Tugas3 Serba-Serbi K3

Kurangnya Budaya K3 di Indonesia
Pengertian K3
Dari beberapa pendapat tentang K3 yang dikemukakan oleh beberapa ahli, Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran dan rangkaian usaha untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram baik secara jasmaniah maupun rohaniah bagi para karyawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan, sehingga kondisi keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja.
Dari pengertian tersebut dapat diketahui jika keadaan tenaga kerjanya menggambarkan keadaan fisiologis-fisikal dan psikologi yang ada pada tempat kerjanya. Apakah sebuah perusahaan atau industri itu memperhatikan K3, mulai dari keamanan tempat kerja, kenyamanan tempat kerja, gizi kerja serta situasi di tempat kerja atau sama sekali tidak diperhatikan.
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan suatu bentuk upaya untuk mencapai situasi perusahaan, dimana pegawai di dalamnya merasa sehat, dan merasa aman dari suatu Bahaya maupun Risiko yang muncul. Dapat dikatakan pula, tujuan akhir dari suatu program K3 di perusahaan adalah tidak adanya angka Kecelakaan kerja, bahkan hingga tidak adanya angka kesakitan akibat kerja di dalam perusahaan.

Konsep K3
Menurut Maslow, di dalam teori hirarki kebutuhan menjelaskan bahwa Kesehatan dan juga keselamatan merupakan suatu kebutuhan yang paling mendasar. Namun, terkadang hal yang kita butuhkan tidak semuanya terpenuhi. Apalagi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat abstrak seperti halnya Kesehatan dan juga keselamatan yang memang belum terjadi.
Seseorang akan cenderung memahami, jika orang tersebut mengalaminya sendiri. Hal ini yang seringkali menjadi permasalahan utama dalam suatu program K3 di perusahaan. Para petugas K3 perusahaan, sering bahkan tidak pernah bosan menjelaskan tentang Bahaya dan Risiko. Namun, jika di perusahaan yang memang belum pernah mengalami Terpapar oleh Bahaya dan Risiko tersebut, cenderung mengabaikan. “Toh, hal tersebut belum pernah terjadi pada diri saya”. Kalimat tersebut yang sering muncul.
Hal tersebut menjadi sebuah dilemma bagi petugas K3 yang ada. Pada akhirnya, disatu sisi memang suatu kewajiban dari perusahaan, dilain sisi terkadang petugas K3 kesal dengan ungkapan-ungkapan tersebut. Kondisi seperti ini memang tidak terjadi di semua perusahaan, apalagi untuk perusahaan besar yang memang K3 itu sudah menjadi prioritas utama. Segala sesuatu Aktivitas, Selalu dilihat dari aspek keselamatan dan juga Kesehatan pekerjanya maupun asset perusahaan yang ada. Ini yang dinamakan perusahaan yang memiliki karakter yang kuat dalam K3. Ini bukan suatu proses yang singkat atau mudah dilakukan. Justru ini hal tersulit dilakukan dalam mengimplementasikan K3 di perusahaan.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, Karakter memiliki arti “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, tempramen, watak” . Karakter berasal dari bahasa Yunan yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang memiliki tindakan tidak baik berkarakter jelek . Sebaliknya orang yang Berperilaku baik disebut dengan berkarakter baik.
Karakter ini merupakan sifat bawaan, atau suatu sikap maupun perilaku yang di bentuk sejak kecil. Namun, permasalahan yang muncul adalah Apakah setiap Pekerja yang ada di perusahaan kita memiliki karakter baik? Atau malah para Pekerja kita terdiri orang yang memiliki karakter jelek, seperti halnya cuek, tidak peduli, dan bersifat acuh terhadap orang lain? Semua itu kembali lagi ke visi misi dari sebuah perusahaan, baik secara umum perusahaan maupun visi misi pribadi dari pemilik perusahaan atau pengelola perusahaan. Tidak jarang kita menemui, perusahan yang menjadikan program K3 menjadi suatu formalitas untuk mempermudah mendapatkan tender atau meningkatkan image perusahaan di mata customer. Bukan suatu hal yang sulit, jika kita Membentuk suatu perusahaan yang berkarakter K3 positif, dengan Kondisi-kondisi di atas. Semuanya kembali kepada Komitmen perusahaan maupun personal di dalamnya.
Seperti kita ketahui bersama program K3, merupakan suatu program untuk membentuk sikap maupun perilaku Pekerja yang aman dan sehat. Untuk mencapai sikap dan perilaku yang sehat, selamat dan aman ini saat ini dipermudah dengan adanya suatu sistem Manajemen K3 (SMK3) atau dengan adanya sertifikasi OHSAS 18001 dengan Sistem Manajemen K3. Secara normative di bahas di dalam PER.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen K3, pasal 1 menjelaskan SMK3 adalah bagian dari sistem Manajemen keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggungjawab, pelaksanaan, prosedur, proses, dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian pengkajian, dan pemeliharaan Kebijakan keselamatan dan Kesehatan kerja dalam rangka pengendalian Risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempa kerja yang aman, efisien dan produktif.
Dalam sistem SMK3 di jelaskan hal yang pertama kali dilakukan adalah membangun sebuah komitmen serta tanggung Jawab bersama terhadap Kesehatan dan keselamatan kerja, terutama bagi pimpinan perusahaan. Komitmen dan tanggung Jawab ini merupakan penekanan awal dalam pembentukan karakter. Jika suatu pimpinan perusahaan berkomitmen terhadap K3, maka jika melihat atau mendengar suatu laporan adanya pelanggaran maka pimpinan ini mesti mengambil sikap dan tindakan yang tegas. Sikap dan perilaku pimpinan pun dapat menjadi contoh bagi setiap karyawan. Ini yang dinamakan pembentukan karakter, seperti anak kecil yang akan Selalu meniru kedua orang tuanya. Setiap ucapan, maupun tindakan ayah dan ibunya yang kelak menjadi sikap dan perilaku si anak tersebut.
Seseorang cenderung akan mencontoh orang yang memiliki power kuat, memiliki pengaruh yang besar, dan dapat dijadikan role model. Hal ini, dapat dilakukan dengan penekanan dari pimpinan perusahaan bagi para atasan, manajer atau level supervisor. Untuk Selalu, memberikan contoh sikap dan perilaku yang aman, sehat dan selamat kepada anak buahnya.
Kemudian, di dalam SMK3 juga terdapat klausul yang menjelaskan mengenai implementasi atau penerapan program K3. Salah satu bagian dari program, adalah dengan adanya pengembangan dan Pelatihan bagi karyawan terutama terkait aspek K3 di perusahaan. Program ini yang akan mengedukasi karyawan, memberikan pengetahuan yang cukup sehingga tersimpan dalam benak karyawan tentang aspek K3 tersebut.
Di dalam klausul implementasi, terdapat juga program Komunikasi dan Promosi K3. Para atasan menyampaikan kepada bawahannya tentang aspek Bahaya dan Risiko yang ada di tempat kerja. Hal ini terkesan sangat membosankan. Akan tetapi, ini penting untuk Selalu disampaikan kepada pekerja. Agar Pekerja akan Selalu ingat, dan bahkan dapat mengingatkan rekan kerja jika terdapat penyimpangan atau ketidaksesuaian. Ini yang biasa disebut dengan toolbox meeting atau safety talk yang disampaikan setiap hari.
Kemudian, promosi K3 secara regular dilakukan agar Pekerja dapat Selalu ingat dan lebih memahami tentang aspek-aspek K3 yang disampaikan. Bentuk promosi K3 dapat dilakukan dengan visualisasi atau gambar. Seperti poster, Spanduk, banner, pamflet, sticker, dan lain-lain. Bentuk promosi juga dapat dilakukan dengan suatu program yang menarik, seperti dibuatkan lomba, kuis, dan bentuk program lainnya. Intinya, petugas K3 melakukan sosialisasi dan promosi-promosi yang menarik agar Pekerja lebih memiliki awareness yang tinggi terhadap aspek K3.
Pada pelaksanaannya memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Melakukan suatu perubahan karakter individu, budaya organisasi, dan merubah sikap maupun perilaku merupakan suatu tahapan proses. Dengan sistem Manajemen K3, merupakan suatu cara untuk memberikan suatu perubahan dari berbagai arah. Dari sisi pimpinan perusahaan, dengan memberikan komitmen dan tanggung Jawab, serta memberikan contoh sikap dan perilaku. Kemudian, melakukan penekanan kepada level manajer dan juga level supervisor untuk Selalu bersikap dan Berperilaku yang aman, sehat dan selamat. Sehingga dapat menjadi role model bagi Pekerja. Dari sisi pekerjanya pun, dengan pembekalan pengetahuan yang cukup, serta stimulus dengan Selalu diingatkan, diberikan contoh visualisasi gambar, dan dengan memberikan program-program yang dapat menarik para Pekerja untuk dapat terlibat.
Membentuk karakter yang kuat terhadap aspek K3 di perusahaan bukan hal yang sulit. Dengan komitmen, konsistensi, dan keterlibatan Seluruh level di perusahaan hal itu akan mudah dilakukan.
Penerapan K3 di Indonesia
INDONESIA hingga saat ini masih memiliki tingkat keselamatan kerja yang rendah jika dibandingkan dengan negara-negara maju yang telah sadar betapa penting regulasi dan peraturan tentang K3 ini untuk diterapkan. Kesadaran akan hal ini masih sangat rendah baik itu mulai dari pekerja hingga perusahaan atau pemilik usaha. Regulasi ini sangat penting untuk dilaksanakan dan dipatuhi dalam dunia kerja karena dapat mendatangkan manfaat yang positif untuk meningkatkan produktivitas pekerja dan mampu meningkatkan probality usia kerja karyawan dari suatu perusahaan menjadi lebih panjang.
Sejauh ini, kalaupun ada perusahaan yang menerapkan regulasi K3 biasa bukan karena dorongan kesadaran sendiri, tapi lebih dikarenakan adanya tuntutan dari buyers atau para pembeli, terutama ketika perusahaan tersebut melakukan pemasaran ekspor atas hasil barang produksinya ke pasar international seperti ke Eropa dan negara-negara maju lainnya. Selain itu biaya dalam menerapkan regulasi ini juga masih dipersoalkan, baik itu mulai dari biaya pembelian safety accessories peralatan itu sendiri maupun biaya maintenance atau biaya perawatannya.
Contoh saja, untuk perusahaan yang mengoperasikan mesin-mesin berat yang mengeluarkan suara bising yang dapat menimbulkan hazard (bahaya) terhadap kerusakan telinga, harus mengeluarkan biaya uang kurang lebih sekitar enam ratus ribu rupiah untuk membeli peralatan penutup telinga untuk per unitnya. Tentunya bagi perusahaan yang hanya memikirkan keuntungan sesaat, maka hal ini akan dianggap sebagai biaya tambahan yang lumayan relatif besar yang riskan untuk mengurangi pendapatan perusahaan.
Di Indonesia sangat jarang mendengar domonstrasi yang menuntut akan perbaikan prosedure tentang K3. Yang sering dengar adalah biasanya para buruh atau karyawan atau pekerja selalu menuntut untuk perbaikan nilai gaji atau salary yang didapatkan. Kondisi ini menunjukan bahwa masyarakat kita cenderung mengabaikan tentang pentingnya regulasi ini. Kita juga sering lihat banyak pekerja secara individual (bukan yang terikat dengan perusahaan) dengan pekerjaan yang memiliki tingkat kecelakaan yang tinggi namun hanya menggunakan peralatan yang sederhana. Hal ini tentunya tidak sebanding dengan probabilitas tingkat resiko kecelakaan yang dihadapi.
Pemerintah sebenarnya telah mengeluarkan aturan yang cukup tegas dan cukup jelas tentang regulasi keselamatan dan kesehatan kerja yang harus diterapkan oleh perusahaan-perusahaan yang beroperasi di tanah air. Namun entah mengapa dalam pelaksanaannya masih carut marut tidak jelas. Sejauh ini, mungkin perusahaan-perusahaan yang telah gointernational seperti di bidang migas yang telah menerapakan dengan cukup baik aturan ini, selebihnya susah untuk dilakukan pengontrolan. Apakah penyebabnya? Apakah karena kultur masyarakat kita sudah sedemikian lalai dan tidak terlalu memperdulikan tentang prosedur ini hingga mungkin nyawa pekerja memiliki resiko besar untuk hilang dengan mudah di tempat kerja!
Sudah saatnya aturan K3 diterapkan de¬ngan baik untuk meminimalisir ke¬mung¬kinan-kemungkinan buruk yang ti¬dak dapat diprediksi. Mungkin jika ki¬ta menanyakan kepada para pekerja ten¬tang K3, maka sebagian besar pasti men¬jawab hanya pada tingkat yang abu-abu atau tidak begitu memahami dan menyadari arti pentingnya K3 itu sendiri. K3 adalah salah satu jenis hak pekerja agar dapat bekerja dengan baik dengan tetap mengedepankan ke¬se¬la¬ma-tan.
Mengingat begitu pentingnya K3 seharusnya tidak terpinggirkan oleh hak-hal strategis pekerja lainnya seperti nilai gaji yang layak, dan hak-hak lainnya. Yang terpenting adalah pekerja disini adalah objek dan sekaligus sebagai subjek dari regulai K3 itu sendiri, sehingga jika K3 dilaksanakan dengan baik maka pekerja itu sendiri akan menerima efek positifnya dan begitu juga untuk keadaan sebaliknya.
Penerapan dengan baik akan regulasi keselamatan dan kesehatan kerja bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga tanggung jawab semua elemen yang terlibat di dalamnya seperti pihak perusahaan atau wirausaha, pekerja, dan ma¬syrakat secara keseluruhan.
Ingat! International labour Organization ( ILO ) memperkirakan di seluruh dunia ada 6000 pekerja kehilangan nyawa setiap hari akibat kecelakaan, luka-luka, dan penyakit akibat resiko kerja.
Selain itu setiap tahun 270 ju¬ta pekerja menderita luka parah dan 160 juta lainnya mengalami penyakit jang¬ka panjang ataupun pendek terkait dengan pekerjaan mereka.
Banyak perusahaan tidak menyediakan alat keselamatan dan pengaman untuk pekerjanya. dan banyak pengusaha juga mengabaikan K3 karena enggan mengeluarkan biaya tambahan. Hukum sudah dengan ketat mengaturnya cuma implementasi di lapangan tidak semudah itu.
Sekarang semua harus menyadari bahwa K3 sangat penting artinya untuk diiplementasikan dengan nyata di lapangan demi perusahaan maupun pekerja sendiri.

Sumber : Pengertian Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) secara praktis « Habibie’s Personal Blog.htm dikses pada 16 Desember 2012

Panduan K3 « B4D3 CONSULTANTS.htm diakses pada 16 Desember 2012

file:///E:/K3%20dan%20Budaya%20Keselamatan%20%20%20Artikel%20K3.htm diakses pada 16 desember 2012

Kuli-Bangunan1 kuli-bangunan aneh IMG00907-20121019-0920

Tentang k3tium

sehat dan bersemangat
Pos ini dipublikasikan di BuS1A12-ErzhaRozhalinaShofiuyun. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s