“tugas 2 plus- minus lab TI UM”

LABORATORIUM KAMI

Universitas Negeri Malang memilki laboratorium untuk masing- masing fakultas. Di fakultas Teknik jurusan Teknologi Industri atau sering disingkat dengan TI memiliki fasilitas laboratorium untuk mahasiswa tata boga dan tata busana. Untuk mahasiswa tata busana sendiri, jurusan Teknologi Industri telah menyediakan ruangan praktek baik untuk menjahit dan menggambar. Tata busana memiliki beberapa laboratorium diantaranya adalah ruang desain yang terletak di gedung G5 ruang 205, ruangan ini terletak di lantai dua dekat dengan laboratorium komputer, kami memakai ruangan ini untuk mata kuliah draping dan mata kuliah konstruksi pola. Ruangan yang memiliki luas sekitar 10×10 meter ini di lengkapi dengan fasilitas blackbord yang telah diganti dengan whiteboard, meja panjang untuk kami para mahasiswa belajar dan mengerjakan tugas pola, serta bangku lipat dan satu meja dosen. Di ruang ini terdapat banyak dressform dari bermacam- macam ukuran yang digunakan saat mata kuliah draping, satu dressform dijatah untuk dua orang mahasiswa, namun ada juga yang satu dressformuntuk satu orang disesuaikan dengan jumlah mahasiswa yang ada di satu kelas tersebut. Disini terdapat jendela disatu sisi ruangan yang berfungsi untuk pertukaran udara namun jendela ini tidak banyak membantu karena sering kali kami masih merasa kegerahan saat berada di ruang ini, kegerahan kami disebabkan karena kurangnya udara untuk menyegarkan ruangan, tidak terdapat fasilitas kipas angin di ruangan ini. Namun keadaan kelas yang bisa di bilang luas ini cukup melegakan kami untuk berada lama di ruang ini, sedikitnya barang yang ada di ruangan ini setidaknya mampu membuat kami bisa bergerak bebas di ruangan ini, selain itu kelas inimenjadi terlihat lebih luas. Diruang ini terdapat meja panjang yang di gunakan untuk belajar, disaat mata kuliah konstruksi pola meja ini menjadi terlalu sempit bagi kami, meja yang berisikan empat orang ini selalu di penuhi dengan perlengkapan pembuatan pola yang dimiliki oleh masing-masing penghuni meja sehingga tak jarang ada salah seorang teman sebangku saya yang mengalah untuk mengerjakan di lantai. Di ruang desain ini juga disediakan peralatan unuk membersihkan ruangan seperti sapu, kemucing, keranjang sampah dan cikrak. Dari tiga ruang praktek yang saya tempati, ruangan ini adalah ruangan yang paling nyaman untuk dihuni.

Selain ruang desain, Teknologi Industri juga memiliki ruang praktek menjahit yang terletak di gedung G6 lantai dua ruang 203. Ruangan di gedung ini memiliki fasilitas mesin jahit dinamo yang berjumlah sekitar 32 buah dan 2 mesin obras, 1 mesin lubang kancing dan 3 meja setrika. Luas ruangan ini berukuran lebih kecil dari ruang desain, berbeda dengan ruang desain ketika kami masuk kami bisa merasa lega berada di sana, tapi ketika kami masuk ke ruang praktek menjahit ruangan ini terasa sesak bagi kami, kami tidak dapat bebas bergerak karena cela untuk kami berjalan terlalu sempit dan terhalang beberapa mesin jahit dan kursi yang menemaninya. Ruangan ini bisa dibilang cukup sempit dan gerah untuk sebuah ruangan praktek, di ruang ini telah tersedia jendela untuk ventilasi udara di kedua sisi ruangan serta telah dilengkapi dengan fasilitas kipas angin di langit-langit ruangan. Ruangan ini terbagi atas dua bagian yaitu sayap kiri dan sayap kanan yang di batasi oleh beberapa mesin jahit, peletakan mesin jahit yang lain di letakan merapat mengelilingi dinding dan untuk bagian tengah di kedua sisinya diisi dengan empat meja besar untuk membantu kami saat memotong bahan dan ada banyak kabel yang bergelantungan di langit- langit kelas yang berfungsi sebagai stop kontak dan fungsi dari menggantung kabel adalah menghindari pengguna ruangan tersandung kabel- kabel yang berserakan di lantai, namun kabel-kabel ini juga terkadang menghalangi kami untuk berjalan karena mereka bergelantungan di depan kami. Ruangan yang kami pakai untuk mata kuliah Teknik Dasar Menjahit ini juga menyediakan fasilitas mesin fortable untuk mahasiswa yang tidak mendapatkan jatah mesin dinamo, selain itu juga menyediakan peralatan mesin jahit seperti sepul, skoci yang bisa dipinjam oleh mahasisiwa. Setiap ruang praktek memiliki laboran sendiri- sendiri, tugas seorang laboran adalah menjaga dan mengontrol ruangan seperti kebersihan ruangan serta mengontrol pemakaian mesin- mesin yang ada, setiap ada kerusakan mahasiswa wajib lapor supaya laboran tau mesin mana saja yang perlu dibenahi. Yang menjadi kendala saat jam praktek adalah terkadang ada mesin yang tiba- tiba berubah menjadi ‘rewel’ sehingga menghambat kami saat belajar, kami pun juga belum bisa untuk membenahi kerusakan itu sendiri jadi mau tak mau tertkadang kami ganti mesin ataupun ikut bergabung dengan teman yang lain dan sayangnya disini kami belum pernah menjumpai seorang teknisi untuk membenahi mesin, walaupun telah ada laboran di setiap ruangan tapi tidak semua laboran bisa membenahi mesin yang ‘rewel’. Banyak juga mesin yang sudah aus dan butuh untuk dibenahi atau diberi minyak setelah pemakaian karena mesin- mesin disini terdengar kasar saat dioperasikan. Untuk perlengkapan menjahit lainnya seperti setrika dan meja setrika pun juga perlu di perbaiki karena setrika di ruang ini sudah aus, ada setrika yang pengaturan suhunya sudah tidak berfungsi yang terkadang menyebabkan bahan menjadi terbakar atau gosong, untuk meja setrika juga sedikit tidak nyaman untuk dipakai, alas setrikanya terlalau empuk sehingga dalam proses pengepresan pakaian hasilnya kurang memuaskan, alas kain untuk meja setrika juga perlu di diganti karena sudah kusam. Fasilitas kesehatan yang diberikan oleh ruangan ini berupa kotak P3K, kotak P3K ini kurang memadai karena hanya berisikan plaster dan obat merah saja. Selain kurangnya fasilitas P3K, di sini juga tidak tersedia APAR yang digunakan disaat terjadi kebakaran kecil karena tidak menutup kemungkinan dengan panasnya suhu, banyaknya aliran arus listrik yang mengalir bisa terjadi konsleting entah dari stop kontak, dinamo mesin, setrika atau bisa juga kabel yang terhubung dengan lampu neon yang telah terjadi beberapa minggu ini, memang tidak menyebabkan kebakaran tapi menyebabkan bagian di sayap kiri ruangan mati lampu dan ada beberapa stop kontak yang tidak dapat digunakan. Alat kebersihan yang tersedia di sini sangat memadai, teresedia beberapa sapu, keranjang sampah dan cikrak, setiap minggu para siswa bergantian membersihkan kelas sesuai dengan jadwal yang telah tersedia yang ditempelkan di daun pintu.

Ruangan paraktek yang selanjutnya adalah ruang praktek mesin industri yang terletak di gedung G6 lantai 2, letaknya berhadap- hadapan dengan ruang 203. Sesuai dengan namanya ruangan ini dipenuhi dengan bermacam- macam mesin industri, berbeda dengan ruangan 203 yang hanya berisikan mesin dinamo biasa. Ruangan ini memilki luas yang lebih besar dari ruang 203 dan ruang desain, disini terdapat bermacam- macam mesin industri dari mesin jahit indusri, mesin obras benang 3, obras benang 5, mesin neci, mesin overdeck, mesin pemasang elastik, mesin untuk kain kaos, mesin untuk memasang kancing, lubang kancing dan terdapat sekitar  empat buah meja setrika. Penataan mesin ini di bentuk perkelompok, satu kelompok terdiri dari tiga buah mesin jahit industri, dua mesin overdeck, satu mesin untuk kaos, dan satu buah meja setrika. Tiap kelompok mesin di letakan mengelilingi dinding ruangan dan untuk bagian tengah belakang di isi dengan mesin obras, mesin neci dan satu meja untuk laboran, bagian tengah depan diisi dengan tiga buah meja yang cukup besar dan di kelilingi dengan kursi lipat yang dilengkapi dengan meja kecil. Kursi di ruangan ini kurang nyaman karena cepat membuat badan lelah disaat menggunakannya, meja di ruangan ini pun kurang panjang untuk satu kelas sehingga kami harus berdempet- dempetan bahkan ada beberapa orang yang harus duduk di sekitar mesin. Ruangan ini di lengkapi dengan satu buah whiteboard dan dua buah gantungan baju. Jendela di ruangan ini terdapat di kedua sisinya, disini juga dilengkapi dengan beberapa kipas angin yang  tergantung di langit- langit kelas, ruangan ini terasa lebih sejuk dibandingkan kelas 203. Sama halnya dengan ruang praktek 203, disini juga tidak tersedia APAR dan minimnya perlengkapan kotak P3K. Namun untuk kelengakapan peralatan menjahit seperti setrika dan meja setrika, di ruangan ini setrika yang digunakan masih baru dan mejanya pun lebih nyaman untuk digunakan. Fasilitas di setiap ruangan sama, mereka menyediakan peralatan menjahit yang bisa dipinjam oleh mahasiswa seperti sepul, skoci dan penggaris pola. Di ruangan ini juga banyak kabel- kabel yang bergelantungan dilangit- langit kelas sama seperti di ruangan 203. Pertama kali kami belajar mengoperasikan mesin, kami di ajari oleh laboran yang ada di ruangan itu namun kami tidak di ajari untuk membenahi mesin di saat benang mengalami putus sehingga ketika benang putus kegiatan kami menjadi terhambat. Tapi fasilitas mesin yang diberikan kepada mahasiswa sudah sangat memadai.

Ruangan praktek yang terakhir adalah ruangan bordir, saya belum pernah benar- benar menggunakan ruangan ini dalam jangka waktu yang lama. Saya pertama kali memakai ruangan ini adalah disaat saya tes untuk masuk Universitas dan yang kedua kalinya adalah di saat saya Ujian Akhir Semester. Ruangan ini terletak di gedung G6 lantai 2, letaknya bersebelahan dengan ruang desain. Ruangan ini terlihat sempit, sesak dan panas, ruangan ini di penuhi dengan mesin- mesin dinamo biasa dan ada beberapa mesin border industri yang semuanya ditata di dekat jendela, dan masih juga dijumpai kabel- kabel yang bergelantungan di langit- langit kelas. Kabel- kabel ini menghalangi kami untuk berjalan, selain kabel yang menghalangi kami beraktvitas penataan mesinnya pun kurang efektif, karena semua mesin di tata menjajar, sehingga yang mendapatkan mesin di pojok menjadi susah untuk keluar karena terhalang teman- teman yang lain dan bangku- bangku yang mereka gunakan. Wilayah kami menjahit bisa dibilang sempit dan sesak karena kami sedikit kesusahan untuk bergerak. Di sayap kiri belakang masih ada beberapa mesin yang diletakan merapat ke dinding, sedangkan di bagian depan di isi dengan meja untuk memotong bahan dan satu buah meja dosen. Di ambang pintu diletakan meja setrika yang menyebabkan daun pintu tidak dapat dibuka kedua sisisnya, hanya satu daun pintu yang digunakan untuk lalu lintas. Ruangan ini dilengkapi dengan fentilasi di satu sisinya dan dua buah kipas angin yang sudah membutuhkan pembersihan karena kipas angin diruangan ini sudah sangat berdebu. Penataan barang di ruang ini kurang efektif, banyak barang yang terdapat diruangan ini, tapi luas ruangan tidak memadai atau mengimbangi untuk menampung begitu banyak mesin dan lemari untuk menyimapan peralatan bordir seperti benang dan widangan, belum lagi di bagian depan ruangan terdapat gantungan baju yang menambah sesak ruangan ini.  Sama dengan ruangan yang lainnya, ruangan ini juga tidak menyediakan APAR untuk berjaga- jaga saat terjadi konsleting atau kebakaran, untuk perlengkapan kotak P3K saya tidak mengetahui apakah memadai atau tidak. Fasilitas kebersihan yang diberikan sangat memadai, terdapat beberapa sapu, keranjang sampah, kemucing dan cikrak yang di letakan disisi pintu.

Ada beberapa pendapat yang diungkapkan oleh para alumi Universitas Negeri Malang khususnya alumi tata busana baik lulusan dari D3 maupun S1. Saya telah mewawancari beberapa alumi lulusan D3 dan S1 yang telah lulus beberpa tahun yang lalu.

Narasumber pertama yaitu ibu Devi Rahmawati angkatan 1998 dan lulus tahun 2001 mengataan bahwa pada zaman beliau sekolah disini fasilitas sangat memadai dan perlengkapannya cukup bagus, peralatan kebersihan yang disediakan pun sama dengan yang sekarang sangat lengkap dan memadai. Tapi pada waktu itu masih belum tersedia kipas angin karena memang jurusan tata busana masih baru dan pada waktu itu masih masa transisi dari IKIP berubah menjadi Universitas.

Narasumber kedua yaitu ibu Nidya lulusan dari D3 tata busana pada tahun 2002 berpendapat bahwa ruangan yang digunakan sudah cukup bagus dan memadai, ruangannya nyaman untuk digunakan, namun peralatan yang digunakan untuk menjahit masih kurang memadai.

Narasumber ketiga yaitu ibu Kustin, lulusan dari S1 pada tahun 2009 berpendapat bahwa mesin yang digunakan enak namun bila terjadi kerusakan dan meminta tolong kepada laboran untuk membenahi, laboran pun juga belum bisa untuk membenahiyang mengakibatkan pekerjaan atau kegiatan menjahit menjadi terhambat. Beliau juga berpendapat bahwa ruangan yang digunakan untuk praktek terlalau sempit dan sesak sehingga tidak bebas atau tidak leluasa untuk bergerak dan penataan ruangnya kurang efektif.

Dan narasumber keempat yaitu ibu Kristining bintari lulusan S1 tahun 2011 berpendapat bahwa mesin- mesin yang untuk menunjang proses belajar dan mengajar telah tersedia dengan lengkap, sudah tersedia macam- macam mesin industry, overdeck dan  mesin pressing industry, hanya yang disayangkan adalah penataan ruangmya yang masih kurang efektif dan tidak ergonomi. Banyak barang- barang yang sudah tidak sesuai kurikulum yang masih disimpan seharusnya barang- barang tersebut di letakan diruangan khusus supaya ruangan tidak sesak. Kebersihan di ruangan ini telah terjaga dengan baik, tersedia perlengkapan kebersihan yang memadaisekali.

Gambarganbar bersama narasumber

Demikian hasil pengamatan dan wawancara yang telah dilakukan mengenai plus minus laboratorium TI UM, semoga tulisan ini dapat menjadi dorongan untuk memperbaiki fasilitas yang ada. Maaf jika ada salah kata dalam tulisan ini.

Terima kasih…

Tentang k3tium

sehat dan bersemangat
Pos ini dipublikasikan di Dwi Astuti Sih Apsari dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s