Tugas 3 : DYA RATNA OCTAVIANING PUTRI

“Tugas 3 serba-serbi K3 TI UM”

Penerapan K3 serta Alat Penunjang di Laboratorim Teknik Industri

            Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau K3, sangat perlu diperhatikan.Tidak hanya penting bagi suatu perusahaan atau indudtri besar saja,atau instansi tertenu, namun bagi mahasiswa yang berhubungan dengan mata kuliah yang berbahaya pun perlu memperhatikan dan mengerti bagaimana pentingnya menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Namun pada kenyataannya kurangnya kesadaran seseorang dalam menjaga kesehatannya sendiri, karena mengabaikan adanya Keselamatan dan Kesehatan, padahal penerapan tersebut bisa memunculkan dampak buruk terhadap dirinya sendiri, dan besarnya kemungkinan terjadi kecelakaan yang bisa menimpa dirinya apabila tidak menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Saya adalah salah satu mahasiswi baru angkatan 2012/2013 yang pendidikan  saya berasal dari SMA, bukan berasal dari SMK Teknik Industri Tata Busana. Jadi dalam mata kuliah yang diajarkan, saya belum pernah mengalaminya atau mempelajarinya. Khusunya mata kuliah Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Dalam mata kuliah inilah saya baru mengerti apa pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan bagaimana penerapannya, khususnya dalam Teknik Industri Tata Busana. Sehingga membuat saya lebih memperhatikan lingkungan dan kondisi kesehatan ketika berhadapan dengan mata kuliah yang kemungkinan munculnya suatu bahaya.Terutama banyak mata kuliah yang saya pelajari di semester pertama ini. Karena beberapa mata kuliah berhadapan langsung dengan macam – macam messin indutri yang berbahaya dan belum pernah saya kenal apalagi menggunakannya atau mengoperasikan secara langsung. Jadi sangat dibutuhkan dalam menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, karena sering  menghadapi praktek mengoprasikan alat – alat jahit yang berbahaya.

Selain mengutamakan kesehatan sendiri, hendaknya kita juga harus peduli terhadap lingkungan tersebut apakah perlu perbaikan atau perlu pengecekan ulang. Karena  kondisi alat – alat jahit tidak selamanya akan berjalan mulus, dan dinamo tetap stabil. Oleh karena itu bahaya dan kemungkinan terjadinya kecelakaan menjadi bertambah. Maka sekali lagi sangat pentingnya menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Teknik Industri Tata Busana, khususnya ketika di ruang Laboratorium.

Pada Laboratorium Teknik Industri  UM banyak fasilitas yang ada. Seperti  tersedianya mesin – mesin, seperti mesin obras ada beberapa macam, mesin neci, mesin pemasang kancing, mesin press ada beberapa macam, mesin pemasangan kribs, Mesin kelim sarung, Mesin pemasang elastic, Mesin pemasang kancing, Mesin lubang kancing manual, Mesin lubang kancing otomatis, Mesin pemotong kain. Mesin juki, Mesin obras benang 3 dinamo besar, Mesin obras benang 4, Mesin kelim benang 3 setikan 2, Mesin kelim benang 4 setikan 3, Mesin neci benang 3, Mesin neci benang 4, Mesin overdeck, dll.

Fasilitas yang ada pada Laboratorium memang cukup lengkap, tersedianya mesin – mesin jahit , mesin – mesin industri seperti yang telah saya sebutkan bermacam – macam dan ada beberapa mesin portable. Tetapi mesin portable tidak akan dikeluarkan apabila mesin jahit yang biasa masih banyak yang tidak digunakan. Hanya saja yang saya tahu pada laboratorium belum ada mesin bordir. Dan kurangnya mesin obras yang membuat mahasiswa harus mengantri dan bergantian menunggu giliran.

Pada Laboratorium Teknik Industri juga disediakan  peralatan untuk memperbaiki mesin, seperti pinset untuk menarik benang putus. Lalu oli untuk membasahi mesin agar dinamo tidak macet dan mesin tidak kering dan sebagainya. Namun  masih kurangnya perhatian yang optimal pada mesin – mesin tertentu sehingga mengakibatkan beberapa mesin mengalami kerusakan – kerusakan.

Selain itu, telah tersedia fasilitas penunjang yang lain yaitu, adanya kipas angin untuk menambah sirkulasi udara, karena yang saya rasakan walaupun fentilasi udara dengan jendela saja tidak cukup, melihat ruangan lkaboratorium ruang 203 terlalu sempituntuk digunakan mahasiswa 30 anak lebih. Hanya laboratorium sebelah barat saja yang ventilasinya cukup baik, serta rangannya yang luas. Sehingga cahaya dan ventilasi udara dapat masuk ke dalam ruangan. Sehingga ruangan Laboratorium tidak pengap, tidak gerah dan panas, karena sirkulasi udara dapat keluar – masuk jendela secara lancar, sehingga tanpa adanya kipas angin pun, Laboratorium terasa sejuk., tidak seperti di laboratorium ruang 203 yang terasa pengap serta gelap.

Telah disediakan beberapa macam setrika, seperti strika uap dan setrika khusus untuk pameran tata busana, disediakan pula kotak P3K, apabila ada kecelakaan kerja minimal ada pertolongan pertama, dan lain sebagainya. Hanya saja yang masih belum terdapat APAR (Alat Pemadam Api Ringan). Seharusnya APAR harus tersedia, untuk penanggulangan kebakaran, tetapi masih belum tersedia di dalam Laboratorium yang di dalamnya banyak mesin – mesin industri. Dan saya belum pernah melihat laboratorium tata busana fasilitas  untuk pelindung yang terbuat dari  fiber glass untuk menghindari tangan dari tusukan jarum, dan menghindari jarum yang putus memantul mengenaipengguna. Seperti yang saya lihat pada tenik industri tas yang telah saya observasi ketika ada tugas mata kuliahn Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Laboratorium Teknik Industri Tata Busana dijaga oleh Bu Ar dan juga di jaga oleh Pak Bambang. Awalnya mereka saya kira galak, namun setelah saya mengenal dan ketika saya mengalami kesulitan dalam meoperasikan mesin – mesin industri, beliau selalu membantu saya agar saya mampu dan bisa menjalankan atau mengoperasikan mesin dengan baik dan tanpa rasa takut. Walaupun memang sebelumnya saya belum pernah mengoperasikan mesin – mesin tersebut. Sehingga wajar saja kalu saya perlu bimbingan beliau. Bu Ar adalah Laboran di sebelah timur, dan Pak Bambang sering saya jumpai menjaga Laboratorium mesin – mesin industri, mereka lah yang sangat bertanggung jawab pada Laboratorium Teknik Industri Tata Busana. Karena mereka ditugaskan untuk menjadi Laboran.

Tugas mereka tidak hanya menjaga Laboratoriujm saja, namun bertanggung jawab atas kondisi Laboratorium, misalnya tentang kebersihan, beliau menjadwal setiap kali off tata busana yang menggunakan laboratorium tersebut. Sehingga setiap kali digunakan ruangan laboratorium, selalu ada yang piket. Karena kita masuk ke dalam Laboratorium dalam keadaan bersih dan meninggalkan Laboratorium pun juga dalam keadaan bersih.Untuk kebersihan. Laboratorium disediakanlah alat – alat kebersihan, mulai dari sapu, tong sampah dan lain sebagainya.

Bukan hanya alat kebersihan yang tersedia tetapi adanya juga peralatan untuk memperbaiki mesin – mesin yang mengalami kerusakan.Tersedia peralatan yang lengkap dalam satu kotak besar.Di dalam kotak tersebut banyak tersedia obeng – obeng berbagai macam ukuran.Kotak tersebut lengkap dengan isinya. Sehingga tak perlu susah – susah mencari peralatan, karena semua peralatan terletak dalm satu kotak besar tersebut.

Bu Ar dan Pak Bambang juga bertanggung jawab atas kondisi mesin – mesin, atau alat – alat yang ada pada laboratorium.  Apabila terjadi kerusakan atau kekonsletan, bahkan kehilangan alat – alat yang ada dalam laboratorium. Oleh lkarena itu, Bu Ar dan Pak Bambang mengantisipasi dengan setiap anak yang ingin meminjam alat jahit, misalnya sepul, benang obras, jarum jahit, dipastikan nama peminjam masuk ke daftar buku peminjam, sehingga dapat diketahui barang – barang yang dipinjam dan barang – barang yang telah dikembalikan. Berbeda  ketika mahasiswa yang ingin meminjam mesin jahit portable, mahasiswa tersebut harus menyerahkan Kartu Tanda Mahasiswa Universitas Negeri Malang, sebagai jaminan ketika barang – barang yang mereka pinjam aada yang rusak atau hilang karena belum dikembalikan.

Bu Ar dan Pak Bambang juga sering membenahi mesin yang mengalami kerusakan ringan, seperti memasangkan benang obras yang putus, membenahi setikan mesin jahit yang terlalu kecil atau terlalu renggang, dan Pak Bambang juga membenahi listrik yang mengalami kekonsletan,.Selain itu, mengajari anak – anak bagaimana memperbaiki mesin yang memiliki kerusakan – kerusakan kecil agar dapat memperbaikinya.

Namun ada beberapa mesin yang terdapat pada Laboratorium ketika mengalami kerusakan, Pak Bambang tidak diperbaiki sendiri, karena mesin – mesin tersebut harus ditangani oleh teknisi yang lebih mengerti dan lebih handal, dan ada dana khusus untuk memanggil teknisi, dan memperbaiki mesin – mesin yang mengalami kerusakan – kerusakan.

Selain itu, saya juga menjumpai sedikit aturan atau nasehat untuk mahasiswa teknik industri tatabusana yang ingin menggunakan laboratorium, karena telah dipaparka dalam sebuah pengumuman, yaitu untuk tidak membawa makanan atau minuman berasa ke dalam Laboratorium, dan memakannya di dalam laboratorium.

Karena kakak tingkat yang dahulu sering kali membawa makanan dan makan makanan tersebut dalam laboratorium dengan seenaknya, tanpa bertanggung jawab atas sampah makanan atau sisah makanan yang mereka bawa, dan sering kali minuman yang mereka bawa tumpah ke lantai, atau tumpah mengenai barang – barang temannya, sehingga dalam mengantisipasi hal tersebut. Dikeluarkanlah aturan tersebut dan inilah bukti dokumentasi

Beliau sering mengingatkan kepada mahasiswa untuk tidak makan, membawa makanan dan minuman di dalam Laboratorium, itu dikarenakan :

ü  Sampah makanan akan mengotori Laboratorium.

ü  Makanan tersebut akan mengotori barang – barang yang akan dibuat praktek.

ü  Jika minuman tersebut tumpah akan mengotori lantai.

ü   jika mengenai mesin akan merusak komponen yang ada di dalamnya, dan jika terkena listrik maka akan menimbulkan konsleting listrik dan menimbulkan bahaya yang fatal.

ü  Saat makan dan bekerja (memegang kain), tangan akan memegang kain yang mengandung bahan – bahan kimia. Saat makan, makanan yang kita ambil dengan tangan kita yang telah terkontaminasi dengan bahan – bahan berbahaya tersebut kemudian makanan tersebut kita makan dan masuk ke perut.

Selain itu, masih banyak kerugian yang akan didapatkan. Memberi keringanan apabila lapar atau ingin makan sesuatu, maka makanlah di luar Laboratorium. Untuk menghindari korsleting listrik, Laboratorium Teknik Industri Tata Busana penataan listriknya untuk mencolokkan mesin jahit dinamo, stop kontak  atau colokan kabel di buat menggantung di atas, tidak ditanam di lantai. Semua itu ditujukan apabila mengalami konsleting listrik, listrik tersebut tetap aman karena tergantung dan tidak terinjak oleh kaki. Namun menurut saya penataan itu membuat keadaan laboratorium terlihat kurang tertata karena kabel – kabel yang tergantung. Kadang juga masih mengalami terbelit kabel – kabel tersebut ketika mau lewat. Mungkin juga karena ruangan Laboratorium kurang luas.

Dalam Laboratorium sudah disediakan Alat Pelindung Diri, seperti masker. namun mahasiswa masih kurang peduli akan kesehatannya dan menganggap masker membuat ribet,padahal dalam laboratorium tata busana banyak sekali debu – debu kecil yang sangat mengganggu pernafasan kalau dibiarkan terus menerus.karena sering kali serat –serat kain yang berterbangan. Ketika akan prektek dan masuk ke dalam labofratorium tatabusana diharuskan memakai celemek, celemek yaitu alat perlindungan diri yang melindungi tubuh dari kotoran-kotoran semisal potongan benang yang patah, kemudian juga bisa melindungi pakaian si pemakai sehingga misal ketika mengobras, pakaian si pemakai tidak ikut keobras, jadi sangat berguna.

Ketika  masuk ke dalam Laboratorium haruslah menggunakan alas kaki, yang akan melindungi kaki ketika menoperasikan mesin jahit yang beraliran listrik. tetapi tidak dianjurkan memakai alas kaki yang berhak tinggi, karena saat menginjak dinamo mesin akan kesusahan dan bisa mencelakai diri sendiri, Bu Ar menghimbau agar anak yang memakai alat kaki berhak tinggi agar membawa alas kali japit yang datar , agar memudahkan ketika menginjak dinamo. Namun banyak juga mahasiswa yang melepaskan las kakinya, seperti saya terkadang karena memang  lebih nyaman tanpa menggunakan alas kaki. Mungkin mereka sudah terbiasa, dan merasa terganggu jika menggunakan masker dan alas kaki, seperti yang saya rasakan.

Dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dihimbau ketika akan menggunakan ruangan Laboratorium, juga dihimbau bagi yang memiliki rambut panjang agar  mengikat rapi rambutnya, agar tidak terjadi kecelakaan kerja. Namun Alhamdulillah teman saya satu kelas tidaka ada yang berambut panjang, bahkan rata – rata mereka berkerudung. Jadi terhindar dari kecelakaan kerja karena berambut panjang.

Dalam menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Laboratorium Tata Busana, praktek mata kuliahnya membutuhkan waktu beberapa jam, misalnya ketika mata kuliah saya yaitu Teknik Dasar Menjahit, dari pukul 10.30 sampai pukul 17.00 sore, sehingga membutuhkan untuk makan siang, karena dalam melakukan praktikum ini membutuhkan tenaga dan menjaga kesehatan. Agar kita tidak kelaparan dan pingsan, maka disarankan agar mahasiswa membawa bekal dari rumah atau kost sendiri. Selain menjaga kesehatan, juga dapat lebih ekonomis.

Karena telah dibakukan dalam hukum, yang telah mengatur APD :
1. Undang-undang No.1 tahun 1970.
a. Pasal 3 ayat (1) butir f: Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat untuk memberikan APD
b. Pasal 9 ayat (1) butir c: Pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang APD.
c. Pasal 12 butir b: Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja untuk memakai APD.
Pasal 14 butir c: Pengurus diwajibkan menyediakan APD secara cuma-cuma
2. Permenakertrans No.Per.01/MEN/1981
Pasal 4 ayat (3) menyebutkan kewajiban pengurus menyediakan alat pelindung diri dan wajib bagi tenaga kerja untuk menggunakannya untuk pencegahan penyakit akibat kerja.
3. Permenakertrans No.Per.03/MEN/1982
Pasal 2 butir I menyebutkan memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja, pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan ditempat kerja
4. Permenakertrans  No.Per.03/Men/1986
Pasal 2 ayat (2) menyebutkan tenaga kerja yang mengelola Pestisida harus memakai alat-alat pelindung diri yg berupa pakaian kerja, sepatu lars tinggi, sarung tangan, kacamata pelindung atau pelindung muka dan pelindung pernafasan.

Kesimpulan

Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) sangat diperlukan di dalam dunia kerja untuk melindungi para pekerja terhadap kemungkinan potensi resiko kecelakaan yang bisa terjadi. Untuk itu pemerintah menetapakan peraturan-peraturan yang berkaitan tentang penggunaan dan penerapan APD di dunia kerja.

Jenis-jenis APD bermacam-macam disesuaikan dengan fungsinya untuk melindungi objek yang dirasa perlu untuk dilindungi.

Pembuatan APD harus sesuai dengan acuan Standard Nasional Indonesia (SNI) atau standard internasional. Kelayakan penggunaan APD ditentukan oleh hasil pengujian kelayakan oleh lembaga terakreditasi yang selanjutnya jika telah terpenuhi akan diberikan sertifikat kelayakan dan nomor pendaftaran.

Tempat kerja yang wajib memakai APD dibagi menjadi tiga yakni tempat kerja yang resiko bahayanya disebabkan faktor kimia dan fisika, tempat kerja pengolahan dan pertambangan mineral serta logam, dan terakhir adalah tempat kerja yang berlokasi dekat air atau di air.

Kewjiban pengusaha sebagai pelaksana industri adalah mengadakan APD bagi pekerjanya, memastikan penerapan di lapangan bisa dalam bentuk perawatan, pemberian APD yang baru bagi pekerja, pemusnahan APD yang sudah tidak layak pakai,pembinaan terhadap pekerja, dan penunjukan petugas penatalaksana alat pelindung diri.

 

B.  SARAN

Penerapan Alat Pelindung Diri harus lebih dioptimalkan sebagai bagian dari sistem kesehatan dan keselamatan kerja. Pemerintah perlu membuat undang-undang yang lebih tegas di dalam mengatur sangsi-sangsi terhadap pelanggar undang-undang tentang kesehatan dan keselamatan kerja. Selain itu kesadaran dari para pekerja tentang kesehatan dan keselamatan kerja juga harus lebih ditingkatkan. Karena pada umumnya kecelakaan-kecelakaan kerja yang terjadi di dunia industri adalah akibat faktor kelalaian pekerja itu sendiri.

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Bu Ar Laboran TataBusana, Pak Bambang Laboran TataBusana,

http://muhammadrohan.wordpress.com/2010/11/26/prosedur-penerapan-k3/

Safety.do.tim. 2010. Dasar Hukum Alat PelindungDiri, (Online), (http://www.safetydo.com/2010/12/dasar-hukum-alat-pelindung-diri.html), diakses 20 September 2011.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia NomorPer.08/MEN/VII/2010tentang Alat Pelindung Diri. Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 330. 2010. Jakarta: Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia.

http://id.wikipedia.org/wiki/Alat_pelindung_diri        

http://hiperkes.wordpress.com/2008/04/04/alat-pelindung-diri/

http://eviezie.blogspot.com/2011/06/alat-pelindung-diri-apd-k3.html

 IMG-20121220-00190

 

 

 

masker1

Tentang k3tium

sehat dan bersemangat
Pos ini dipublikasikan di BuS1A12-DyaRatnaOctavianingPutri, Dwi Astuti Sih Apsari. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s