Tugas-2″Plus-Minus TI”

PLUS-MINUS LABOLATORIUM PRODUKSI

DI

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI (TATA BUSANA)

 

Suma’mur(1980:237) menyatakan bahwa untuk membangun labolatorium higene perusahaan diperlukan peralatan khusus yang tidak dipunyai oleh labolatorium lainnya.

·         Suhu, kelembapan, kecepatan udara diukur dengan alat berupa: psikrometer, anemometer, thermometer kata, termometer bola.

·         Kebisingan diukur dengan alat berupa: sound survey meter, octave-band-analyzer, impact noise meter.

·         Getaran mekanis diukur dengan alat berupa: vibration acceleration meter.

·         Debu diukur dengan alat berupa: personal dust sampler, hight volume sampler, midget impinge, cascade impactor, gravimetric dust sampler, hexlet, electrostatic precipitator, mikroskop, atomic absorption spek trometer.

·         Gas dan uap diukur dengan alat berupa: kitagawa precision gas analyzers, gas kromatograf, dan lain-lain.

·         Lingkungan diukur dengan alat berupa: alat-alat pemeriksa air, air sampler, dan lain-lain.

Ridley(2006:21) menyatakan bahwa perlengkapan yang memenuhi standar harmonisasi dan mematuhi regulasi Inggris yang mengikutsertakan ketentuan dari direktif Uni Eropa yang relevan, seperti supply of machinery (safety) regulation 1998 dan amandemen-amandemennya, dapat dipasarkan di Uni Eropa tanpa hambatan. Standar harmonisasi terbagi menjadi empat katagori:

1.                  Jenis A, berhubungan dengan rancangan-rancangan dan prinsip-prinsip keselamatan dasar

·                     Prinsip-prinsip keselamatan umum

·                     Buku petunjuk

·                     Kaidah-kaidah untuk membuat draft rancangan standar-standar, dan sebagainya.

2.                  Jenis B1 untuk aspek-aspek keselamatan yang berlaku pada sejumlah besar mesin

·                     Jarak aman

·                     Kecepatan tangan dan lengan

·                     Kebisingan dan getaran

·                     System kendali hidrolik/pneumatic

·                     Symbol-simbol keselamatan, dan sebagainya.

3.                  Jenis B2 untuk keselamatan yang berhubungan dengan alat-alat yang terkait keselamatan kerja yang dapat digunakan pada beragam mesin

·                     Kendali dua tangan

·                     System keselamatan pekaelektro (electro-sensitive safety system)

·                     Keset peka tekanan

·                     Alat saling-kunci (interlock), dan sebagainya.

4.                  Jenis C untuk alat-alat yan dikhususkan bagi permesinan tertentu

·                     Cold-forming logam

·                     Robot industri

·                     Pelengkapan penanganan mekanis

·                     Perlengkapan konstruksi, dan sebagainya.

 

Setiap hal memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing tergantung dari sudut pandang mana kita menilainya. Tidak terkecuali labolatorium busana di Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Industri,  Program Studi Tata Busana.

Labolatorium produksi di Jurusan Teknik Industri di G6 lantai 2 ruang 203 merupakan tempat dimana proses jahit-menjahit berlangsung. Ruangan ini berukuran panjang 13 meter dengan lebar 9 meter terdiri dari:

·                     Satu buah lemari pendek;

·                     Satu buah almari 20 loker;

·                     Satu buah etalase kaca untuk tempat contoh-contoh kain;

·                     Satu buah almari lima pintu;

·                     Dua buah meja kerja dosen;

·                     Satu buah meja kerja laboran;

·                     Tiga buah meja setrika, yang diletakkan pada bagian depan;

·                     Enam buah meja potong;

·                     Sebuah kamar pas;

·                     Tiga puluh tiga buah mesin jahit terdiri dari mesin jahit manual dan industri;

·                     Satu buah gantungan baju berbentuk lingkaran;

·                     Satu buah gantungan baju berbentuk lurus;

·                     Dua buah kipas angin;

·                     Tiga buah mesin obras; dan

·                     Dua buah almari etalase.

Berdasarkan pada pengamatan dan wawancara dari berbagai narasumber yang dilakukan oleh penulis labolatorium produksi di Program Studi Tata Busana  mimiliki beberapa kelebihan atau keunggulan diantaranya adalah:

1.                  Keberadaan mesin manual dengan ditambah aksesoris berupa dinamo memudahkan mahasiswa baru yang mempunyai latar belakang pendidikan  dari Sekolah Menengah Atas, Madrasah Aliyah, atau Sekolah Menengah Kejuruan nonbusana karena tidak semua mahasiswa baru mempunyai kemampuan dasar menjahit.

2.                  Kebutuhan piranti pokok dan piranti pendukung sudah cukup memadai. Piranti pokok adalah alat jahit utama yang harus disiapkan karena mayoritas pekerjaan pembuatan busana sehingga mempergunakan salah satu alat sebagai berikut: mesinjahit lurus manual, mesin jahit semi otomatis (dilengkapi dengan tusuk hias), mesin jahit otomatis (tidak menggunakan alat bantu), mesin jahit lurus hight speed, mesin jahit lurus dua setikan yang biasa di gunakan untuk menjahit celana jins, mesin obras (mesin obras benang tiga, benang empat, dan benang lima). Piranti pendukung adalah alat yang dipergunakan untuk membantu menyelesaikan bekerjaan dalam bidang busana seperti: mesin press dan setrika yang terdiri dari setrika biasa dan setrika uap.

3.                  Keberadaan beberapa jenis mesin jahit cukup lengkap.

Seperti ada tiga macam mesin jahit,  yakni mesin jahit manual, mesin jahit portable, dan mesin jahit hight speed. Total jumlah mesin jahit yakni 33 buah mesin jahit manual dan highspeed serta tiga buah mesin jahit portable atau mesin jahit jinjing.

D:DCIM100MEDIAIMG_0387.JPG

Gambar: salah satu mesin jahit manual

Sumber: dokumen pribadi

 

4.                   Dalam satu ruangan terdapat beberapa mesin jahit seperti,

yang dijelaskan penulis di atas, tiga buah mesin obras, dan satu buah mesin untuk membuat lubang kancing serta meja setrika.

5.                  Jumlah mesin yang ada dalam ruangan sudah memenuhi proposi minimal antara jumlah mesin dan pemakai (mahasiswa) yang berjumlah 32 mahasiswa dalam matakuliah Teknik Dasar Menjahit Program studi SI Pendidikan Tata Busana Offering A angkatan 2012.

6.                   Peralatan yang sifatnya melengkapi seperti:

sepul, sekoci, sepatu mesin, sepatu jepang, sepatu kaki satu, penggaris siku, penggaris panggul, dan pinset yang tidak dibawa mahasiswa (lupa tidak membawa peralatan menjahit) bisa meminjam peralatan di labolatorium atas sepengetahuan dan ijin dari laboran. Sedangkan untuk peinjaman mesin jahit protable harus meninggalkan berupa KTM sebagai jaminan bahwa mesin akan dikembalikan dengan keadaan seperti semula lengkap beserta alat pendukungnya.

7.                  Pada setiap mesin ada instruksi penggunaan, baik mesin jahit manual, mesin jahit hight speed, mesin obras, mesin pembuat lubang kancing, pengoperasian setrika, dan alat pembuatan kancing bungkus.

8.                  Pencahayaan,

sejauh ini sudah memenuhi standar mininimal, asalkan tidak terjadi pemadaman arus listrik karena sumber pencahayaan hanya tergantung dengan lampu.

9.                  Kebersihaan sudah cukup ,

sayangnya kesadaran bagi pengguna masih kurang menjaga seperti piket  teratur. Terpampang dengan jelas di depan pintu selembar kertas berisikan peraturan bahwa masuk ke labolatorium produksi  busana tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman. Kenapa demikian? Karena dikhawatirkan jika  minuman di dalam ruangan tumpah, airnya bisa masuk kecelah-celah mesin jahit dan bercampur dengan minyak mesin jahit sekaligus bisa mengakibatkan karatan dalam jangka waktu menengah. 

10.              Sudah tersedia perlengkapan busana seperti,

jarum mesin jahit, beneng obras, dll. Untuk peminjaman cukup mencamtumkan nama dalam buku milik laboran.

11.              Memiliki ventilasi yang memadai sehingga,

sirkulasi udara menjadi lancar, selain itu ada juga dua buah pintu. Suma’mur(1980:235) menyatakan bahwa ventilasi terbagi menjadi dua macam, yaitu:

·                     Ventilasi umum atau dilusi dimaksudkan untuk menurunkan kadar bahan-bahan yang mungkin menimbulkan gangguan kepada kesehatan dan kenikmatan kerja. Dilaksanakan dengan mengalirkan udara segar ke tempat kerja.

·                     Ventilasi keluar setempat adalah ventilasi yang menangkap bahan-bahan yang dapat mengganggu kesehatan sebelum bahan-bahan tersebut masuk keudara ruang kerja. Untuk itu digunakan corong dan pipa; corong menghadap dan menutupi sebagian atau seluruhnya sumber-sumber, sedangkan pipa- pipa menyalurkan udara yang disedot atau dihisap keluar.

12.              Untuk keselamatan kerja,

1) penyimpanan barang-barang berbahaya pada tempat yang khusus seperti, penyimpanan gunting, jarum jahit, jarum tangan, jarum pentul, cutter, dan penggaris besi. 2) pembuangan limbah pada tempatnya, memang pada saat proses menjahit perca berserakan di bawah mesin jahit namun, setelah proses menjahit selesai akan segera di bersihkan oleh petugas piket dan limbahnya di buang ke tempat sampah yang telah disediakan. 3) pengamanan peralatan kerja yang sudah rusak dan usang, untuk alat-alat yang usang diberi perlakuan khusus seperti dilakukan pengecekan dengan rutin. Sedangkan untuk peralatan yang rusak langsung dikarantina dan segera diganti. 4) untuk penggunaan mesin tergantung dari mahasiswa dan untuk penerangan setiap mesin bagus.

13.              Labolatorium produksi dekat dengan kamar mandi.

 

Berdasarkan pada pengamatan dan wawancara dari berbagai narasumber yang dilakukan oleh penulis labolatorium produksi di Program Studi Tata Busana  mimiliki beberapa kekurangan diantaranya adalah:

1.             Enam buah mesin jahit berada di luar ruangan, sehingga proses belajar mengajar kurang efisien dan efektif  karena dosen berada dalam meja kerjanya saat menerangkan. Sedangkan sebagian mahasiswa berada di luar ruangan.

2.             Tidak ada loker/almari untuk tempat tas mahasiswa sehingga tas berserakan di atas meja dan kolong meja.

 D:DCIM100MEDIAIMG_0411.JPGD:DCIM100MEDIAIMG_0413.JPG

Gambar.: tas dan helm tidak pada tempatnya

Sumber: dokumen pribadi

3.             Hanya ada tiga buah meja setrika yang terletak di depan, jadi membuang waktu untuk mahasiswa yang menjahit di nesen yang belakang. Berdasarkan pengalaman penulis karena keterbatasan ini menyebabkan antrian yang lumayan panjang hanya untuk setrika atau pressing.

4.             Setrika  yang ada kabelnya di lapisi plester kertas sehingga kurang aman.

 

Gambar: salah satu setrika yang ada di labolatorium industry

Sumber: dokumen pribadi

5.             Untuk kebersihan lantai baik , namun debu-debu yang berada di candela selalu dibiarkan.

6.             Tidak ada tempat sampah di dekat mesin obras sehingga sisa potongan kain dari mengobras berserakan.

D:DCIM100MEDIAIMG_0394.JPG

Gambar: mesin obras

Sumber: dokumentasi pribadi

7.             Tidak ada APAR (alat pemadam api ringan, berwarna merah biasanya berisi tepung kimia kering atau busa/foam) apalagi hydrant ruangan untuk menanggulangi jika terjadi hal yang tidak diinginkan seperti, kebakaran atau konsetling listrik.

fire-04

Gambar 1: gambar sebuah APAR beserta cara penggunaannya

Sumber: http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/10/tentang-alat-pelindung-diri.html

8.             Meskipun sudah ada enam buah meja potong, namun penulis rasa masih kurang. Bagaimana tidak? Sebagian mahasiswa ada yang memotong di luar dan di atas lantai bukan meja potong seperti yang seharusnya.  

Tulisan ini merupakan sebentuk koreksi bagi civitas akademika Universitas Negeri Malang pada umumnya dan Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Program Studi Tata Busana pada khususnya. Tulisan ini berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan dan pengalaman yang penulis alami. Selain itu mendapatkan informasi dari berbagai sumber diantaranya berupa: sumber dari buku, dari website, dan dari informan yaitu saudari Luklu’il Maknun (lulusan D3 dari Universitas Negeri Malang yang sekarang menempuh studi S1 di Universitas Negeri Malang). Selain itu informan berasal dari laboran Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Program Studi Tata Busana.

Photo0749

Gambar: salah satu dari informan (Luklu’il Maknun)

Dengan tulisan ini penulis tidak bermaksud untuk menjatuhkan siapapun. Harapan penulis tulisan kecil ini bisa mewujudkan kesehatan dan keselamatan kerja di labolatorium busana.  Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Saran dan kritik membangun selalu penulis buka lebar demi mewujudkan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Program Studi Tata Busana yang lebih baik dimasa mendatang.

 

DAFTAR RUJUKAN:

Suma’mur. 1980. Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: Gudang Gunung

Suma’mur. 1994. Kesehatan Kerja. Jakarta:  Widya Medika

Ridley. 2006.  Ikhtisar Kesdehatan dan keselamatan Kerja. Jakarta: Erlangga

http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/10/tentang-alat-pelindung-diri.html diakses tanggal 18 Desember 2012 pada 4:23 wib

 http://id.scribd.com/doc/83273919/k3-dapurdiakses tanggal 18 Desember 2012 pada 4:23 wib

 

 

Tentang k3tium

sehat dan bersemangat
Pos ini dipublikasikan di Bus1A12-Naningsih dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s