Tugas 3 Serba-Serbi K3 TI

Penerapan K3 dalam Dunia Industri

Dunia Industri khususnya Industri Busana banyak yang sudah menerapkan prinsip-prinsip K3, akan tetapi banyak pula yang sampai saat ini masih belum memenuhi bahkan belum menerapkan prinsip-prinsip K3 . Seperti yang kita ketahui saat ini, kurangnya pengetahuan para pengusaha tentang pentingnya K3 dalam industri membuat mereka terkadang mengalami banyak kesulitan atau beberapa ancaman bahaya akhibat kurangnya pengetahuan seberapa pentingnya K3.

Sebelum kita mengulas lebih dalam tentang penerapan K3 perlu kita ketahui terlebih dahulu pengertian K3. Menurut Suma’mur, 1995 pengertian dan tujuan Keselamatan Kerja serta Kesehatan Kerja adalah spesialisasi dalam ilmu kesehatan atau kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar pekerja memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik atau mental maupun sosial dalam usaha-usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit-penyakit akibat kerja, gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lapangan kerja, serta penyakit-penyakit umum. Berdasarkan defenisi tersebut diatas, kesehatan kerja diselenggarakan agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat disekelilingnya agar diperoleh produktifitas kerja yang optimal sejalan dengan perlindungan tenaga kerja (Depkes RI, 1991).  Jadi dapat kita ketahui bahwa seorang pemilik usaha harus memberikan jaminan kesehatan kepada para pekerjanya baik itu berupa jamsostek atau obat-obatan yang disediakan agar mereka dapat dengan maksimal bekerja tanpa ada gangguan.

Program pelayanan kesehatan yang meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang kesemuanya dilakukan secara terpadu. Pelayanan promotif diberikan kepada petugas kesehatan yang sehat dengan tujuan untuk meningkatkan kegairahan kerja, mempertinggi efisiensi dan daya produktifitas petugas kesehatan. Kegiatannnya antara lain adalah pendidikan dan penerapan tentang kesehatan kerja, pemeliharaan berat badan, perbaikan gizi (menu seimbang) dan pemilihan makanan yang sesuai, pemeliharaan tempat (cara) dan lingkungan fisik yang sehat, konsultasi untuk perkembangan kejiwaan sehat (perkawinan dan keluarga berencana), olah raga fisik secara teratur dan rekreasi.

Sedangkan pelayanan preventif dilakukan untuk memberi perlindungan pada tenaga kerja sebelum terjadi gangguan (penyakit atau kecelakaan) akibat kerja. Kegiatannya antara lain adalah pemeriksaan kesehatan pekerja (awal, berkala, khusus), imunisasi, kesehatan lingkungan kerja, perlindungan diri dari bahaya karena pekerjaan, penyerasian manusia dengan mesin (alat kerja), pengendalian bahaya lingkungan kerja agar tenaga kerja berada dalam keadaan aman pengenalan, pengukuran dan evaluasi) .

Adapun pelayanan kuratif diberikan kepada tenaga kerja yang sudah memperlihatkan gangguan kesehatan/gejala-gejala dini dengan upaya pengobatan terhadap penyakit agar proses penyembuhan cepat, upaya pencegahan atau penularan terhadap keluarga atau teman kerja, khususnya bagi tenaga kerja yang sudah mengalami kesakitan. Pelayanan kuratif dilakukan antara lain untuk memberi pengobatan pada tenaga kerja yang menderita penyakit atau celaka (penyakit umum/penyakit akibat kerja dan kecelakaan akibat kerja) guna menghentikan sakit sehingga tenaga kerja segera sembuh dan mempercepat masa istirahat kerja agar terjadinya resiko cacat dan atau kematian akibat kerja dapat teratasi.

Untuk jenis pelayanan rehabilitatif diberikan kepada pekerja yang menderita penyakit parah atau kecelakaan parah yang telah mengakibatkan terjadinya cacat sehingga tenaga kerja menjadi tidak mampu lagi untuk bekerja secara permanen baik secara sebahagian atau keseluruhan dari kemampuan bekerjanya yang biasanya mampu ia lakukan setiap hari. Adapun jenis kegiatannya antara lain melakukan latihan dan pendidikan terhadap pekerja agar dapat menggunakan kemampuan yang dimiliki secara maksimal, penempatan kembali tenaga kerja yang cacat secara selektif sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, melakukan penyuluhan pada pengusaha dan masyarakat agar mau menerima tenaga kerja yang cacat.

Pemaparan diatas dapat kita tarik garis besar bahwa peran APD (Alat Pelindung Diri) pada dunia industri busana sebenarnya amat sangat penting demi kelancaran proses produksi.

Berikut adalah beberapa alat pelindung diri yang digunakan pada beberapa industri busana :

  1. Masker

Masker ini sebagai alat penutup hidung dan mulut agar tidak terkena debu-debu tipis yang berterbangan saat pekerja melakukan proses produksi. Masker ini biasanya adalah barang yang tidak disukai para pekerja karena penggunaannya yang tidak nyaman akan tetapi ini masker dapat melindungi kita dalam jangka panjang.

Gambar

   2.   Bidal

Bidal adalah sebuah benda penutup ujung jari tangan yang biasa dipakai saat menjahit agar tangan tidak tertusuk jarum. Bidal ini sangat jarang dipakai bahkan tidak ada yang memakainya karena berbagi alasan.

Gambar

   3.   Pelindung Badan

Pelindung badan yang dimaksud adalah semacam celemek yang bertujuan agar badan pekerja tidak terkena kotoran (benang, serpihan kain, dll).

Gambar

Menurut salah satu sumber pengertian K3 juga dapat diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja khususnya dan manusia pada umumnya, peralatan, lingkungan kerja, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat yang adil makmur dan sejahtera.

Bagi para memilik usaha sebaiknya mulai menerapkan kesehatan, keselamatan serta keamanan kerja yang nantinya juga pasti akan berdampak baik pada perusahaan yang dikelola. Penerapan K3 ini sebenarnya bukanlah hal yang sulit akan tetapi juga bukan hal yang mudah untuk diterapkan terlebih pada para pekerja. Kesehatan kerja yang lebih berfokus pada kebutuhan jasmani pekerja sangat penting di terapkan oleh pemilik usaha. Kesehatan ini selain memberi alat pelindung diri juga sebaiknya pemilik usaha memberi asupan gizi tiap bulannya kepada pekerja akan memberi semangat kepada para pekerja. Keselamatan kerja ini biasanya didukung oleh kondisi lingkungan yang mendukung seperti letak kabel-kabel listrik yang harus ditata kerapiannya agar tidak terjadi konsleting atau kecelakaan pekerja seperti terkena sengatan listrik. Selain itu juga perlunya APAR sebagai alat untuk mengantisipasi kecelakaan kecil yang tidsk terduga didalam ruaang kerja. Selain kondisi lingkungan yang harus diperhatikan, himbauan kepada ekerja agar mereka menjaga lingkungan sekitar juga amat sangat perlu karen ini akan amat sangat bermanfaat bagi mereka dan perusahaan.

Ketika terjadi kecelakaan semua begitu heboh mengurusi korban dan sumber kecelakaan. Mulai dari mengambil tindakan sementara, tindakan permanen sampai dengan pemastian dokumen, dan biasanya dokumen akan dijadikan bukti tindakan perbaikan. Tetapi bila ada karyawan yang sakit, ada yang pusing bahkan pingsan. Pertolongan cukup dilakukan dengan memastikan korban siuman lalu banyak yang berpikir mungkin tidak sarapan atau mungkin saja tidak memakai APD masker ketika bekerja, sehingga expose yang kuat membuat pingsan, respon terhadap sakit biasa-biasa saja. TIDAK seperti bila ada kecelakaan.  Jadi sepertinya tindakan terhadap K3 adalah Safety.

Unsur K3 adalah ilmu yang berupaya yang mengelola bahaya dan resiko sehingga jangan sampai ada kerugian.  Jadi dibentuklah suatu program untuk memastikan tidak ada kerugian. Bentuk kerugian bisa berupa sakit, kerusakan infrastruktur dan kecelakaan. Jadi sebenarnya K3 bukan hanya safety.

Dalam Ilmu penerapannya K3 dibagi menjadi 5 bagian :

–          Safety

–          Hygine Industry

–          Ergonomic

–          Kesehatan Kerja

Narasumber coba menggambarkan K3 dalam organisasi dalam bentuk model di bawah ini:

  • Safety, konsep terapan ini adalah transfer energy, menurut narasumber konsep ini paling dipahami ketika kita menonton balapan motor GP.  Bagaimana ketika ada kecelakaan pada kecepatan di atas 200 km/jam si pengendara masih aman bahkan tidak cidera. Coba amati perubahan yang dilakukan untuk memastikan transfer energy bisa di redam? Mulai dari kualitas helmet pengemudi, baju pengemudi, roda motor bahkan sampai lintasan. Semuanya dibuat untuk meredam kecelakaan bila terjadi. Meredam energy yang terjadi ketika terjadi kecelakaan. Pertimbangan energy yang ditransfer menjadi acuan penilaian.

 

  • Hygiene Industry,  konsep dari terapan ini adalah paparan / exposure. Bagaimana mengelola exposure di suatu kegiatan sehingga aman bagi pekerja atau bagaimana membatasi exposure / paparan ke pekerja.  Contoh line produksi painting, paparan solvent (uap thinner dan cat) menjadi focus pengelolaan sistem K3. Bagaimana assessment akumulasi paparan hilang atau aman bagi pekerja. Pertimbangan jenis polutan, durasi dan konsentsrasi menjadi acuan penilaian pada penerapan K3 ini.

 

  • Ergonomic, konsep terapan K3 ini adalah output pekerjaan dengan melihat human factor, sederhananya dapat dikatakan kenyamanan pekerja untuk menghasilkan produktifitas yang optimal melalui desain tempat kerja. Pertimbangan kenyamanan dalam bekerja dan produktifitas  menjadi acuan penilaian.

 

  • ·         Kesehatan Kerja, konsep dari terapan K3 ini adalah proteksi dan promosi terhadap kesehatan dalam bekerja, misalkan asupan kalori setiap hari  atau vitamin dan zat lainnya yang dibutuhkan atau yang dibatasi sehingga pekerja tetap sehat atau mempunyai daya tahan yang baik.  Terapan K3 ini juga bersifat external.

Memperhatikan kesehatan pekerja di tempat tinggalnya juga. Contoh lain:

–          Promosi budaya cuci tangan sebelum makan

–          Promosi hidup sehat dengan sarapan pagi

–          Proteksi dari bahaya flu burung dengan hidup tanpa unggas

–          Proteksi penggunaan masker ketika di jalan raya

Dalam penerapannya tentu bahaya timbul bisa lebih dari satu atau bahkan sekaligus semuanya timbul dalam satu kegiatan. Tetapi mengapa action terhadap bahaya lebih heboh ketika ada injury (baca safety atau transfer energi) ?

Lalu bagaimana bila ada:

  • Expose solvent yang mengakibatkan beberapa karyawan yang lebih lama bekerja mengalami penyakit ginjal? Atau produktifitas rendah karena karyawan sering mengalami pusing-pusing.
  • Ada penyakit Diabetes Militus atau kelebihan berat badan pada beberapa pekerja akibat gaya makan yang berlebihan?
  • Gangguan saraf kejepit / sakit pinggang pada beberapa pekerja di office atau pekerja maintenance mold yang sering melakukan pengangkatan mold secara manual?

Seharusnya bidang K3 juga melihat hal-hal tersebut dengan melakukan penilaian resiko yang tepat lalu mengambil tindakan atau membuat program yang sesuai atau bahkan melakukan tindakan perbaikan bila kondisi seperti di atas sudah terjadi.

Berdasarkan pemaparan serta penjelasan diatas, sebenarnya unsur dalam K3 itu bukan semata-mata terletak pada unsur safetynya saja, akan tetapi ada beberpa unsur yang tentu tidak kalah penting yaitu unsur hygine industry, ergonomic, kesehatan kerja. Pada unsur hygine industry diterapkan sistem bagaimana mengelola exposure di suatu kegiatan sehingga aman bagi pekerja atau bagaimana membatasi exposure / paparan ke pekerja. Unsur selanjutnya yaitu unsur ergonomic yang juga memaparkan bahwa output pekerjaan seharusnya juga perlu melihat human factornya, sehingga dapat menimbulkan kenyamanan pekerja untuk menghasilkan produktifitas yang optimal melalui desain tempat kerja. Kenyamanan ini dijadikan sebagai pertimbangan dalam bekerja dan produktifitasnya sebagai acuan penilaian. Unsur yang terakhir yaitu kesehatan kerja yang berproteksi dan promosi terhadap kesehatan dalam bekerja, tahapan ini lebih memperlihatkan asupan kalori pekerja setiap harinya serta vitamin-vitamin dan zat-zat penting lainnya yang dibutuhkan oleh tubuh atau pun asupan-asupan, vitamin-vitamin serta zat-zat yang dibatasi sehingga pekerja akan tetap mampu menjaga kesehatannya dan mempunyai atau memiliki daya tahan tubuh yang amat sangat baik. Pada penerapan kesehatan kerja ini, tahapan yang dimaksud lebih bersifat external yang artinya dapat diperoleh dari lingkungan luar.

Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat saling berkaitan. Pekerja yang menderita gangguan kesehatan atau penyakit akibat kerja cenderung lebih mudah mengalami kecelakaan kerja. Menengok ke negara-negara maju, penanganan kesehatan pekerja sudah sangat serius. Mereka sangat menyadari bahwa kerugian ekonomi suatu perusahaan atau negara akibat suatu kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja sangat besar dan dapat ditekan dengan upaya-upaya di bidang kesehatan dan keselamatan kerja.

Bagi fasilitas pelayanan kesehatan yang sudah ada, rumah sakit pekerja akan menjadi pelengkap dan akan menjadi pusat rujukan khususnya untuk kasus-kasus kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Diharapkan di setiap kawasan industri akan berdiri rumah sakit pekerja sehingga hampir semua pekerja mempunyai akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang komprehensif. Setelah itu perlu adanya rumah sakit pekerja sebagai pusat rujukan nasional. Sudah barang tentu hal ini juga harus didukung dengan meluluskan spesialis kedokteran okupasi yang lebih banyak lagi. Kelemahan dan kekurangan dalam pendirian rumah sakit pekerja dapat diperbaiki kemudian dan jika ada penyimpangan dari misi utama berdirinya rumah sakit tersebut harus kita kritisi bersama.

Kecelakaan kerja adalah salah satu dari sekian banyak masalah di bidang keselamatan dan kesehatan kerja yang dapat menyebabkan kerugian jiwa dan materi. Salah satu upaya dalam perlindungan tenaga kerja adalah menyelenggarakan P3K di perusahaan sesuai dengan UU dan peraturan Pemerintah yang berlaku. Penyelenggaraan P3K untuk menanggulangi kecelakaan yang terjadi di tempat kerja. P3K yang dimaksud harus dikelola oleh tenaga kesehatan yang professional. Sebagai pemberi pelayanan yang berhubungan dengan bidang kesehatan dan keselamatan kerja maka mudah dipahami bahwa seseorang Ahli Kesehatan Kerja memerlukan etika tenaga kesehatan karena harus bekerja sama dengan bidang-bidang lain yaitu misalnya dokter, ahli higine perusahaan, ergonomi, psikolog, ahli gizi dan yang paling penting adalah tenaga kerja.

Fungsi seorang Ahli Kesehatan Kerja di perusahaan sebenarnya sangat bergantung pada kebijakan perusahaan dalam hal luasnya ruang lingkup upaya kesejahteraan dan keselamatan kerja. Posisi Ahli Kesehatan Kerja kesehatan kerja disini unik dan merupakan posisi Ahli Kesehatan Kerja seringkali lebih dekat dan lebih akrab dengan pekerja-pekerja dibandingkan dengan pihak manajemen perusahaan, etika tenaga kesehatan kerja yang didalamnya dikuti adanya kesadaran akan pilihan dari pihak manajemen, pihak tenaga kerja, dan dari masyarakat sekitar perusahaan.

Sumber penulisan dari internet :

Tentang k3tium

sehat dan bersemangat
Pos ini dipublikasikan di BuS1A12-EviDwiKristanti. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s