Tugas 1 Lingkungan Sekitarku

Gambar

18 Years Old Live in a Clean Environment


—–>My Life_Ketika Aku Balita

Ashfiyah Ika Firdaus adalah namaku. Aku adalah anak pertama dari pasangan suami-istri yang bernama Hasan Busri dan Titik Umayati. Aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Pada waktu kecil, aku diasuh oleh Bapak dan Ibu angkatku di Pasuruan. Selama aku tinggal di Pasuruan, orang tua angkatku selalu memberi didikan dan kasih sayang yang penuh kepadaku. Bapak angkatku adalah seorang Guru SD dan Ibu angkatku adalah Ibu rumah tangga. Aku sayang kepada mereka, sama seperti sayangku kepada Bapak dan Ibu kandungku. Di tempat tinggalku Pasuruan, Bapak dan Ibuku selalu menanamkan kebersihan kepadaku. Mereka selalu berkata bahwa Lingkungan yang bersih bisa menjadikan kita hidup sehat. Maka dari itu dari aku kecil, mereka selalu mengajariku akan kebersihan. Di Tempat tinggalku Pasuruan, aku memiliki beberapa macam bunga di Halaman rumah salah satu bunga yang aku suakai yaitu Bunga Air Mancur.

—–> My Life_Ketika Aku TK dan Kembali Tinggal diBanyuwangi

Pada umurku yang ke-4 Tahun, Allah memberikan kado terindah untukku yaitu adek perempuan kecil yang manis, cantik dan lucu yang bernama Lutfiah Nur Mufidah. Setelah kelahiran adekku, Aku meniggalkan tempat kelahiranku Pasuruan dan pindah ke tanah kelahiran Bapakku yaitu di Banyuwangi. Kehidupan di Banyuwangi sangat jauh berbeda dengan di Pasuruan. Di Banyuwangi aku tinggal di Desa Bajulmati Kec. Wongsorejo. Tempat tinggalku kurang bersih dan terkadang Bau. Ini terjadi karena rumahku tidak jauh dengan Pasar tradisional. Setiap pagi para pedagang Ikan, Sayur, Makanan, dan pembeli apa bila sedang akan pergi ke Pasar selalu melintasi rumahku. Itu sebabnya rumahku selalu ramai setiap pagi. Di banyuwangi Bapak dan Ibuku menekolahkanku di TK Kumala Bhayangkari Banyuwangi. Dan saat itu aku memiliki banyak teman yang mengerti apa itu guru. Di TK Kumala Bhayangkari, aku memiliki guru yang biasa aku panggil dengan nama Bu. Wanyan dan Bu. Suci, mereka adalah guru pertama yang kau temui dibangku sekolah. Bu Wayan, nama lengkpnya adalah Ni Wayan Sari. Beliau adalah guru yang mengajar di tingkat TK Kecil. Setiap hariku disekolah, aku habiskan dengan bermain dengannya. Orangnya ramah, santun, sabar. Setiap anak yang diajarkan akan merasa senang.

Jika ditanya apakah aku mengagumi sosok Bu. Wayan??? Akan aku jawab dengan tegas IYA, alasannya beliau adalah guru yang sabar dalam membimbing murid-muridnya dan ada satu hal yang membuatku kagum pada beliau yaitu beliau hafal beberapa surat yang terkandung didalam Al-Qur’an meskipun sebenarnya agama beliau bukan agama islam, melainkan agama Hindu. Guruku yang kedua yaitu Sri Suci Lestari, aku memanggilnya Bu. Suci. Beliau adalah guru ditingkat TK Besar. Orangnya tegas, disiplin, dan keras. Aku memberi gambaran untuk beliau yaitu guru yang galak, karena itulah sosok beliau. Berbeda dan bertolak belakang dengan Bu. Wayan, Bu. Suci beragama Islam. Namun meskipun bertolak belakang kedua guruku itu juga memiliki kesamaan takdir yang unik, yaitu suaminya sama-sama berprofesi sebagai polisi dan rumah merekapun bersebelahan. Sebenarnya, masih banyak guru-guruku di TK namun Cuma Bu. Wayan dan Bu. Suci saja yang masih tersimpan didalam memori ingatanku sampai saat ini. Guru-guruku di TK selalu mengajarkannku akan kebersihan lingkungan. Bagi mereka, lingkungan yang bersih akan menciptakan suasana belajar yang nyaman dan indah. Dan ternyata itu semua benar.

Ketika aku TK setiap pagi aku baris di halaman sekolah untuk mengerjakan aktivitas rutin yaitu olahraga senam pagi. Senam pagi yang terkenal di tempat tinggalku Banyuwangi, terkenal dengan senam Lare Oseng. Lare Oseng adalah senam khas Banyuwangi. Gerakan senam yang dipraktekannya cukup sulit, karena senam Lare Oseng hampir menyerupai gerakan-gerakan tari Gandrung Banyuwangi. Namun senam Lare Oseng akan menjadi mudah jika kita dari awal sudah mengetahui beberapa gerakan tarian Gandrung Banyuwangi.

aku memiliki sahabat laki-laki, bermata sipit, berambut hitam dan berkulit putih yang bernama Dhany. Dia anak dari atasan bapakku. Dulu bapakku bekerja pada orang Cina yaitu ayah Dhany yang biasa aku panggil Om Taehoek. Tempat tinggal Dhany cukup jauh dari rumahku, mungkin sekitar dua kilometer dari rumahku. Rumah Dhany indah, rapi, bersih, harum, dan menenangkan. Ibu Dhany selalu telaten dalam menjaga kebersihan rumanya. Ketika aku berkunjung kerumah Dhany, sang ibu selalu menjamuku dengan beberapa kue kering kesukaanku, seperti kue putri salju dan kacang sembunyi.

Yang paling menarik ketika aku berkunjung kerumah Dhany, aku belajar memanen udang dari tambaknya. Ayah Dhany memiliki peternakan udang yang cukup luas disekitar rumahnya. Tidak hanya indahnya tambak udang, tetapi disebelah rumah Dhany terdapat pantai yang cukup indah yang dari dulu sampai sekarang sering aku dan orang-orang katakan adalah pantai Bimo. Pantai Bimo merupakan pantai yang paling dekat dengan jarak rumahku dari pada pantai-pantai yang lain. Pantainya indah, pohon-pohon kelapa sepanjang jalan mengisi keindahan pantai, dan persawahan milik petani melengkapi suasana pantai, tapi itu dulu… meskipun sekarang masih tetap ada sawah, pohon kelapa dan tanaman-tanaman bunga yang indah namun seiring dalam perkembangan waktu keindahan itu mulai memudar karena ulah masyarakat sekitar yang kurang memperhatikan kebersihan akan pantai bimo. Para pengunjung yang datang sering membuang bungkus makanan yang mereka bawa dan sering sekali ketika mereka makan bekas makanannya tidak mereka bersihkan. Para warga sekitarpun kewalahan menegur para pengunjung hingga akhirnya warga menyerah dan membiarkan sampah-sampah itu menghiasi indahnya pantai bimo. Itu yang sekarang sedikit membuatku kecewa jika berkunjung kesana, keindahan pantai yang dulu tidak seindah pantai yang sekarang. Tidak lama bapakku kerja pada ayah Dhany, karena Dhany dan keluarga memutuskan untuk pindah kekota. Dan sejak saat itu sampai sekarang aku tidak bertemu dengan Dhany. Hingga akhirnya akupun memutuskan untuk melanjutkan sekolah dasar dan kembali ke tanah kelahiranku di Pasuruan dengan ikut Bude ku disana.

—-My Life_Ketika SD

DSC06863

Tahun 2000, SDN 1 Kebonagung  Kota Madya Pasuruan. Pak deku menyekolkahkannu disana. Sekolahnya besar, bagus, indah, bersih dan rapi. Namun sayang, aku tidak betah sekolah disana. Sebenarnya aku ingin sekali sekolah di SDN 1 Temenggungan karena sekolah itu adalah tempat sekolah waktu ibuku masih kecil dulu. Tapi ayah angkatku (Pak De) tidak mengijinkan dengan alasan SDN Kebonagung memiliki standart pengajaran, fasilitas dan kurikulum yang jauh lebih baik dari pada SDN 1 Temenggungan, tidak ada maksud untuk membeda-bedakan, namun ayah angkatku menginginkan yang terbaik untukku. semakin lama, aku semakin menyayangi sekolahku itu,. bagaimana tidak? Di  SDN Kebonagung, aku jalani hari-hariku dengan penuh kegembiraan bersama teman-teman. Aku sering bermain di taman dekat ruang Kesehatan. Aku merasa senang sekolah disana, sekolahnya luas, bersih dan dipenuhi dengan tumbuhan-tumbuhan subur. Hari-hariku tetap sama, aku habiskan dengan bermain dan belajar bersama teman-teman disekolah dan dirumah. Tempat yang beda, teman yang beda pula. Tidak ada Dhany yang biasa mememani lagi. Melainkan teman-teman baru.

Di Pasuruan aku menemukan seorang teman yang bernama Kholis, Edo, Aji, Mega, Fita dan Rofi’ (sepupuku). Mereka sahabat yang biasa menemaniku selama aku berada di Pasuruan dan mereka selalu memberiku kenangan. Kabar yang tidak mengenakkan yang aku dengar dari keluargaku kemarin, aku kehilangan seorang teman dan sahabar yang harus meniggalkan dunia. Edo, teman kecilku yang aku saying. Dia mengalami kecelakaan sewaktu dia hendak pulang kerumah setelah bermain game dirumah temannya. Dia meninggal tertabrak mobil besar pengankut paku bumi. Kabar yang aku dapat, tubuhnya sudah tidak utuh lagi. Itu yang membuatku merasa terpukul atas kematiannya yang tragis. Sempat dia dibawa ke RSUD DR. Saiful Anwar, namun alat-alat kedokteran sudah tidak mampu lagi menyembuhkan dia. Hanya beberapa jam saja dia berada dirumah sakit itu lalu dia wagat. (kabar 2012)

—–> My Life_Masa-masa SMP/MTs

Ketika aku sudah Lulus dari Sekolah Dasarku… aku melanjutkan lagi ke jenjang menengah… aku kembali ke Banyuwangi. Di Banyuwangi aku tinggal dirumah baruku. Rumah baruku jauh berbeda dengan rumahku yang lama. Jika rumahku yang lama terlihat sempit, kotor, bau, ramai karena dekat pasar, kalau rumahku yang sekarang bersih dan cukup jauh dari pasar. Aku senang dengan rumah baruku, jika aku bermain dibelakang rumah terlihat dari sebelah utara Gunung Baluran dan terlihat dari sebelah barat Gunung Semeru. Rumahku sangat Asri, banyak tanaman yang ditanam dirumah, bapakku sangat telaten dalam merawatnya begitu juga denganku dan semua keluargaku. Kebersihan rumah selalu dijaga. Kotak P3K selalu tersedia dimeja belakang. Bapak dan semua keluargaku sangat antusias dalam menjaga kebersihan karena bersih itu sehat.

—–> My Life_Masa-masa SMK

IMG_1534

Selama tiga Tahun aku menjalani pendidikanku di MTsN Wongsorejo. Hingga akhirnya aku naik ke pendidikan atas yaitu SMA/SMK/Sederajat. Ketika aku dibingungkan akan kemana aku melanjutkan sahabat-sahabatku yang bernama Asfiati, Novi Windayani, Endang Purwati, dan Yulia Prastika mengajakku untuk melanjutkan ke SMK Negeri Wongsorejo. Ajakan mereka aku tolak, karena di SMKN Wongsorejo tidak ada jurusan yang aku inginkan. Mulai dari dulu aku bercita-cita untuk menjadi seorang Chef. Angan-anganku sangat tinggi untuk menjadi seorang Koki yang Handal. Aku ingin menciptakan suatu resep masakan yang baru untuk Ibuku… namun semua itu harus aku pendam dan berusaha aku simpan, karena ditempatku tinggal hanya ada satu SMKN yaitu hanya SMKN Wongsorejo saja dan disana tidak ada jurusan yang aku inginkan yaitu Jurusan Tata Boga. Di Banyuwangi sebenarnya masih ada jurusan Tata Boga yaitu di Banyuwangi kota, namun sekolah itu sangat jauh dari rumahku dan jika aku sekolah disana pasti aku harus kost. Dan hingga akhirnya aku memilih SMK Negeri Wongsorejo.

Di SMKN Wongsorejo ada empat jurusan yaitu Akuntansi, Teknik Kendaraan Ringan, Tata Busana dan Teknik Pengelolahan Hasil Pertanian. Setiap jurusan memiliki ruang praktik tersendiri dengan fasilitas yang memadai. Aku adalah siswi jurusan Tata Busana, tepatnya Tata Busana Wirausaha. Di kelas wirausaha, setiap muridnya dibekali dengan ilmu kewirausahaan sehingga selama bersekolah di sana kami sudah dibekali membuka usaha menjahit di rumah masing – masing. Ruangan berkapasitas 24 orang itu lah kelasku. Di lengkapi dengan 30 mesin jahit industry, 4 mesin jahit manual, 2 mesin obras industry, dan juga mesin – mesin lainnya. Ruangan ini memang didisain seperti rumah konveksi. Semua mesin ditata di sebelah kiri ruang, sedangkan untuk meja dan bangku di sebalah kanan. Tentu saja sekolahku sangat memperhatikan keselamatan setiap penghuninya saat mengoperasikan mesin di dalam ruang, hal ini dibuktikan dengan adanya APAR ( alat pemadam api ringan ) yang sudah tersedia di setiap  ruang praktik. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah dan menghadapi adanya kebakaran kecil akibat konslet mesin. Awal pertama masuk di jurusan yang tidak aku sukai sangatlah berat. Bagaimana tidak? Angan-angan belajar memasak di Lab. Dapur untuk masak tiba-tiba saja berubah menjadi lab jahit. Sangat jauh dan bertolak belakang. Hari-hariku serasa membosankan disekolah itu, apalagi kegiatan yang ada disana tidak begitu banyak seperti ekstrakulikuler. Semua itu harus aku maklumi karena sekolahku baru berdiri sekitar tahun 2005 jadi fasilitas yang ada disana masih dalam proses penyempurnaan. Pada waktu itu ekstrakulikuler yang ada di SMK ku hanya ada Sepakbola, Bola Volly, Pramuka. Sedangkan Ekstrakuler seni dan kesehatan seperti PMR masih belum ada. Meskipun ekstrakulikuler PMR tidak ada namun fasilitas kesehatan untuk siswa-siswa yang ada disana tetap tersedia dengan lengkap dan baik. Jika teman-temanku ada yang sakit dengan segera petugas sekolah mengantarkannya keruang UKS.

Foto3114

Ketika aku menjalani hari-hariku dikelas dengan teman-teman awalnya sangat berat. Tapi semakin lama semakin menjadi mudah dan ringan. Akhirnya aku menerima kenyataan bahwa aku harus berada di lingkungan Tata Busana. Akupun menekuni dunia itu hingga sungguh-sungguh dan hingga akhirnya ketika satu Tahun aku menjalaninya tanpa diduga ternyata nilai Raport ku tidak begitu buruk. Alhamdulillah aku masuk dalam golongan lima besar didalam kelas. Dan aku benar-benar ingin menekuni bidang Tata Busana.

Foto1096

Disekolahku, aku mendapatkan Mata Pelajaran Kewirausahaan. Ketika mata pelajaran itu guruku menugaskan teman-teman ku belajar untuk menjadi seorang wirausaha. Karena lahan sekolahku yang luas guruku menyuruh teman-teman dan aku menanam sayuran dan aku beserta teman-temanku setuju akan menanam timun. Kami dibagi menjadi enam kelompok yang setiap kelompok diisi oleh lima orang. Anggota dari kelompokku adalah sahabatku sendiri yaitu Asfiati, Endang Purwati, Novi Windayani, dan Yulia Prastika. Tugas yang diberikan oleh guruku tidak hanya berlaku untuk kelasku saja tetapi untuk semua siswa dan siswi kelas dua belas. Sejak guruku memberi tugas itu, sekolahku yang tadinya gersang sekarang berubah seolah-olah menjadi perkebunan sayur yang subur. Semua terlihat sangat indah karena tanaman yang aku dan semua teman-temanku tanam. Memang jika tanah dan lahan yang luas dibiarkan sangat sanyang, maka dari itu guruku menugaskan aku dan semua teman-teman.

Semakin hari semakin bertambah sayang aku pada sekolahku. Ketika istirahat tiba, aku dan temanku selalu bermain-main di hutan belakang sekolah. Benar-benar suasana desa yang membuatku nyaman. Udaranya sejuk, suara burung bernyanyian, padang rumput yang subur, pohon-pohon tinggi yang menenangkan, dan suara-suara sapi yang sedikit mengganggu tapi menyenangkan.

Tidak terasa, sudah tiga tahun aku berada di  SMKN Wongsorejo. Ternyata sekolah yang tadinya aku kita buruk ternyata memberiku banyak Ilmu dan Pengetahuan. Sekolah yang aku anggap itu kotor ternyata sangat bersih, indah, dan asri. Aku tidak akan melupakan masa-masa ku disekolah bersama teman-teman dan para guruku.

—–> My Life_dikehidupan Perguruan Tinggi Negeri

um1

Setelah aku Lulus dari SMKN Wongsorejo, aku melanjutkan ke jenjang Perguruan tinggi. Kini aku sudah 18 Tahun, yang tadinya aku mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tua sekarang harus sedikit demi sedikit belajar untuk menjadi perempuan Dewasa. Ketika aku akan masuk di Perguruan tinggi, aku memilih Universitas Negeri Malang karena dari aku kecil sampai aku ber-umur 18 Tahun orang tuaku selalu berpesan bahwa Universitas Negeri Malang adalah salah satu Universitas Negeri yang mampu menciptakan generasi yang berkompeten. Tidak hanya itu saja, di UM kampusnya sangat luas, bersih, dan nyaman. Ketika namaku masuk didalam daftar nama Mahasiswa baru, aku sangat bangga. Bagaimana tidak, aku harus belajar menjadi Mahasiswa yang mandiri dan dewasa. Semua sisi negative ku harus mulai dihilangkan satu persatu dan aku harus mulai menguatkan mental dan rasa percaya diri, karena kehidupan di kampus sangatlah berbeda dengan kehidupan di SMK. Dunia kampus sangatlah bebas dan menawarkan banyak pilihan, hanya mereka – mereka yang memiliki mental kuat dan berkomitmen yang bisa bertahan dengan kebebasan kampus dan terus berprestasi.

Banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan ketika aku berada di Pasuruan, Banyuwangi, dan sekarang berada di Malang yaitu tidak peduli ada dimana aku berada dan tinggal, aku harus bisa menjaga kesehatanku, kebersihanku, dan keselamatanku. Aku selalu berusaha untuk memegang teguh pada Ilmu K3 dalam lingkunganku baik lingkungan keluarga, kampus dan keseharianku. Banyak orang yang melalaikan akan pentingnya K3 itu dikarenakan mereka kurang memahami akan bahaya jika mereka tidak menerapkannya. Padahal sudah banyak kasus kecelakaan kerja yang terjadi pada lingkungan masyarakat dan sekitarnya Oleh karena itu, pengetahuan dan penerapan akan ilmu K3 sangat dibutuhkan baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Dokumentasi lingkungan sekitarku…

Gambar

GambarGambarGambarGambarGambar

Penulisan Artikel ini sebagian merujuk pada

https://www.google.com/search?q=wisata+watu+dodol+banyuwangi

Tentang k3tium

sehat dan bersemangat
Pos ini dipublikasikan di D3Bus2012-AshfiyahIkaFirdaus, Dwi Astuti Sih Apsari. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s