergi bersama – sama berempat dengan cowok masing – masing, kami pernah mengunjungi Pantai Kenjeran Surabaya,  Air Terjun Kakeh Bodoh Tretes, dan masih banyak lagi tempat – tempat wisata yang ku kunjungi dan menghabiskan waktu bersama mereka.

Aku selalu merasa kangen dan ingin menikmati masa – masa seperti itu lagi, dan semua kurasakan berbeda ketika aku masuk bangku perkuliahan. Jauh dari keluarga, dan keadaan teman pun sudah berbeda, tugas individupun begitu numpuk ketika kuliah, belum lagi mikir makan setiap hari. Tidak seperti ketika aku sebelum kuliah, yang makan tinggal nuang nasi dan lauk apa yang aku mau sudah ada di atas meja makan. Tidak harus mikir nanti, besok, lusa makan apa. Uank pun harus di atur.

Terkadang aku sempat berfikir bahwa mewnjadi seseorang yang dewasa itu membosankan. Dan terlalu banyak menyita waktu buat keseriusan yan membuat pikiran jenuh dan cepat tua dan mengeriput. Bagiku semakin lama waktu yang berjalan, semakin banyak pula masalah – masalah baru yang di alami orang dewasa pada umumnya, dan hal itu yang membosankan sekali bagiku. Rasanya belum siap semua perubahan ini menyelimutiku.

Hal yang paling membuatku risau dan merasa tak semangat lagi karena jauh dari kasis sayang kedua orang tuaku. Karena selama ini aku tak pernah sebelumnya jauh dari keluargaku, di sini hanya ada teman – teman sekontrakan saja, yang mereka pun punya masalah sendiri – sendiri, sehingga untuk mencurahkan apa yang ada di hatipun rasanya tak enak. Tidak seperti seorang ibu yang selalu ada untuk anaknya, dalam susah maupun senang. Ibuku selalu ada buatku, apalagi ketika aku ada masalah, tak lain hanyalah ibuku yang selalu memberiku saran yang tewrbaik dan menyejukkan hati. Tak pernah menjatuhkan anaknya.

Baru tahu rasanya kuliah di bangku perkuliahan tidak semudah dan seenak dalam benakku dulu. Bahkan membuat beban terkadang,ketika dapat tugas yang begitu berat, dan jauh keluarga yang membuatku sulit untuk melakukan suatu tugas yang segarusnya mudah jadi sulit. Apalagi tata busana, dahulu aku menganggap bahwa jahit itu gampang, ternyata begitu rumit dan membutuhkan kesabaran yang ekstra untuk bisa menyelesaikannya. Belum lagi ketika setiap minggu praktek dan membutuhkan kain yang  banyak, dan semua itu butuh uank untuk membeli, dan berusaha untuk bisa menjahitnya. Namun melihat kenyataan dosen kurang bersahabat, tidak bisa menghargai perrjuangan kita, apalagi pelit nilai, dan ketika kita bertanya malah dimarahin. Bagaimana kita mau semangat? Kalau setiap pekerjaan yang kita buat selalu dikritik begitu buruk dan membuat kita down? Sudah tidak mau mengajari, itulah salah satu yang membuatku terkadang merasa tak enak menjadi anak kuliahan. Karena dosen kurang memahami apa yang kita butuhkan. Yaitu kesabaran dalam membimbing mahasiswanya. Bukan menjatuhkan.

Entahlah,,karena aku yakin mungkin semua ini adalah perjuangan yang harus aku tempuh dan taklukkan dengan penuh percaya diri seperti pesan kakek buyutku. Aku ingin sekali membuat orangtuaku bangga, dan membuktikan bahwa aku kuliah ada hasilnya.yaitu inilah aku Bu,Yah, anak kalian yang dulu kalian didik daari kecil sampai saat ini aku bisa lulus kuliah dengan baik. Saat inilah aku akan mulai berganti tempat, yaitu izinkan aku membahagiakan kalian, dengan aku menjadi orang yang sukses, bukan hanya sukses dalam pekerjaan namun juga sukses dalam berumah tangga.

Saatnya untuk aku menjadi lebih dewasa, yang dulunya aku hanya seekor kepompong kecil yang ada tempurungnya, yaitu lindungan doa dan kasih sayang kalian terhadapku, lalu aku menjadi seekor ulat yang mulai merangka sendiri mencari makan dan berjuang agar bisa menjadi kupu – kupu yang indah, yang nantinya akan bisa terbang kemanapun dengan sayap – sayap dan warna yang indah. Lalu bisa menemukan kumbang yang tertarik kepadaku. Aku mungkin sekarang ibarat masih menjadi seekor ulat, yaitu mencoba merangka sendiri, hidup jauh darimu yang terlepas dari lindungan kerakmu, dan mencoba mandiri tanpamu..

Walau semua ini tak mudah dan bahkan sangat sulit setika aku jauh darimu, namun percayalah aku kelak pasti akan berubah jadi kupu – kupu cantik. Yaitu bisa mengembangkan usaha yang besar dan seorang guru yang berkualitas. Doa dan keikhlasan kalian sangat kubutuhkan.Hal yang mungkin bisa ku petik dari semua masalah yang terjadi adalah walaupun  aku jauh dari keluarga, aku tetap akan  menjaga diriku baik – baik, dan menjadi seorang wanita yang mandiri dan tangguh dalam seadaan apapun.

Saat ini yang selalu memberikan ku semangat adalah pacarku. Karena dia yang berusaha selalu ada buatku, selalu berusaha menghiburku, menemaniku disaat aku senang maupun sedih dan butuh teman, dia selalu menasehati aku ketika aku salah, dan dia selalu ingin menjagaku. Dan dialah pacarku yang selama ini aku cari, berteman dengan tuhan. Karena itulah dia layak menjadi imamku kelak, semoga dia adalah jodoh yang baik dan sudah di takdirkan untukku. Fakhruddin insya allah aku selalu menunggumu dan menjaga cintaku untukmu karena allah,,

Sampai halaman ini pun aku bingung ingin menuliskan apalagi, namun aku mempunyai misi yaitu setelah lulus kuliah aku ingin membuka usaha dan usaha yang bukan memproduk barang orang lain, dan menjadi pegawai orang, melainkan ingin memproduksin untuk konsumen dan menciptakan lapangan pekerjaan. Dan penjahit – penjahit yang ada di daerahku yang mungkin kurang terkenal dan tidak bisa mengembangkan bakatnya, akan saya jadikan satu wadah dalam suatu komuniti dan agar ilmu – ilmu mereka tetap bermanfaat, mereka akan saya ajak bekerjasama, sehingga ilmu mereka tetap bermanfaat dan mereka dapat penghasilan, dan usaha yang aku kembangkan bisa berjalan dan diminati banyak konsumen.

Ketika semua misiku berjalan dan berhasil, ketika uank ku semua terkumpul. Maka hal pertama atau tujuan pertama yang ingin ku capai selanjutnya adalah menghajikan orangtuaku. Itulah yang akan membuat hidupku merasa mencapai puncak kebahagiaanku terhadap orangtuaku. Semoga aku bisa mengalahkan rasa malasku, agar semua misi itu dapat terwujud dengan indah dan tepat pada waktunya, sesuai schadule hidup yang aku buat.amien…

Ketika kita mau berusaha,sesulit apapun dan seberat apapun arang yang melintang dengan usaha dan doa Insya Allah semua akan terwujud sesuai dengan rencana. Bahkan lebih indah dari apa yang kita ingikan. Karena Allah bukan memberikan apa yang kita inginkan, namun Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan.

Karena Allah selalu ada untukku, ketika aku tak sanggup lagi menanggung ujian yang diberikan Allah untukku, aku tak lupa selalu memohon kepadaNYA. Dan selalu ada pertolongan untukku, karena aku selalu mencoba untuk sabar dan ikhtiar serta yakin selalu ada hikmah dibalik kejadian atau sebuah nmusibah. Allah selalu mengirimkan pertolongan melalui orang – orang yang tak terduga untukku.

Berikut adalah beberapa dokumentasi yang bisa saya publikasikan..

Foto3763

100_6780

Photo3481

 

Tentang k3tium

sehat dan bersemangat
Pos ini dipublikasikan di BuS1A12-DyaRatnaOctavianingPutri, Dwi Astuti Sih Apsari. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s