Penerapan K3 di Industri Garmen Larusso

Penerapan K3 di Industri Garmen Larusso
Kurangnya kepedulian Karyawan Terhadap K3

 

  • . Sejarah “Dwi Putra Perkasa Garment”

Usaha garment kemeja dari pemilik yang biasa dipanggil Pak Yanto ini berawal pada tahun 1989 yang saat itu usaha garment kemeja itumasih belum menggunakan nama usaha seperti sekarang ini. Dimana beliau masih menggunakan rumahnya sendiri sebagai tempat kerja untuk merintis usaha garment kemeja ini bagi para karyawannya. Awal mula pak yanto mendirikan usaha ini masih terdapat tujuh buah mesin manual.Dengan jumlah tujuh orang karyawan. Yaitu pak yanto sendiri dengan sang istri ditambah lima orang tetangga yang beliau didik dari awal. Saat itu pak yanto masih belum berani untuk membuka usaha garment kemeja ini karena keterbatasan jumlah mesin jahit serta pegawai. Yang ahirnya pada tahun 1998 pak yanto baru berani membuka usaha garment kemeja tersebut karena jumlah mesin jahit yang sudah memadai. Yaitu dengan jumlah 50 mesin jahit. Saat itu usaha garment kemeja tersebut berubah menjadi salah satu usaha garment kemeja yang terbesar di Indonesia. Dan itulah awal mula garment kemeja ini diberi nama menjadi nama yang sekarang ini yaitu, “Dwi Putra Perkasa Garment” dan disingkat menjadi “DPP Garment”.

Berjalan beberapa tahun hingga sampai saat ini,dari sinilahusaha dari DPP Garment itu sendiri mulai memperlihatkan perkembangan yang sangat pesat. Dimulai dari bertambahnya jumlah mesin dan meningkatnya jumlah pegawai yang sampai saat ini sudah mencapai kurang lebih 160.Dari banyaknya pegawai inilah yang membuat usaha ini selalu menambah jumlah mesin setiap tahunnya.Dari bertambahnya jumlah mesin dan pegawai inilah yang mengakibatkan keterbatasan kerja dan pada akhirnya beliau membuka cabang usaha garment kemeja ini untuk para pegawainya yang semakin bertambah, dimana cabang ini terletak di lima tempat yang ada di kota Malang ini. Yakni, plaosan, kebon agung, bululawang, Jln. Manggar atas no. 31A yang merupakan pusat dari usaha Garment itu sendiri dan awal mula tempat yang digunakan pak yanto dan sang istri untuk pertama kali membuka usaha garment ini yangjuga rumah kediaman bapak yanto sendiri. Adapun pak yanto ini adalah kelahiran kalipare, jadi beliau juga memutuskan untuk membuka cabang usaha garmen kemeja yang beliau geluti di tempat kelahirannya tersebut. Produk garment kemeja ini sendiri dipasarkan dengan nama label “LARUSSO”

  • . Penerapan K3 pada “Dwi Putra Perkasa Garment”

·                     Kesehatan Kerja

Kesehatan kerja yang diterapkan pada perusahaan sangat memadai, pertama bisa dilihat dari sang pemilik yang sudah menyediakan beberapa ruangan yang cukup untuk para pegawainya. Ruangan tersebut terbagi menjadi beberapa bagian-bagian yang sudah diatur untuk kelancaran produksi.Menurut pada pembagiannya, di salah satu cabang garment kemeja tersebut yang letaknya tepat di Jln. Manggar No. 31A terdapat banyak tempat yang digunakan untuk bermacam-macam produksi. Yaitu, bagian memotong, bagian seterika produk yang sudah menjadi kemeja, bagian untuk memasang kancing, pengemasan, gudang penyimpanan, serta tempat quality  control. Dan rumah sang pemilik sendiri digunakan sebagaikantor dan tempat menjahit per bagian produk kemeja.

Dalam hal ini pemilik sendiri menerapka adanya sistem estafet pada produksinya. Yang dimaksut estafet disini adalah tiap ruangan, khususnya ruang menjahit dibagi menjadi beberapa bagian untuk memudahkan proses menjahit sehingga hasil yang didapat pun lebih banyak. Untuk luas ruang menjahit ini sekitar 12 m x 6 mdimana didalamnya berisikan 30 orang pegawai. Jadi setiap orangnya berhak mendapatkan kebebasan tempat seluas 1m persegi beserta dengan mesin yang dipakai masing-masing oleh para pegawainya

Area Kerja

Area Kerja

 

Setiap ruangan produksi tidak ditemukan adanya kipas angin.Menurut pemilik sendiri berpendapat bahwa pemasangan kipas angin kurang baik bagi kesehatan para pegawainyadalam kurun waktu yang lama, pemilik menegaskan bahwa dampek dari kipas angin itu sendiri tidak bisa dirasakan sekarang, tapi dikemudian hari.Sehingga mengakibatkan pemilik sendiri benar-benar melarang diadakannya kipas angin didalam tempat produksi.Yang pada akhirnya beliau memberikan beberapa ventilasi serta blowing, yang digunakan untuk sirkulasi udara dalam ruangan produksi.

Blowing

Blowing

 

 

Bukan hanya itu, untuk memperhatikan kesehatan kerja, sang pemilik sendiri sudah menyiapkan masker sebagai pelindung pernafasan, disebabkan area kerja sendiri rawan dengan debu dan serat kain yang bertebangan. Tetapi hal yang disayangkan oleh pemilik adalah para pegawainya yang kurang peduli tentang hel tersebut, sehingga kerap kali para pegawai mengacuhkan pekerjaannya yang sebenarnya harus memakai masker pada saat jam kerja. Sehingga pemilik sendiri tidak selalu membeli masker, hanya saja apabila ada pekerja yang memang membutuhkan masker maka sang pemilik pun dengan senang hati akan memberikannya.

 

Dalam hal kesehatan lainnya, perusahaan memberikan asuransi kesehatan yangberupa penanggungan biaya kecelakaan maupun sakit. Dengan syarat apabila pegawai mengalami kecelakaan pada saat kerja, maka biaya pengobatan 100% akan ditanggung oleh perusahaan sendiri. Dan apabila pegawai mengalami kecelakaan atau sakit diluar jam kerja atau tempat kerja dan benar-benar dibuktikan dengan adanyasurat dokter, maka pegawai berhak mendapatkan asuransi kesehatan sebesar 50%.

Untuk jam kerja, perusahaan memberikan ketentuan setiap harinya para pegawai harus bekerja selama 9 jam. Mulai dari jam delapan pagi hingga jam lima sore. Untuk para pekerja lembur biasanya jam kerjanya sampai jam tujuh malam.  Tapi dalam penerapan jam kerja tersebut para pegawai masih belum bisa untuk mengoptimalkannya. Misalnya saja banyak para pegawai yang terlambat masuk jam kerja ataupun pulang pada saat jam kerja belum habis. Dari hal ini perusahaan pun menerapkan sanksi bagi para pelanggar jam kerja. Mulai dari uang gaji yang dikurangi kemudian jam kerja yang ditambah, sampai diberhentikan dari ia bekerja. Tapi pemilik menegaskan disini, apabila keterlambatan itu karrena sakit maka itupun dimaklumi.Dalam hari bebas atau pun hari libur pegawai boleh bekerja dan itupun waktu yang ia gunakan kerja bebas ia tentukan sendiri. Jadi walau hari bebas perusahaan tidak mewajibkan jam kerja sebagaimana mestinya setiap hari.

Pihal perusahaan juga memberikan jam istirahat bagi para pegawainya, dikarenakan jam kerja para pekerja begitu padat, istirahat ini pun berselan waktu sekitar satu jam, itu tepat disaat waktu dhuhur.Disini perusahaan membebaskan para pegawai untuk membawa bekal makanan dari rumah.Bagi para pegawai lembur, makanan disediakan oleh perusahaan dengan menu masakan yang berbeda-beda setiap harinya.Adapun yang memasak adalah juru masak yang berada di perusahaan itu sendiri khusus untuk para pegawai.

·         Keselamatan Kerja

Untuk menerapkan keselamatan pegawai perusahaan sendiri memberikan alas kaki kepada para pegawai.Guna dari alas kaki ini sendiri agar para pegawai tidak terpeleset maupun tersengat aliran listrik.Tapi pada umumnya para pegawai tidak memperdulikan hal tersebut dan memilih bekerja tanpe menggunakan las kaki.Mereka masih tidak peduli dengan resiko yang mereka dapatkan ketika tidak menggunakan alas kaki tersebut.Sehingga dari perusahaan sendiri tidak begitu mewajibkan memakai alas kaki saat bekerja ketika menghadapi masalah seperti ini. Hanya saja ketika para pegawai membutuhkan atau ingin menggunakan alas kaki saat bekerja, maka perusahaan akan memberikannya.

Dalam setiap ruangan penataan listrik di perusahaan tersebut tertata dengan cukup rapi.Yaitu kabel-kabel listrik menempel pada tembok dan letaknya pun dijauhkan dari para pegawainya, dalam artian letaknya tidak bisa digapai oleh para pegawai.Sehingga membuat para pegawai aman dari bahaya listrik. Pemilik perusahaan beranggapan bahwa lebih efektif jika kabel-kabel tersebut tertata rapi dengan menempel di tembok dari pada ditanamkan di dalam tembok. Dikarenakan jika ada kerusakan pada kabel-kabel tersebut maka dapat memudahkan untuk memperbaiki dan menggantinya serta dapat diketahui dengan mudah. Keuntungan yang lain, perusahaan pun bisa mengganti kabel-kabel tersebut secara periodik.

 

Penataan Listrik
Penataan Listrik
Photo-0088

Kabel-kabel yang terdapat pada perusahaan tersebut, diganti secara berkala, setiap 10 tahun sekali.Dan setiap ruangan produksi terdapat jalur-jalur listrik.Yaitu pembagian mesin sesuai dengan tugasnya, dimana setiap kabel listrik terdapat pada satu jalur. Setiap jalur tersebut memiliki sekring tersendiri, jika terdapat korsleting pada salah satu jalur maka tidak akan mengganggu jalur listrik yang lainnya.

 

 

 

Dalam pemaikaian listrik sendiri setiap harinya perusahaan menggunakan 12.000 watt.Akan tetapi perusahaan memakai listrik dengan jumlah 16.500 watt perhari. Hal ini dilakukan, untuk mencegah turunnya tekanan listrik secara tiba-tiba dan akan mengganggu para pegawai dalam bekerja. Jika listrik padam bukan diakibatkan kerusakan/kesalahan dari perusahaan, tetapi dari pusat/PLN dan dalam kurung waktu 2 maka perusahaan mempunyai kebijakan untuk memulangkan para pegawainya lebih awal.Listri perusahaan disini hanya digunakan untuk menjahit serta alat pemotongan bahan.Selebihnya tidak menggunakan listrik. Adapun untuk setrika kemeja, perusahaan menggunakan setrika uap, dimana bahan  dasar sebagai setrika adalah air yang kemudian menjadi uap akibat dari proses dimasak melalui tabung yang cukup besar dengan menggunakan elpiji.

Setrika Uap, Pada Krah

Setrika Uap, Pada Krah

Tabung Setrika Uap

Tabung Setrika Uap

 

Listrik pun dijauhkan dari ruang setrika karena meminimalisir kecelakaan kerja serta mengantisipasi agar tidak terjadi kosrsleting sehingga mengakibatkan kebakaran pada tempat kerja.

Untuk mencegah adanya kecelakaan kebakaran, perusahaan juga menyediakan alat pemadam kebakaran disetiap ruang.Adapun kebakaran itu ditakutkan terjadi karena gangguan pada listrik atau biasa yang disebutkt kongslet. Karena banyaknya kabel atau watt yang digunakan pada setiap ruang produksinya

 

Listrik yang ada pada perusahaan tersebut berada jauh dari lokasi penyetrikaan uap yang menggunakan media air untuk setrika. Sehingga dapat meminimalisirkan kecelakaan kerja, misalnya korsleting listrik karena listrik terkena uap air/air dari setrika uap tersebut.

Selain itu, kotoran hasil produksi tidak di buang begitu saja melainkan dapat diolah kembali. Seperti potongan sisa – sisa kain perca dapat dimanfaatkan kembali. Menurut istri pemilik, ada orang – orang yang memanfaatkan limbah dari kain – kain tersebut untuk dijadikan isi boneka. Jadi, tidak menimbulkan sampah dan mengotori  lingkungan.

Tidak hanya sisa – sisa kain saja tetapi karton gulungan kain juga daapat dimanfaatkan tidak tahu bagaimana dan di proses untuk apa tetapi ada saja orang yang memungutnya, ada saja orang yang memanfaatkan limbah tersebut untuk diolah kembali menjdai suatu produk yang baru dan berkualitas.

Gulungan benang juga seperti itu, pasti ada orang yang meminta limbah tersebut tidak tahu pasti untuk apa gulungan – gulungan. Tetapi pihak perusahaan mengijinkan untuk diambil yang kemudian di proses kembali. Jadi, semua sisa pembuangan dari setiap proses – prosespembuatan di garmen ini, tak terbuang sia – sia karena dapat dimanfaatkan bagi sebagian orang dan menghasilkan produk baru, yang dapat membuka lapangan pekerjaan yang baru pula.

Disamping itu, limbah – limbah tersebut tidak mengganggu keseimbangan ekosistem lingkungan. Jadi lingkungan dapat terkontrol dengan baik, dan tidak mengotori lingkungan sekitar. Serta tidak menimbulkan sumber penyakit, karena akibat pembuangan limbah yang sembarangan. Setiap proses produksi tersebut sangat memperhatikan kebersihan lingkungan. Memang, pada setiap mesin tidak terdapat kantong sampah/tempat sampah, tetapi pada saat selesai produksi/bekerja, para pegawai memiliki tanggung jawab dan kesadaran untuk membersihkan ruangan kerja. Jadi, ruang kerja selalu terjaga kebersihan dan kerapihannya.

 

  • Alat Pelindung Bagi Para Pekerja

            Perusahaan memberikan fasilitas bagi para pekerja untuk mendapatkan hasil produksi yang maksimal, fasilitas yang diberikan antara lain :

·                     Masker à untuk menghindari debu-debu dan serat-serat kain yang berterbangan

·                     Alas kaki à menghindari tersengat listrik, terpleset dari lantai licin

 

  •  Fasilitas bagi para pekerja

Para pekerja mendapatkan fasilitas berupa alat jahit yang akan mereka pakai untuk bekerja.  Ruangan yang cukup luas dengan dilengkapi berbagai alat yang dapat menolong mereka ketika ada kecelakaan. Para pegawai juga mendapatkan tempat dengan luas 1 meter persegi.

Para pekerja mendapatkan jaminan kesehatan, dan keringanan biaya pengobatan. Tetapi para pekerja, tetap harus menggunakan haknya sesuai dengan keadaan dan bertanggung jawab. Perusahaan memberikan asuransi kesehatan yang berupa penanggungan biaya kecelakaan maupun sakit. Dengan syarat apabila pegawai mengalami kecelakaan pada saat kerja, maka biaya pengobatan 100% akan ditanggung oleh perusahaan sendiri. Dan apabila pegawai mengalami kecelakaan atau sakit diluar jam kerja atau tempat kerja dan benar-benar dibuktikan dengan adanya surat dokter, maka pegawai berhak mendapatkan asuransi kesehatan sebesar 50%.

Tentang k3tium

sehat dan bersemangat
Pos ini dipublikasikan di BuS1A12-AqidatulIzah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s