Tugas-1 lingkungan sekitarku

tugas1-lingkungan fenty hullatuts tsaniyah

Catatan akhir 18 tahun

25 juli 1994, saat hari tengah menginjak  senja. Suara tangis bayi memecah keheningan dikediaman keluarga ibu sa’diyah, tepatnya didesa tunjung mekar, kecamatan kalitengah, kabupaten lamongan. Perlahan bidan mengucapkan kepada sang ibu “bayinya perempuan ibu.!!”. ibu sa’diyah hanya menangis bahagia saat mendengar itu.

Kehidupanku dicatatan akhir 18 tahun

Namaku fenty hullatuts tsaniyah, aku lahir tepat pada tanggal 25 juli 1994 dengan selamat. Begitu juga ibuku yang melahirkanku. Proses persalinan pun dijalani ibuku dengan  penuh harap menantikan kelahiranku. Aku anak kedua dari dua bersaudara, kakakku selisih dua tahun denganku. Ibu memang sangat senang dengan adanya aku sebagai bayi perempuannya. Karena kakakku itu laki-laki, dengan begitu ibu mempunyai dua pelengkap dalam hidupnya

Masa kanak-kanak

Masa balitaku tidak jauh berbeda dengan masa balita anak-anak lain, hanya saja saat aku bayi aku sering sakit. Itu yang dikatakan menurut ibu. Sebelum umurku menginjak 40 hari setelah dilahirkan aku sudah menderita sakit batuk dan pilek yang berkelanjutan. Didesaku mitos tentang seorang anak bayi yang sakit sebelum umurnya 40 hari maka sampai dewasa ia akan sakit-sakitan. Mitos itupun dipercaya oleh keluargaku dan hingga sekarang memang benar adanya mitos itu. Aku selalu sakit-sakitan.

 Foto-0158

Umur 3 bulan, bersama dengan ibu

Ibu yang memang perduli dengan anak-anaknya sangat mengkhawatirkan aku. Beliau memang benar-benar menjagaku dengan cara memberiku asupan gizi yang cukup. Ibupun menbuat lingkungan disekirku selalu bersih, menurut ibu lingkungan yang kotor itu sarang penyakit. Banyak kuman yang akan tinggal di tempat yang kotor. Memang benar apa yang dikatakan ibu, walaupun sakit selalu menyerangku tapi itu tidak sesering saat ketika aku masih kecil.

Saat aku berumur 5 tahun aku mulai mengerti tentang arti kebersihan. Yang aku pikir saat itu, kotor itu membuat penyakit, jadi saat TK apabila ada temanku yang tidak rapi dalam penampilannya, aku menganggap anak itu sakit, walau pada nyataya dia baik-baik saja.

 Foto-0146

Gambar ini saat aku masih TK

Saat TK ini ibu benar-benar membuatku mengerti apa itu kebersihan. Ibu mengajariku secara langsung. Misalnya saja ibu mengajariku untuk tidak membawa masuk sepatu kedalam rumah atau melepas alas kaki saat memasuki rumah. Ataupun menaruh sesuatu pada tempatnya agar rumah menjadi rapi dan barang-barang tidak berserakan. Saat pulang sekolahpun ibu selalu menyuruhku melepas baju sebelum aku bermain dengan teman-temanku. Dan tahukah kamu apa yang membuatku melakukan semua aturan yang diberikan ibu walau terkadang aku tidak mau melakukannya. Karena apabila aku tidak mau melakukannya ibu akan marah besar padaku, bahkan ibu tidak akan memberikan aku uang saku. Tapi dengan ancaman seperti itu aku menjadi terbiasa menerapkan semua aturan yang diberikan ibu kepadaku. Paksaan itu membuatku mengerti bahwa itu semua demi aku dan demi kesehatan keluargaku. Bukan hanya aku yang harus menerapkan aturan ibu, dimana aku memang selalu sakit-sakitan. Tapi semua orang yang berada dirumahku, dengan begitu semuanya ikut membantu dalam penerapan kesehatan dirumah.

Masa kanak-kanak akhir

Masa kanak-kanak akhir adalah masa saat usiaku 5 sampai 12 tahun. Untuk 2 tahun pertama, yakni antara umur 5 sampai 6 tahun aku habiskan waktuku ditaman kanak-kanak yang tak jauh dari rumah. Yaitu taman kanak-kanak mekarsari. Kemudian aku melanjutkannya pada jenjang tingkat sekolah dasar, yang kembali aku melanjutkanya didesa. Sekolah ini bernama sekolah dasar tunjung mekar.

Pada masa ini aku mempelajari dua hal, kembali tentang pentingnya kebersihan dan satu lagi yaitu tentang keselamatan. Mengapa demikian. Pada saat aku tingkat  sekolah dasar ibu mempunyai sebuah usaha toko baju. -Toko baju ini saat aku menginjak sekolah dasar tidak begitu besar tapi lama-kelamaan baru lumayan besar. Di took ini ibu hanya memperkerjakan seorang pegawai, pegawai ini mempunyai tugas membantu ibu di Toko dan membantu pekerjaan rumah. Yaitu mencuci dan menyetrika baju keluarga. Pegawai ibu ini tidak pernah pegawai tetap, terkadang hanya dua sampai tiga tahun. Tapi pada dasarnya pegawai ibu orangnya sama saja. Missal tahun ini sampai dua tahun kemudian pegawai A, seterusnya akan diganti pegawai B, lalu pegawai C. lalu biasanya kembali lagi ke pegawai B atau A. dan begitu seterusnya.

Aku selalu memanggil pegawai ibu ini dengan sapaan “mbak”. Saat aku masih usia kanak-kanak pegawai ibu ini juga mempunyai tugas menjaga dan merawatku. Tapi saat aku beranjak masa kanak-kanak akhir pegawai ibu sudah tidak lagi mempunyai tugas itu karena saya sudah menginjak sekolah tingkat sekolah dasar.

Saat masih tingkat sekolah dasar ini kebersihan dan kesehatanku semakin dijaga oleh ibu. Bahkan sampai saat sekolah dasar ibu masih menyiapkan baju yang aku pakai, walau itu hari libur ibu tetap menyiapkan baju yang akan aku pakai. Ibu paling tidak suka saat aku menyiapkan bajuku sendiri karena selalu belum aku setrika, menurut ibu itu kurang rapi. Saat sekolah dasar ini sedikit demi sedikit aku mulai membangkang apa aturan ibu. Aku tidak serapi dan sebersih dulu, terkadang saat hari libur aku tidak mandi pagi, itu membuat ibu semakin kesal padaku. Hasil dari tidak menuruti perintah ibu itu aku sering terserang sakit, mulai dari pilek terus-terusan hingga demam. Pernah aku mengidap gejala demam berdarah, itu yang membuatku kembali mematuhi peraturan ibu, tapi tidak selalu. Terkadang aku mulai membangkangnya. Misalnya saja mandi soreku telat.

Ibu memang selalu perhatian padaku, ditambah lagi saat sekolah dasar aku didiagnosis dokter kenalan ibu nbahwa aku tidak boleh terlalu capek, karena akan membuat hidungku mengeluarkan darah atau bisa disebut dengan mimisan. Membuat ibu semakin khawatir dengan kondisi tubuhku. Akhirnya ibu seklalu membawaku kedokter sesering mungkin untuk mengecek sakitku itu. Walau terkadang aku memang malas untuk pergi kerumah sakit. Saat mengidap sakit itu, ibu semakin menjagaku. Mulai dari aku tidak boleh terlalu capek hingga aku tidurpun sudah terjadwal. Pukul 9 malam aku sudah harus tidur.

Dari perhatian ibu tersebut sakitku tidak sering kambuh, hanya saja kalau aku terlalu capek maka sakit itu akan kembali.  Tapi dengan sakit seperti itu ibu mengajariku untuk tidak terlalu bergantung pada obat-obatan. Aku memang mengkonsumsi obat tapi ibu meminta dokter untuk mengirangi dosisnya. Ibu takut bahwa obat-obat itu akan semakin membuat daya tahanku menurun. Ibu pun tidak asal-asalan dalam membarikanku obat-obatan. Misalnya saja ketika aku sakit demam, ibu lebih memilihku untuk membawa ke dokter daripada aku dibelikan obat dari took-toko. Ibu lebih percaya pada obat yang diberikan dokter daripada obat yang ada pada toko-toko, ibu mengerti bahwa obat itu tidak cocok bagiku. Bukan hanya aku, ibu juga menerapkan hal seperti itu pada kakakku. Jadi sampai saat ini aku dan kakak belum sama sekali mengkonsumsi obat toko.

Untuk penerapan K3 selanjutnya adalah tentang tata cara pekerjaan pegawai ibu. Tentang bagaimana ibu mengatur pegawainya dalam bekerja.

Aku dari kecil memang hidup di lingkungan wirausaha. Semua saudara kandung ibu membuka lahan usaha. Mulai dari anak nenek yang pertama yang membuka toko material atau banguna, anak kedua yang membuka toko barang rumah tangga, anak ketika yang membuka toko untuk keperluan rumah atau bumbu-bumbu masak, anak kelima yaitu ibu yang membuka toko sandang pangan dan anak ke enam sekaligus terakhir yang membuka toko aksesoris dan peralatan bayi. Anak nomor empat dari nenek tidak membuka laha usaha sendiri, beliau mengajar pada salah satu madrasah tsanawiyah negeri di gresik.

Usaha yang paling besar saat ini adalah kepunyaan kakak ibu yang nomor satu yaitu toko material itu bisa dihitung dari jumlah pegawai yang dimiliki beliau dan banyaknya barang serta luas tokonya. Dibandingkan dengan milik ibu saat ini lumayan jauh. Tapi walau hanya dengan membuka usaha sandang ibu sudah bisa membiayai aku dan kakakku hingga ke jenjang mahasiswa. Aku yang berada di universitas negeri malang dan kakakku yang berada di institut sepuluh November negeri surabaya atau bisa disingkat dengan ITS  negeri Surabaya.

Para pegawai ibu sangat rajin bekerja, mereka selalu menuruti apa yang diperintah oleh ibu. Jam kerja pegawai ibu dihitung mulai dari jam 7 sampai jam 11 siang dan setiap hari, Itu untuk membuka toko. Kemudian dilanjutkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, yaitu mencuci dan menyetrika. Untuk pekerjaan rumah ini tidak selalu dikerjakan setiap hari. Misalnya kalau hari ini ada baju yang harus disetrika tapi tidak ada baju yang dicuci maka pegawai ibu akan menyetrika saja, atau kebalikannya. Tapi terkadang dalam seminggu ada 2 hari kosong dimana baju yang harus disetrika atau yang dicuci tidak banyak sehingga ibu memperbolehkan pegawainya untuk pulang lebih awal.

Untuk gaji sendiri ibu membayar dengan upah tiga ratus ribu rupiah, tapi itu untuk upah bersih, biasanya ibu memberikan upah lagi. Yaitu upah untuk makan siang dan makan pagi. Walau terkadang pegawainya pulang lebih awal, tapi ibu tetap memberikan jatah upah untuk makan pagi dan siang. Untuk gaji bersihnya sendiri ibu juga tetap memberikan sejumlah tiga ratus ribu rupiah, kembali lagi walau terkadang pegawainya pulang lebih awal karena tidak ada pekerjaan rumah yang harus dikerjakan.

Terkadang saat hari raya tiba ibu juga memberikan parcel kepada pegawainya. Untuk bulan romadhon sendiri, gaji dibedakan. Biasanya untuk bulan-bulan lain yang gajinya tiga ratus ribu rupiah, untuk romadhon gaji dinaikkan ibu menjadi lima ratus ribu rupiah. Ibu berpendapat kalau bulan romadhon itu membutuhkan tenaga yang banyak. Karena keadaan pasar saat itu memang ramai, harga jual tinggi. Dikarenakan orang –orang yang menginginkan baju baru saat hari raya. Saat bulan romadhon itu pendapatan ibu memang tinggi dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Saat bulan ini ibu tidak hanya memperkerjakan satu orang pegawai, tapi 2 orang pegawai. Menurut ibu apabila pegawainya hanya satu, ditakutkan tidak bisa menghadapi para pembeli yang membeludak. Terkadang sendiri ibu merasa kewalahan dalam menghadapi para pembeli, menurut ibu saat bulan romadhon itu banyak dari dagangan ibu yang hilang. Itu karena banyaknya pembeli senhingga ibu dan para pegawainya tidak bisa mengawasi para pembeli. Mana pembeli yang berniat untuk membeli dan mana pembeli yang berniat hanya untuk mengambil barang tanpa harus membayar. Baru setelah toko akan tutup ibu akan mengetahui barang apa saja yang tidak ada, dan adanya barang yang kurang.

Terkadang pegawai ibu juga diberikan cuti, missal hari besar. Tapi untuk hari libur biasa ibu tetap, membuka toko. Terkadang pegawainya ada acara hajatan atau misalnya ada acara lain, biasanya ibu memberikan kelonggaran. Beliau memberikan waktu untuk pulang lebih awal, antara jam 8 sampai 9, dan akhirnya ibu harus berjualan sendiri. Yang aku pikirkan sampai saat ini ibu tidak pernah menutup tokonya untuk alasan apapun. Yang aku tahu dalam setahun ibu hanya mempunyai dua kemungkinan tokonya tutup, yaitu saat hari raya idul fitri dan hari raya idul adha. Itupun hanya satu hari. Biasanya untuk hari jum’at sendiri ibu tutup lebih awal. Walau ada acara hajatan keluarga ibu tetap membuka tokonya dengan catatan tutup lebih awal, apabila ada acara keluarga biasanya ibu pulang terlebih dahulu daripada pegawainya. Ibu biasanya pulang sekitar jam setengah sepuluh, tetapi ibu berpesan kepada pegawainya untuk membuka toko sampai jam sebelas siang seperti biasanya.

Masa remaja

Dimasa remaja ini ibu tetap khawatir padaku. Saat masa remaja itu umurku menginjak 13 tahun. Pada umur tiga belas itu aku mulai memasuki sekolah menengah keatas.

Ibu mengirimku ke pondok gontor untuk aku belajar agam lebih dalam. Pondok ini terletak di ngawi, sekitar kurang lebih lima jam perjalanan dari lamongan ke ngawi. Ibu lebih khawatir dari sebelumnya, karena jarak antara ibu denganku semakin jauh. Dimata ibu aku hanya anak kecil polos yang tidak tahu apa-apa. Pada akhirnya ibu hanya mengkhawatirkan kesehatanku, ibu takut aku disana semakin sakit-sakitan. Tapi harus bagaimana lagi, ibu harus tega karena ini demi kebaikanku. Tapi memang benar disana aku sering sakit-sakitan, ibu pun selalu menelponku setiap hari dan menanyakan bagaimana kesehatanku.

Tapi ternyata aku tidak bertahan lama di pondok gontor, saat kenaikan kelas tiga ibu menyuruhku pindah. Aku dipindahkan di madrasah tsanawiyah putra-putri lamongan, dengan catatan aku tetap mondok. Pondokku saat itu adalah pondok Al-ma’ruf.

Begitu aku dipindahkan di lamongan ibu tidak terlalu khawatir padaku karena jarak ke lamongan kota dank e desaku hanya di tempuh setngah jam, itupun paling cepat, lambatnya sekitar 45 menit. Apabila aku sakit ibu selalu menjengukku ke pondok dan mengajak aku pulang untuk diobati dirumah saja. Dengan begitu ibu lebih tenang untuk mengawasiku. Menurut ibu daripada aku sakit dipondok, pada akhirnya tidak aka nada yang merawatku. Berbeda dengan dirumah, dimana semua kebutuhan bisa aku dapatkan dengan mudah.

Setelah satu tahun di madrasah tsanawiyah aku melanjutkan studiku ke madrasah aliyah negeri lamongan. Barulah aku melanjutkan studi ke jenjang mahasiswa di universitas negeri lamongan.

DSC03068

Bersama dengan teman, memakai seragam Madrasah Aliyah Negeri Lamongan

Masa dewasa

Menginjak masa dewasa ini aku sudah menginjak kuliah disalah satu universitas negeri di malang, yakni universitas negeri malang. Saat ini ibu pun masih mengkhawatirkanku, 2 hari sekali ibu selalu menelponku, menanyakan kabarku, bagaimana kuliahku, bagaimana pergaulanku disana, dan bagaimana lingkungan sekitarku. Ibu tidak pernah telat dalam hal seperti itu, selalu ingin menjadi yang pertama tahu apa saja yang aku lakukan selama aku di malang.

Begitulah ibu, selalu memperhatikan kondisiku. Mulai dari aku lahir sampai dengan saat ini, saat dimana aku beranjak dewasa. Bagi ibu sampai sekarang aku hanyalah anak kecil yang lugu dan polos, dan tidak mengerti dunia luar. Sehingga ibu selalu dan selalu mengkhawatirkanku, dan akan selalu seperti itu selama ibuku adalah ibuku.

 Foto-0006

Tentang k3tium

sehat dan bersemangat
Pos ini dipublikasikan di BuS1A12-fentyhullatutstsaniyah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s