Tugas 1 Lingkungan Sekitarku

18 Tahun Warna-Warni lingkungan hidupku
Kelahiranku
Kediri, tanggal 18 Januari 1994, sekitar pukul 4 pagi, hujan rintik-rintik membasahi wilayah tersebut, di sebuah klinik bidan, di depan salah satu kamar bersalin, terlihat seorang pria  yang tengah menunggui istrinya melahirkan dengan wajah cemas, khawatir dan gelisah, agaknya ia tengah menanti anak pertamanya. Tak lama terdengar suara tangisan bayi dari dalam kamar tersebut, dan sang bidanpun mengabarkan bahwa anak pertama pasangan tersebut berjenis kelamin perempuan, tak disangka pria yang setia menunggui sang istri sedari tadi langsung lemas, dan pingsan, saat mengetahui anak pertamanya telah lahir. Demikianlah kisah kelahiranku, yang sering diceritakan oleh ibuku, dan tentu saja pria yang ada dalam cerita tadi adalah ayahku, sangat menyenangkan ketika mendengar cerita kelahiranku dari perspektif ibu, karena ada cerita lucu disitu, beda dengan perspektif ayah (pasti sudah bisa ditebak bagian mana itu). Dari situ sudah dapat dipastikan aku adalah anak pertama dari orang tuaku, selain itu aku juga merangkap sekaligus sebagai cucu pertama dalam keluarga ayahku. Dan seperti yang telah di ketahui, karena aku cucu pertama dari keluarga pihak ayah, aku merupakan cucu yang paling dinanti oleh kakek dan nenek dari pihak ayah. Sedari bayi, nenekku sendiri yang membantu ibuku dalam merawatku, sepertiya beliau tidak rela membiarkan orang lain merawatku, tetapi karena tuntutan kehidupan alias pekerjaannya sebagai pemilik sekaligus koki di warungnya tidak bisa terlalu lama ditinggalkan, seminggu setelah kelahiranku, beliau kembali ke rumahnya di Sidoarjo. Dan tentu saja seperti tidak rela meninggalkanku mereka (kakek-nenekku) selalu mengunjungiku seminggu sekali. Disisi lain, ayahku selalu memberikan yang terbaik untukku, beliau sangat memperhatikan kebersihan dan kesehatanku, seperti membelikan alat-alat serta barang-barang kebersihan lengkap untuk bayi, dan melepasi label-label yang ada pada pakaian bayi yang akan kukenakan agar tidak terkena iritasi. Demikian halnya dengan ibu yang dengan lembut merawatku juga, serta sangat memperhatikan giziku dengan memberikan ASI eksklusif, dengan tidak lupa mengkonsumsi makanan yang bergizi 4 sehat 5 sempurna dan nutrisi lain yang ibu menyusui butuhkan. Begitulah kisah kelahiranku, dan aku bersyukur memiliki keluarga seperti mereka. Masyarakat di lingingkunganku pun sangat mudah mengenaliku, karena nama yang diberikan oleh ayahku juga karena aku anak pertama dari orang tuaku, dan cucu perempuan pertama di keluarga nenek-kakekku di Kediri. Karena orang tua ku tinggal bersama orang tua ibuku di Kediri.
Masa Balita
Saat balita aku sangat sering pulang-pergi dari Kediri-Sidoarjo, mungkin memang kurang sehat, tetapi karena tuntutan pekerjaan ayahku, dan karena nenek-kakekku di Sidoarjo sering merindukanku, hal ini seperti hal yang harus aku lakukan, sehingga aku sangat terbiasa bepergian jauh, terutama dengan kereta dan bus.
Dalam lain hal, pada usia ini kebetulan ayahku membangun rumah (tapi belum jadi sampai sekarang) di Kediri, tempatnya tidak jauh dari rumah kakek-nenekku, sehingga aku dan ibuku sering mengirimkan makan siang untuk para pekerja di rumah itu. Suatu siang aku dibonceng naik sepeda oleh ibuku ke rumah tersebut, sebelumnya aku sudah dinasehati ibuku untuk menggunakan sandal dan mbegagah pada saat dibonceng, tetapi karena aku ndableg dan tidak mau mendengarkan ibu, aku tidak melakukan yang ibu katakan, hingga pada akhirnya dalam perjalanan tumitku terjepit jari-jari sepeda dan jatuh seketika, dan aku menangis sekencang-kencangnya saat itu juga. Ibu pun panik, menjatuhkan sepeda, dan langsung menggendongku serta menuntun kembali sepeda untuk pulang. Karena kejadian itu aku juga langsung terserang panas, mungkin akibat kaget dan shock karena kejadian tersebut. Tetapi syukurlah tidak sampai masuk rumah sakit, karena orang tuaku mengandalkan pengobatan dengan cara tradisional, dari nenek, sehingga aku sembuh dengan cara alami.
Saat usia 3 tahun aku memasuki bangku taman kanak-kanak, sehingga aku termasuk yang paling kecil di dalam kelas, karena itu juga di taman kanak-kanak yang berada di lingkunganku, aku menjadi salah satu anak yang menonjol, terutama ketika aku sudah bisa membaca saat berusia 4 tahun.
Saat usia 4 tahun ini pula adikku perempuan lahir, dan tak lama kemudian sekitar 16 bulan kemudian, hingga aku dapat naik kelas dan masuk Madrasah Ibtidaiyah (setara SD) pada usia 5 tahun, adikku laki-laki lahir, sehingga aku memiliki 2 adik, pada usia 5 tahun. Yang pada saat itu aku hanya bisa gemas melihat adikku tanpa bisa membantu merawat, karena pasti malah dimarahi oleh ibu.
Masa Kanak-kanak
Aku masuk Madrasah Ibtidaiyah kelas satu saat usiaku baru sekitar 5 tahun, aku termasuk yang paling kecil di kelasku, aku melalui masa ini dengan cukup keras, karena aku pernah ketahuan mendapat nilai nol pada pelajaran matematika oleh ayahku, sehingga setiap ayahku pulang saat aku belajar, beliau sudah menyiapkan sebatang kemoceng, yang entah digunakan untuk apa, tapi karena aku sudah takut dulu dengan berbagai anggapan burukku tentang kemoceng, aku belajar sambil menangis, juga ketika ayah tahu tulisan tanganku tidak begitu bagus, setiap hari aku disuruh menyalin koran dengan tulisan tangan ke dalam buku tulis, untuk melatih agar tulisanku bagus, sangat melelahkan, sehingga aku selalu menangis saat lelah di tengah-tengah mengerjakan tugas dari ayah yang cukup banyak menguras tenaga itu. Tetapi berkat hal ini, setelah beberapa lembar koran selesai kukerjakan, tulisan tanganku menjadi lebih bagus dari pada sebelumnya. Dari sini aku mengerti walaupun ayahku memang keras dalam mendidikku (tanpa kekerasan fisik), tetapi hal tersebut untuk kebaikanku juga.
Saat aku masih kelas 2 MI ayah mulai membuat kolam untuk berternak ikan, ayah memilih ikan lele untuk berternak, dalam membuat kolam, ayah hanya menggunakan cangkul, tanpa menggunakan alat pengaman apapun, karena menurutnya hal itu tidak perlu, sehingga, tidak jarang aku melihat ayah terluka saat mencangkul, tetapi untung saja di rumahkuu terdapat kotak P3K yang cukup lengkap untuk menanggulangi kecelakaan-kecelakaan yang mungkin saja terjadi. Seperti saat aku tidak mengenakan sandal saat bermain di luar, karena di lingkunganku masih belum di aspal, dan anak-anak pada saat itu masih bermain permainan tradisional sehingga mengharuskan anak-anak melepaskan sandalnya, kalau tidak ingin sandalnya putus saat bermain, sehingga apabila menginjak beling atau duri, juga saat aku tidak sengaja tersandung, P3K sudah tersedia untuk menanggulangi insiden-insiden kecil seperti itu. Tetapi tetap saja hal ini menurutku memang kurang benar.
Saat kolam sudah jadi dan digunakan untuk berternak ikan lele, aku sering membantu ayahku untuk menguras kolam, dan tentu saja tanpa alat pengaman khusus, hanya menggunakan peralatan seadanya, dan walhasil, hal tersebut menyebabkan aku sering terjatuh, karena dasar kolam yang licin, sehingga kakiku, pantatku sering menjadi korban keterpelesetanku.
Tapi hal yang paling menyenangkan adalah saat selesai menguras aku bisa berenang sebentar, bermain-main dengan air bersama adik sepupuku laki-laki yang juga tinggal bersama dalam satu rumah, yang lebih tua dariku 3 tahun.
Karena rumahku dekat dengan pepohonan yang lebat, ayahku sering menangkap ular, dan dijinakkan oleh ayah, sehingga kemudian aku jadikan peliharaan bersama adik-adikku.
Berbeda dengan di rumah Kediri, di rumah nenekku di Sidoarjo yang sering aku kunjungi saat liburan, adalah pemukiman padat penduduk.
Saat sudah masuk MI dan tak bisa seenak sendiri absen, jadi aku hanya mengunjungi nenekku saat liburan saja. Aku sering membantu beliau untuk mencuci piring bekas pelanggan yang membeli di warung nenekku, karena tidak menggunakan sarung tangan karet untuk mengamankan tangan dari seringnya terkena air, sehingga tanganku menjadi mengkerut ketika terlalu lama mencuci piring. Sehingga aku membawa sarung tangan karet sendiri dari Kediri agar tidak merepotkan nenekku.
Di Sidoarjo, aku mempunyai adik sepupu perempuan, anak dari adik perempuan ayahku, dan dia yang memperkenalkan aku pada semua teman di Sidoarjo. Di Sidoarjo sendiri lingkungan masyarakatnya sangat kekeluargaan, saat ada salah satu warga yang kesulitan, semua tanggap untuk menolong. Tetapi terdapat kelemahan di Sidoarjo sendiri, yakni kurangnya perhatian terhadap kebersihan lingkungan, terutama di sungai yang didekat dengan pemukiman, sehingga pada akhirnya menyebabkan seringnya terjadinya penyakit seperti diare, muntaber, dan penyakit yang disebabkan oleh kuman yang lain yang menyerang warga, terutama yang berada di sekitar sungai.
Saat aku kelas 4 MI, ayahku mengundurkan diri dari pekerjaan yang beliau geluti, karena beliau merasa pekerjaan tersebut lebih banyak haram dari pada halalnya, sehingga otomatis usaha berternak ikanlah yang jadi andalan saat itu. Mulai dari sini aku tidak boleh bermanja-manja, ayahku mendidikku menjadi anak yang mandiri, akhirnya aku pun ikut membantu menjual ikan hias pada teman-teman yang ada di lingkunganku, serta ikut mempromosikan ikan hias yang ayah pelihara di kolam. Tapi pada akhirnya ayahku mulai jengah dengan keadaan yang tidak pasti, sehingga beliau mencari pekerjaan yang baru yakni menjadi sopir ekspedisi pengiriman, ke kota-kota lain.
Hal ini berlangsung sampai aku SMP.
Masa SMP
Saat masuk SMP usiaku baru menginjak 11 tahun, dengan nilai kelulusan yang cukup baik, aku berhasil masuk SMP Negeri yang cukup favorit di daerahku. Walaupun keadaan keluargaku pada saat itu tidak dapat di kategorikan sebagai keluarga yang mampu, tetapi setidaknya aku bisa memberikan senyuman untuk mereka. Terutama saat aku mendapatkan beasiswa dari sekolah, sehingga setidaknya aku mampu mengurangi beban mereka.
Untuk membantu mengurangi biaya, aku naik sepeda 10km tiap hari, agar tidak naik angkot dan menambah biaya, untuk menjaga gizi aku juga selalu membawa bekal dari rumah, agar irit dan gizi tetap terjaga, ibu pun selalu membuatkanku masakan yang sehat setiap pagi-pagi buta, karena aku harus berangkat pagi-pagi agar tidak terlambat, karena jarak yang lumayan jauh. Aku berangkat bersama teman-temanku setiap hari.
Pada masa ini, waktuku banyak tersita di sekolah, karena aku mengikuti ekstrakulikuler PMR, yang bahkan juga ada setiap hari Minggu.
Karena mengikuti ekstrakulikuler ini juga aku menjadi petugas kesehtan yang berjaga setiap upacara hari Senin, dengan mengikuti ekstrakulikuler ini aku menjadi lebih tahu mengenai kesehatan, terutama perawatan-perawatan sederhana yang mudah dilakukan untuk merawat orang lain yang sakit.
PMR juga mengubah kebiasaan-kebiasaan burukku saat sakit. Aku juga dapat membantu keluargaku yang sedang sakit.
Karena aku mendapatkan beasiswa ini menyebabkan aku harus terus berusaha membuat nilaiku konstan dan menjaga kesehatan dengan baik agar tidak sering absen. Namun ketidak beruntungan menimpaku pada saat kelas 9 SMP. Pada saat pulang sekolah aku mengalami kecelakaan, dan mengalami luka yang cukup parah, terutama karena aku naik sepeda dan ditabrak motor, aku tidak terlalu ingat bagaimana kronologi kecelakaan itu terjadi, karena aku langsung pingsan di tempat saat itu juga. Sedikit beruntung karena TKP eku kecelakaa itu dekat dari rumah, sehingga warga langsung memberi tahu keluargaku, dan  keluargaku pun langsung datang. Terlepas dari apakah orang yang menabrakku tersebut bertanggung jawab atau tidak, ibuku langsung memanggil tukang pijet agar kakiku tidak sakit, aku tidak dibawa ke rumah sakit atau puskesmas, tetapi diobati dengan obat-obatan alami saja. Dengan keadaan sulit berjalan, menyebabkan aku tidak masuk sekolah beberapa hari, dan beristirahat di rumah. 3 hari kemudian, tepat pada hari Senin, aku tidak dapat berdiri terlalu lama untuk mengikuti upacara, karena keadaan kakiku sehingga aku hanya menunggu upacara selesai di dalam kelas, sendirian.
Beruntung hal ini tidak berlangsung lama, sehingga aku bisa mengikuti pelajaran, dan upacara normal seperti biasa, walau terkadang kakiku masih sedikit sakit, sampai sekarang.
Masa SMA-Kuliah
Saat SMA, aku mengikuti berbagai ekstrakulikuler, seperti PMR, TEATER, dan Pecinta Alam. Hal ini menyebabkan aku mudah dikenali di lingkungan sekolah. Terutama saat aku mengikuti OSIS. Harus naik angkutan, karena jarak yang tidak memugkinkan jika aku naik sepeda, tetapi tetap aku setiap hari membawa bekal yang disediakan oleh ibu.
Saat SMA juga aku mengikuti JUMBARA yakni perlombaan PMR yang diadakan 2 tahun sekali, dan aku bersama tim PMR SMA ku mewakili sekolah, dan kami sangat bersyukur karena mendapat juara umum pertama se wilayah kabupaten Kediri.
Tetapi karena suatu penyakit yang tidak dapat aku katakan, daya tahan tubuhku terganggu, dan menyebabkan aku sering absen, dan tidak dapat mengikuti pelajaran. Sehingga aku juga sedikit demi sedikit mundur dari berbagai kegiatan ekstrakulikuler yang aku ikuti, hal tersebut juga berdasarkan himbauan dari orang tuaku.
Saat aku sakit, aku jarang minum obat, melainkan minum jamu, pernah dalam satu bulan penuh aku harus meminum jenis jamu yang sangat pahit setiap hari untuk mengurangi stadium penyakitku. Dan pada akhirnya hal itu memang bekerja.
Sampai aku lulus, aku tidak langsung kuliah melainkan bekerja terlebih dulu di bidang busana, setahun kemudian aku mencoba mengikuti SNMPTN untuk masuk di Universitas Negeri Malang di Prodi S1 Tata Busana, dan Alhamdulillah, aku lulus dalam ujian tersebut. Hingga sekarang aku masih terus berjuang untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya di Universitas Negeri Malang.

echa1echa2 echa3 echa4 echa5 echa Line0988 Line0989 Line0990 Line0992 Line0993 Line0994 Line0996

Tentang k3tium

sehat dan bersemangat
Pos ini dipublikasikan di BuS1A12-ErzhaRozhalinaShofiuyun, Dwi Astuti Sih Apsari. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s