Harapan yang Tercapai di Umur 18 Tahun

Perkenalan

    Namaku Daru tri agustin saya lahirkan dari rahim seorang ibu yang bernama Sutini dan persalinan di bantu oleh seorang dukun desa bernama mbah Paisah tepatnya saat malam hari jam 7 pada tanggal 3 agustus 1994. Ayah saya bernama Sudarto dan saya memiliki dua saudara lagi yaitu seorang kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan. Selisih umur saya dengan  kakak laki-laki adalah tujuh tahun dan lima tahun dengan kakak perempuan saya. Kami tinggal di rumah yang sederhana yang beralamat di Dsn.Tumpuk, Ds.Besuki, Kec.Besuki, Kab.Tulungagung. Ayah saya hanya wiraswasta yang bekerja apa adanya dan ibu saya adalah seorang pegawai negeri yang mengajar di salah satu sekolah dasar di desa. Orang-orang di sekitar rumah saya banyak yang bekerja sebagai petani dan buruh petani. Saya dan keluarga menjaga kerukunan antara tetangga satu dan yang lainnya. Di desa saya juga sering diadakan kegiatan kerja bakti yang di lakukan oleh bapak-bapak,ibu-ibu dan anakpun juga membantu. Sejak balita saya cukup bahagia karena saya bisa menikmati hidup di antara orang-orang yang menyayangi saya. Bagi saya mereka selalu memperhatikan saya walaupun mereka sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Karena di pagi hari saat mereka bekerja saya di rawat oleh Alm.kakek saya yang selalu menemani saya saat bermain dan ayah saya juga memantau dari tempat kerjanya yang tidak jauh dari rumah. Dan saat siang mejelang ayah, ibu, dan kakak-kakak saya mulai bergantian pulang ke rumah. Di usia ini saya merasa hidup saya masih bebas  tanpa beban karena saya bisa bermain entah itu dengan teman sebaya ataupun kakak saya setelah dia pulang sekolah. Saya merasa bangga memiliki keluarga seperti mereka karena di tengah-tengah kesibukkan orang tua saya, kami masih bisa berkumpul bersama-sama di waktu mereka pulang kerja. Di keluarga saya didikannya memang keras untuk melatih kedisiplinan. Tapi saya dan kakak-kakak saya kadang malah mengabaikannya. Dan setelah beberapa tahun  ini  ayah saya sering sakit, jadi ibu saya bekerja keras untuk membantu ayah dan menghidupi kami. Dan  ibu saya tidak hanya mengajar di sekolah tempatnya bekerja tapi ibuku juga menjual makanan seperti gorengan, nasi bungkus, kolak, dan masih banyak lagi di kantin sekolah. Dari situlah situlah ibu saya mendapat penghasilan tambahan untuk membiayai pendidikan saya dan kakak-kakaksaya, karena ibu saya selalu menomorsatukan pedidikan untuk saya dan kakak-kakak saya.

Gambar
Rumah yang aku tempati dari lahir hingga dewasa.
Masa Taman Kanak-kanak..

    Di suatu saat pagi menjelang dan saya bertemu teman-teman sebaya yang kurasa masih terlihat asing. Dan itulah  Taman Kanak-kanak Darma Wanita yang dekat dengan tempat ibu saya bekerja. Saya mulai masuk pada usia 4,5 tahun. Saya masuk di usia sekian karena saya sering ikut di sekolah tempat ibu saya bekerja jadi daripada saya mengganggu, ibu saya memasukkan saya  di taman kanak-kanak tersebut untuk bermain sekaligus belajar. Bagi saya disini adalah rumah kedua. Di saat masuk sekolah saya hanya di beri uang saku Rp.100,00 walaupun berjumlah sedikit namun sangat berarti bagi saya untuk membeli makanan yang disediakan oleh guru, karena pada saat itu tidak boleh membeli jajan yang di luar kelas. Itu dilakukan untuk menghindari makanan yang kurang baik di konsumsi oleh anak-anak. Di Taman kanak-kanak guruku  juga memperhatikan kesehatan anak-anak, ini terbukti saat beberapa bulan sekali diadakan imunisasi dan pemberian vitamin.

Masa- masa sekolah dasar

    Saya masuk kelas 1 SD pada tahun 1999. Di sini saya merasa kurang nyaman karena siswanya yang terlalu banyak dan tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik, bahkan teman sebangku saya selalu mengganggu  saat mengerjakan tugas. Pada kenaikan kelas saya tidak naik karena nilai dan umur yang kurang. Akhirnya saya  mengulang kembali kelas satu. Di sini saya menemukan teman yang lebih cocok karena umur yang sama dan saya merasa aman karena suasan belajar yang mendukung. Dan saya juga memiliki seorang sahabat yang bermana Santi. Dia tinggal tidak jauh dari rumah ku. Kami selalu bersama kecuali saat berangkat sekolah. Di sekolah dasar ini saya tidak hanya menunutut ilmu tetapi juga membantu ibu untuk membawa beberapa makanan dan di jual di kantin sekolah. Dari sini ibu saya mengajari untuk bekerja keras dan mencari uang. Awalnya saya memang merasa malu untuk melakukannya, tetapi ibu saya selalu menasihati. Dan akhirnya dari rasa yang terpaksa menjadi sudah terbiasa, meskipun demikian ibu saya tidak pernah mengganggu jam belajar saya di rumah untuk membantu membuat dagangan yang akan di jual. Ini berjalan sampai saya berada di kelas tertinggi yaitu kelas enam dan harus memikirkan ujian nasional. Ibu saya tak pernah lelah untuk mengingatkan saya untuk tetap belajar. Dan ketika Ujian Nasional tiba, saya merasa ini adalah ujian yang sangat menakutkan. Hingga hari ketiga Ujian Nasional saya sakit dan muntah-muntah saat mengerjakan soal. Tapi saya masih bisa mengerjakannya meskipun dalam keadanan yang kurang sehat. Setelah ujian selesai saya dan teman-teman harus sabar untuk menunggu hasil ujian keluar. Di sela-sela menunggu jadwal hasil ujian keluar saya dan teman-teman masih masuk sekolah untuk menyelesaikan administrasi. Dan setelah beberapa minggu berlalu, hari pengumuman hasil ujianpun tiba. Saya dan teman-teman sudah tidak sabar untuk melihat siapa yang memiliki nilai tertinggi dari satu kelas. Tapi sebelum melihat hasil ujian, wali kelas saya sempat membuat panik. Karena beliau bilang kalau ada dua anak yang tidak lulus. Teman-teman satu kelaspun sempat kaget dan bingung. Dan setelah di perbolehkan melihat hasil ujian di papan pengumuman ternyata saya dan teman-teman saya lulus semua.dan nilai saya pun cukup memuaskan. Meskipun tidak masuk peringkat. Dan kami pun merayakannya dengan makan-makan bersama dengan mengundang orang tua untuk datang ke sekolah.

Jenjang Sekolah Menengah Pertama

    Setelah lulus dari pendidikan sekolah dasar saya melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu Sekolah Menengah Pertama yang tempatnya sedikit lebih jauh dari rumah, yang beralamat di DS. Welahan kec.besuki kab.tulungagung. Saya memilih di sekolah tersebut karena yang pertama tidak jauh dari rumah dan yang kedua adalah sistem pendidikannya cukup baik. Awal masuk sekolah saya merasa takut dan minder karena saya harus beradaptasi dengan teman-teman baru yang tidak saya kenal sama sekali kecuali teman SD dulu. Tapi dari waktu ke waktu saya mulai bisa untuk mengenal teman-teman baru yang akan menjadi saudara saya selama 3 tahun nanti. Setelah menjalani kebersamaan beberapa bulan saya menemukan sahabat sejati, meskipun hanya dua anak saja yang bernama Risma dan Ro’i.kami bertiga selalu bersama-sama saat di sekolah. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat sampai kami pun tak percaya kalau sudah naik di kelas IX. Dan harus memikirkan bagaimana menghadapi Ujian Nasional seperti yang pernah ada di sekolah dasar. Tetapi semakin dekat dengan Ujian Nasional semakin berkurang minat saya untuk belajar. Sampai hari Ujian Nasional di tiba saya merasa gugup karena saya kurang percaya diri apakah saya bisa mengerjakan soal dengan lancar. Tetapi dengan sedikit materi yang saya pelajari dan  keyakinan pasti lulus saya dapat mengerjakan soal-soal ujian. Dan ketika melihat hasil pengumuman saya sangat bahagia, karena tak ada satu teman yang tidak lulus.

Masa-masa Sekolah Menengah Atas

    Setelah masa sekolah menengah pertama berakhir saya sempat bingung untuk kemana lagi saya harus sekolah. Awalnya saya lebih memilih untuk melanjutkan ke SMK di jurusan tata busana. Tetapi karena tempatnya sangat jauh dari rumah ibu saya tidak mengizinkan untuk melanjutkan ke SMK. Dan akhirnya saya di daftarkan di SMA Negeri 1 Campurdarat yang berjarak 6 kilo meter dari rumah. Saya sangat ragu untuk masuk di sekolah ini karena nilai danun yang saya peroleh sangat pas-pasan. Tetapi setelah melihat pengumuman saya di terima di sekolah tersebut. Dan saya pun sempat menjalani sekolah hanya setengah-setengah karena saya tidak ada minat untuk masuk di SMA. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Dan saya harus berusaha untuk tetap semangat untuk menjalaninya. Pada saat di tengah-tengah perjalanan saya merasa jenuh dan tak ada semangat lagi untuk menjalani sekolah, yang saya lakukan hanya masuk sekolah, mengerjakan tugas dan sangat jarang untuk belajar di rumah. Apalagi saat kenaikan kelas XI. Di saat saya harus memilih antara dua jurusan yaitu jurusan IPA atau IPS. Saya sangat beminat di jurusan  IPS, tetapi saat saya minta pertimbangan dari ibu, ibu saya malah menyarankan untuk masuk di jurusan IPA saja. Dan ketika melihat rapot kenaikan kelas saya tidak menyangka kalau masuk di jurusan IPA. Keadan itu semakin membuat saya tidak ada semangat untuk sekolah. Dan saya pun melakukan hal yang saya seperti di kelas satu yang hanya sekolah dan megerjakan tugas saja. Tetapi dengan adanya teman baru yang selalu di acak setiap naik kelas, saya mencoba untuk akrab dan meminta bantuan jika ada kesulitan saat ada tugas. Di kelas XI ini saya merasa bahwa seorang teman melebihi bisa melebihi seorang saudara yang kita kenal. Kekompakan, kebersamaan, dan persaudaraan yang sangat terjaga membuat semangat saya bangkit dan saya yakin bisa melalui masa SMA ini dengan penuh pengalaman. Ketika kenaikan kelas XII kami selau berharap akan menjadi satu keluarga lagi, tapi saat pembagian kelas kami terpencar. Dan saya pun juga harus memulai beradaptasi kembali.kondisi seperti inilah yang sangat tidak saya sukai. Karena di saat saya sudah cocok dengan orang-orang disekitar, saya harus beradaptasi lagi. Tapi tidak mungkin juga jika saya harus menyendiri,saya pun mencoba unutk berkenalan anatara satu dangan yang lainnya. Awalnya saya merasa keadaan di kelas ini biasa-biasa saja tapi setelah cukup banyak kenalan saya baru menyadari bahwa orang-orang yang tidak saya sukai bisa menjadi saudara. Mulai dari keadaan kelas yang selalu berubah-ubah setiap tahunnya saya menyimpulkan bahwa orang-orang yang ada di sekitar kita entah yang belum kita kenal maupun yang kita benci jika sering akan menjadi saudara.  
Perjalanan masuk kuliah

    Beralin dari masa SMA, saya di sarankan ibu saya untuk melanjutkan di perguruan tinggi.saya pun sangat berminat untuk melanjutkan di perguruan tinggi negeri malang. Dan lagi-lagi ibu saya kurang setuju dengan pendapat saya. Karena tempatnya yang jauh dari pantauan orang tua. Tapi untuk kali ini saya ingin apa yang saya harapkan akan tercapai. Saya pun mecoba untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi melalui jalur SNMPTN. Saya mengambil tiga jurusan yaitu pendidikan tata busana, tekologi informatika di Universitas Negeri Malang dan ilmu gizi di Universitas Brawijaya, dan setelah melihat pengumuman, tidak ada satupun pilihan saya yang diterima. Tetapi saya tidak boleh putus semangat untuk mencoba jalan lain. Kota pelajar Yogyakarta pun menjadi pilihan saya selanjutnya.saya mendaftar di Universitas Negeri Yogya melalui jalur SMPDS dengan pilihan yang masih sama yaitu pendidikan tata busana. Saya benar-benar berharap untuk kali ini saya bisa diterima. Namun setelah beberapa hari menunggu pengumuman  Tuhan masih belum memberikan jalan untuk masuk di perguruan tinggi. Saya tidak diterima di universitas negeri yogyakarta. Dan harapan saya yang terakhir hanya satu, mengikuti seleksi masuk jalur SMPDS di Universitas Negeri Malang. Disini saya tetap memilih jurusan pendidikan tata busana. Karena saya ingin keinginan yang tertunda untuk masuk di SMK jurusan tata busana bisa tercapai di pergruan tinggi. Saya tidak ingin menbuang kesempatan untuk terakhir kalinya. Saya pun berusaha keras belajar dari soal-soal yang pernah saya kerjakan waktu seleksi sebelumnya. Ketika mengerjakan soal-soal dari jalur SMPDS saya merasa lebih mudah dan ketika ujian praktik pun berjalan dengan lancar. Dan ketika melihat pengumuman nama saya tercantum di kolom penerimaan. Sungguh pejuangan yang tidak sia-sia dan menurut saya itu adalah kado terindah karena tanggal penerimaannya dekat dengan tanggal lahir saya.  Dan itu belum pernah saya rasakan sebelumnya. Setelah itu saya melakukan registrasi dan mengikuti  PKPT sesuai yang ditentukan. Saat mengikuti kegiatn PKPT banyak sekali atribut  yang harus di bawa. Dan itu sangat sulit bagi saya untuk memperolehnya, karena saya tidak tahu harus dimana saya mendapatkan. Tetapi saat saya berjalan, saya bertemu seseorang yang mau membantu mencari bahan untuk kelengkapan PKPT. Selama mengikuti kegiatan tersebut anak-anak MABA dituntut untuk tertib dan disiplin. Yang saya peroleh dari mengikuti kegiatan PKPT adalah saya dapat mengetahui bagaimana kehidupan seorang mahasiswa saat berada di perguruan tinggi. Saat masuk pertama kuliah saya masih belum percaya bahwa saya bisa duduk di bangku kuliah. Bagi saya apa yang terjadi satu minggu pertama kuliah masih seperti mimpi. Dan saya harus menjalani mimpi ini untuk merubah menjadi sebuah kenyataan dengan belajar dari setiap  ilmu yang saya peroleh dari setiap dosen sesuai dengan bidangnya masing-masing. Melalui saya dapat mewujudkan impian dan cita-cita yang saya harapkan. 

Tentang k3tium

sehat dan bersemangat
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Dwi Astuti Sih Apsari. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s