Tugas2 Plus-Minus Laboratorium T.I

Kurangnya Kenyamanan Pada Laboratorium T.I.

Dulu saya bersekolah di SMA bukan SMK, tetapi di SMA tempatku mencari ilmu dulu juga terdapat beberapa muatan lokal seperti otomotif, bubut dan menjahit. Semua siswa wajib mengikuti salah satunya, dan aku mengikuti mulok menjahit sebagai pilihanku. Setelah luluspun sebelum aku memutuskan untuk masuk bangku kuliah aku masuk kursus menjahit beberapa waktu. Sehingga saat aku masuk kuliah dan mengambil jurusan tata busana sudah terbiasa dengan suasananya. Tetapi ada hal yang berbeda di lab setiap tempat, yakni mengenai kebersihan dan kelengkapan keamanan di setiap laboratorium jahitnya serta kelengkapan K3 nya juga.
Ketika di SMA laboratorium terkesan lebih aman karena mesin yang digunakan masih manual, sehingga tidak perlu menkhawatirkan mengenai sambungan listriknya, penerangannya pun menggunakan sinar matahari, karena terdapat banyak jendela kaca, yang dapat membuat cahaya matahari cukup untuk penerangan, lampu yang ada di ruangan dinyalakan hanya saat-saat tertentu saja, seperti saat mendung misalnya.
Ketika aku mengikuti kursus, tempat untuk menjahit sudah baik, tetapi kurang memperhatikan pencahayaan, serta kurangnya kebersihan ruangan, sehingga menyebabkan para murid kurang nyaman saat menjahit di tempat tersebut.
Berbeda lagi saat di Laboratorium Busana Teknologi Industri Universitas Negeri Malang, tetapi disini, saya tidak akan membahas komentar dari pandangan saya sendiri, melainkan juga komentar dari tiga alumni D3 Tata Busana angkatan 2008/2009 yang lulus pada tahun 2012 ini, dan melanjutkan untuk mengambil S1 di jurusan Teknologi Industri Universitas Negeri Malang lagi.
Mereka bertiga adalah Rosidah, Nurul Hidayati dan Galuh Ajeng Rembuyung. Ketika ditanyai mengenai K3 di Laboratorium Busana Teknologi Industri Universitas Negeri Malang, mereka memiliki pendapat masing-masing.
Seperti ketika membicarakan soal kebersihan lingkungan di Laboratorium busanaTeknologi Industri Universitas Negeri Malang, Mbak Rosidah beranggapan bahwa Laboratorium Busana di Jurusan Teknologi Inustri Universitas Negeri Malang ini sudah cukup baik, hanya saja dia berpendapat bahwa tempat sampah yang disediakan oleh Laboratorium masih kurang, sehingga ketika praktek berlangsung, terkadang tempat sampah menjadi kepenuhan dan kurang nyaman saat dilihat. Seragam dengan Mbak Rosidah, Mbak Nurul Hidayati juga beranggapan demikian, dan juga kebersihan mesin yang kurang, sehingga terkadang menyebabkan pakaian juga ikut terkena debu. Sedikit berbeda pandangan dari kedua kakak alumni di atas, Mbak Galuh Ajeng Rembuyung berpendapat bahwa kebersihan di Laboratorium sudah baik, tetapi kadang membuatnya capek saat piket karena harus membuang kotoran setelah praktek ke luar ruangan laboratorium. Saya sendiri juga berpendapat serupa seperti kakak-kakak alumni di atas, karena menurut saya jumlah tempat sampah yang memadahi itu sangat penting agar, para Mahasiswa juga mudah menjaga kebersihan, dengan membuang kotoran, seperti perca, benang dan yang lainnya ke dalam tempat sampah yang mudah dijangkau.
Yang kedua adalah mengenai kerapian, sepertinya jawaban mereka selalu seragam mengenai kerapian di Laboratorium Busana Teknologi Industri Universitas Negeri Malang, yakni kurangnya kerapian penataan hasil praktek, terutama pada laboratorium jahit yang berada di gedung G6, karena sering kali keberadaannya mengganggu mahasiswa yang sedang melakukan praktek di Laboratorium. Menurut saya hal itu memang benar, karena terkadang hasil praktek yang tidak di koordinir dan tertata rapi menyulitkan saya untuk mencari hasil praktek saya, yang bahkan pernah hampir hilang saat akan saya kumpulkan. Menurut saya selain digantung begitu saja, perlu adanya etalase atau lemari yang digunakan untuk hasil praktek tiap kelas sehingga tidak bercampur di  kelas lain.
Kebisingan juga merupakan masalah bagi mahasiswa menurut kakak-kakak alumni D3 diatas, terutama kebisingan yang ditimbulkan oleh suara mesin terutama tidak adanya ear plug, karena hal itu juga dapat mengganggu mahasiswa, sehingga terkadang mahasiswa menggunakan headset untuk menyumbat telinganya, ditambah dengan mendengarkan music.
Alat Pelindung diri adalah topik selanjutnya, menurut Mbak Rosidah, dengan diwajibkan penggunaan celemek untuk setiap mahasiswa, hal itu sudah cukup. Mbak Nurul yang beranggapan lain menyatakan bahwa alat pelindung diri belum di terapkan di Laboratorium Busana. Dan Mbak Ajeng secara singkat menyatakan, penggunaan Alat Pelindung Diri hanya berupa himbauan sekali dan jarang dipraktekkan. Memang benar, menurut saya pribadi penggunaan Alat Pelindung Diri masih sangat kurang di Laboratorium Busana. Karena kebanyakan petugas atau laboran hanya menghimbau penggunaan Alat Pelindung Diri milik masing-masing tanpa menyediakan serta, tanpa memperhatikan apakah himbauan mereka tersebut dilakukan oleh mahasiswa. Seperti pada laboratorium Industri yang ada pada gedung G6 Jurusan Teknologi Industri Universitas Negeri Malang, yang terkadang berbau seperti hangus, sehingga mengganggu pernafasan, terutama bagi mahasiswa yang mungkin saja mengidap penyakit asma, mereka hanya menghimbau saja, dan tentu saja hal tersebut belum tentu dilaksanakan oleh para mahasiswa, sehingga menyebabkan resiko penyakit kerja semakin beragam.
Mengenai Pencahayaan, menurut mereka bertiga selama mereka melaksanakan kuliah D3 di jurusan Teknologi Industri Universitas Negeri Malang cukup baik, lampu yang digunakan sudah mampu mencukupi kebutuhan pencahayaan pada saat melakukan praktek. Menurut saya pribadi hal tersebut tidak sepenuhnya benar, karena terkadang pada lampu mengalami masalah akhir-akhir ini, seperti meletus, serta listrik yang mudah konslet, sehingga menyebabkan lampu tidak maksimal dan pencahayaan tidak mencukupi untuk melakukan praktek. Sehingga malah membuat mata menjadi sakit.
Ketika ditanyai mengenai masalah penanggulangan kecelakaan kerja, mereka berpendapat masing-masing. Mbak Rosidah menyatakan hal tersebut kan termasuk urusan pribadi masing-masing mahasiswa, sedangkan Mbak Nurul menyatakan, setidaknya harus ada kotak PP(Pertolongan Pertama) di dalam Laboratorium. Mbak Ajeng sependapat dengan Mbak Nurul, setidaknya untuk menanggulangi kecelakaan kerja harus ada kotak PP(Pertolongan Pertama) di dalam setiap laboratorium. Sependapat dengan mereka, selain keamanan kerja itu menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing mahasiswa, setidaknya laboratorium juga menyediakan kotak PP(Pertolongan Pertama) sebagai penanggulangan pertama untuk kecelakaan kerja yang mungkin saja terjadi saat praktek.
Untuk keamanan peralatan sendiri, menurut Mbak Rosidah, masih kurang aman, karena penataan kabel-kabel yang masih kurang terkoordinir dengan baik, serta kurangnya label-label peringatan-peringatan untuk keamanan kabel-kabel. Lain hal dengan Mbak Nurul, yang lebih membahas direction atau cara penggunaan alat pada mesin-mesin yang berada di laboratorium busana, masih terdapat mesin-mesin yang belum diberi label cara penggunaan atau label peringatan, karena dapa mengakibatkan kecelakaan kerja pada setiap prakteknya. Mbak Ajeng memiliki pendapat sendiri dengan membahas, himbauan-himbauan yang ada di ruang laboratorium busana, masih kurang efektif untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja.
Selanjutnya mengenai kenyamanan, untuk kenyamanan sendiri, mereka dengan beberapa faktor diatas, serta ergonomi yang kurang, mereka menyatakan bahwa kondisi pada laboratorium masih kurang nyaman. Saya juga merasakan hal yang sama pada kondisi laboratorium sekarang ini, dengan adanya beberapa faktor diatas. Ditambah lagi dengan adanya mesin-mesin yang tidak bisa digunakan, yang tidak segera diperbaiki, sehingga menyebabkan kekurangan mesin saat praktek, dan menghambat produktivitas kerja para mahasiswa yang tidak mendapat mesin.
Setelah beberapa pertanyaan yang saya ajukan, dapat diketahui, bahwa bukan hanya saya yang merasakan kurangnya penerapan K3 di Laboratorium busana. Sehingga pada akhirnya hal tersebut juga mempengaruhi prodiktivitas mahasiswa dalam melakukan praktek, yang bahkan mempengaruhi psikologi dari mahasiswa saat praktek, mungkin terdapat mahasiswa yang dapat menerima kondisi seperti ini, sehingga tidak mempengaruhi efektifitas kerjanya, tetapi tidak sedikit mahasiswa yang merasa kurang nyaman ketika praktek di laboratorium busana, sehingga ber efek pada hasil kerja mereka. Di sini pada akhirnya membutuhkan kerja sama sesama mahasiswa, bagaimana caranya agar menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan sehingga  dapat membuat produktivitas menjadi baik.
Seperti kebersihan yang masih terkendala jumlah tempat sampah, kerapian pada hasil praktek milik tiap kelas yang kadang tertukar, hal ini sedikit menyulitkan mahasiswa.
Untuk penerapan K3 sendiri, laboratorium masih kurang penerapannya, terutama pada penerapan Alat Pelindung Diri, yang hanya mengandalkan kesadaran mahasiswa nya saja, sehingga ketika terjadi kecelakaan kerja, itu juga termasuk ke dalam tanggung jawab mahasiswa itu sendiri. Apalagi dengan ditambah ketiadaan kotak PP(Pertolongan Pertama), sehingga semakin membuat para mahasiswa sedikit khawatir, ditambah lagi seperti kata para alumni D3 di atas, kurangnya pelabelan pada setiap mesin, atau barang-barang elektronik lainnya, sehingga resiko kecelakaan kerja pada saat praktek menjadi semakin tinggi. Ditambah lagi dengan penataan listrik yang menurut saya dan bahkan alumni D3 diatas yang masih kurang baik, menambah lagi resiko kecelakaan kerja. Pencahayaan yang kurang, yang kini sering terjadi juga menyebabkan penyakit kerja terutama pada mata dapat terjadi dengan mudah. Juga dengan adanya getaran-getaran dari mesin serta kebisingan yang disebabkan oleh suara mesin, yang tidak ada penanggulangannya, seperti disediakannya ear plug. Saya juga merasakan hal tersebut, terutama masalah pernafasan, yang terkadang terganggu oleh aroma hangus yang kerap kali tercium pada laboratorium busana, karena tidak disediakannya masker, sehingga membuat saya berusaha sendiri untuk selalu membawa masker setiap akan melakukan praktek pada laboratorium industri busana.
Masalah ergonomi pun juga terdapat dalam laboratorium busana, karena kursi yang mahasiswa gunakan tidak dapat disesuaikan dengan tinggi badan mahasiswa yang berbeda-beda. Sehingga hal tersebut membuat mahasiswa menjadi kurang nyaman.
Selain masalah-masalah yang disebutkan di atas tadi, juga menjadi masalah saat proses pemotongan kain, karena kurangnya meja yang disediakan, sehingga mengalami hambatan dalam  proses praktek, dan mempengaruhi produktivitas kerja mahasiswa.
Dari uraian singkat di atas, dapat diketahui, bahwa terkadang mahasiswa mengalami hambatan saat melakukan praktek, tidak sepenuhnya karena kesalahan da kelambatan mahasiswa, tetapi kondisi di laboratorium juga mempengaruhi hal tersebut. Seperti yang sudah saya uraikan di atas, terdapat dua kondisi mahasiswa, yakni ada yang mampu menerima segala kondisi sehingga tidak mempengaruhi efektifitas kerja, ada pula yang tidak mampu menerima hal tersebut.hal yang mengkhawatiran adalah ketika mahasiswa tidak mampu menerima hal tersebut, sehingga mempengaruhi efektifitas kerja. Di sini Dosen pun turut andil dalam hal menciptakan kenyamanan kondisi lingkungan praktek dalam laboratorium, apakah dosen mampu membuat suasana di saat praktek di laboratorium menjadi lebih nyaman, atau sebaliknya, dosen hanya mampu membebankan tugas kepada mahasiswa, karena sekali lagi hal ini menyebabkan kondisi yang kurang bahkan sama sekali tidak nyaman bagi psikis mereka, dan kembali lagi, akhirnya mempengaruhi hasil kerja dan produktifitas dari mahasiswa itu sendiri.
Sehingga beberapa hal yang harus lebih diperhatikan lagi di laboratorium busana, ada beberapa point sederhana yang sangat penting untuk dilaksanakan, yaitu:
1.    Kebersihan ruang laboratorium, terutama untuk jumlah tempat sampah dan kebersihan mesin laboratorium busana.
2.    Kerapian, selain digantung begitu saja, perlu adanya etalase atau lemari yang digunakan untuk hasil praktek tiap kelas sehingga tidak bercampur di  kelas lain.
3.    Alat Pelindung diri,karena tidak mungkin untuk membagikan, maka diperlukan himbauan yang lebih keras.
4.    Pencahayaan yang seharusnya mencukupi.
5.    Penanggulangan kecelakaan kerja, selain keamanan kerja itu menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing mahasiswa, setidaknya laboratorium juga menyediakan kotak PP(Pertolongan Pertama) sebagai penanggulangan pertama untuk kecelakaan kerja yang mungkin saja terjadi saat praktek.
6.    Keamanan peralatan yang harus lebih diperhatikan.
7.    Model Dosen dan Laboran yang menyenagkan juga diperlukan dalam hal ini.
Sekian wawancara saya dengan alumni D3 Tata Busana Teknologi Industri Universitas Negeri Malang angkatan 2008 yang sudah saya interprestasikan, serta beberapa saran yang semoga itu dapat membangun Laboratorium busana Teknologi Industri Universitas Negeri Malang menjadi lebih baik. Sekian dan Terima Kasih.

IMG0504A tdmLine0999

Tentang k3tium

sehat dan bersemangat
Pos ini dipublikasikan di BuS1A12-ErzhaRozhalinaShofiuyun, Dwi Astuti Sih Apsari. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s