Tugas 4 Penerapan K3 di industri

Kelebihan dan kekurangan penerapan K3 di industri konveksi

Sebelum saya menjelaskan tentang k3 pada industri tempat saya melakukan observasi, perkenalkan saya fathiyanti. Sebelumnya saya akan menjelaskan tentang pengertian industri konveksi. Industri konveksi adalah suatu perusahaan yang menghasilkan pakaian jadi  pakaian wanita, pria, anak, dan pakaian olahraga. Umumnya, perusahaan-perusahaan konveksi mempergunakan bahan baku berupa tekstil dari bermacam-macam jenis, seperti katun, kaos, linen, polyester, rayon, dan bahan-bahan syntesis lain ataupun campuran dari jenis bahan-bahan tersebut.

Observasi yang saya lakukan adalah di suatu industi yang bernama De Ress Collection. Perusahaan ini bertempat di Jl. Jodipan Wetan Gang 3A RT 6 RW 6 Kec. Blimbin, (telp. 0341 321945) yang dipimpin oleh Bapak Abdul Rokhim. Industri ini berdiri sejak tahun 2002 dengan hasil produksi kaos olahraga yang mempunyai karyawan sejumlah 22 orang. Jam kerja pada industri ini adalah mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

Pada industri ini proses produksi dilakukan secara berurutan dari pasokan bahan baku hingga pendistribusian. Proses produksi yang dimaksud dapat di uraikan sebagai berikut:

1.      Bahan baku yang dibutuhkan telah dipasok dari agen yang sudah dipercayai yang kemudian diangkut menggunakan alat transportasi menuju tempat penyimpanan barang.

2.      Bahan baku tekstil ditata sedemikian rupa pada rak penyimpanan agar tidak membahayakan pekerja.

3.      Setelah dari gudang, bahan baku akan melalui proses penjiplakan pola dan pemotongan. Bahan digelar di atas papan potong, setelah itu digambar sesuai dengan pola karton yang sudah disiapkan. Setelah semua pola selesai dijiplak, bahan tekstil dipotong sesuai dengan bentuk pola menggunakan mesin pemotong kain.

4.      Setelah bahan menjadi potongan-potongan pola, bagian-bagian yang memerlukan sablon akan masuk ke bagian penyablonan. Pada proses ini terlebih dahulu gambarnya akan didesain di komputer kemudian disablon secara printing ataupun secara manual.

5.      Setelah melalui proses penyablonan potongan-potongan bahan tersebut akan diobras yang kemudian akan dijahit menggunakan mesin obras jahit benang 4, dikelim dengan mesin jahit kelim, dan juga dipasangkan over deck pada bagian garis lehernya. 

6.      Setelah penjahitan dan pengobrasan pakaian selesai, maka pakaian akan melewati proses finishing yaitu buang benang.

7.      Pakaian jadi yang telah selesai dijahit dan telah melalui proses buang benang akan melewati proses cek kelayakan dengan cara quality control yang dilakukan oleh pimpinan industri sendiri.

8.      Pakaian yang lolos quality control akan dikemas dalam plastik kemasan.

9.      Pakaian yang telah dikemas akan diangkut dengan alat transportasi untuk didistribusikan

Untuk Faktor Lingkungan Kerja yaitu:

1. Proses pemasokan barang   : Polusi udara, cuaca.

2. Gudang Bahan                    : Penerangan, iklim kerja, debu.

3. Pemotongan bahan              : Penerangan, iklim kerja, debu.

4. Sablon                                 : Penerangan, iklim kerja, bahan kimia, uap

5. Menjahit                              : Penerangan, iklim kerja, kebisingan, getaran, debu.

6. Finishing                             : Penerangan, iklim kerja, debu.

7. Quality control                    : Penerangan, iklim kerja, debu.

8. packing                                : Penerangan, iklim kerja, debu.

9. Proses distribusi                  : Polusi udara, cuaca.

 

     Dari uraian proses produksi diatas dapat diidentifikasi permasalahan yang dapat terjadi selama proses produksi berlangsung terutama bahaya kecelakaan kerja. Ada beberapa bahaya kecelakaan kerja yang kemungkinan dapat terjadi pada saat proses produksi berlangsung.  Berikut penjelasannya yaitu:

  • ·       pada bagian gudang potensi kecelakaan kerjanya adalah kebakaran.

 

  • ·       Pada bagian pemotongan potensi terjadi jari terpotong, tersengat listrik, dan kosleting.

 

  • ·        Pada bagian sablon potensi terjadi tangan terkena bahan kimia dan setrika, gangguan pernafasan, dan gangguan penglihatan.

 

  • ·       Pada bagian menjahit potensi terjadi terkena jarum jahit, tersengat, kebakaran, dan jari tergunting.

 

  • ·        Bagian finishing potensi jari tergunting.

 

  • ·        Pada bagian packing potensi terjadi tergores dan kejatuhan barang.

 

  • ·        Pada bagian proses distribusi rawan kecelakaan lalu lintas.

     Dari identifikasi dapat diindikatorkan tentang keserasian peralatan dan sarana dengantenaga kerja yaitu:

  • ·         Dari segi keserasian atau kesesuaian pada proses pemasokan barang, alat pengaman yang digunakan sudah sesuai.

 

  • ·          Pada proses pemotongan, ukuran papan potong, posisi duduk, sikap dalam bekerja, cara dan system kerja yang dipergunakan sudah sesuai.

 

  • ·         Pada proses sablon computer dan alat sablon yang dipergunakan telah sesuai. Pada proses menjahit kursi duduk, sikap kerja, cara dan system kerja yang digunakan telah sesuai.

 

  • ·         Pada proses packing kegiatan angkat dan junjung, sikap kerja, ruang gerak yang ada telah sesuai.

 

  • ·         Pada proses distribusi kendaraan dan alat pengaman juga sudah sesuai.Sarana dan peralatan kerja juga termasuk kedalam pemantuan selama observasi diantaranya penyimpanan bahan baku di gudang menggunakan rak penyimpanan, Penjiplakan pola di atas bahan dan proses pemotongan dengan kapur jahit, alat potong listrik, papan potong, dan pemberat, proses obras dan jahit menggunakan mesin obras jait benang 4, mesin jahit kelim, mesin jahit over deck dan gunting.

              Selain itu kecilnya kemungkinan timbul  kecelakaan kerja juga bergantung pada ketepatan manajemen dalam kepedulian terhadap kesehatan pekerja. Namun pada industri ini masihtidak dilaksanakan pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, tidak dilaksanakan pemeriksaan kesehatan berkala, dan dilaksanakan pemeriksaan kesehatan khusus. Di tempat industri yang kami observasi, hanya ada alat-alat P3K yang disediakan sebagai langkah pertolongan awal yang diberikan kepada para pekerja apabila ada yang mengalami kecelakaan dalam bekerja. 

       Selain itu hal yang dapat mempengaruhi adalah Kesesuaian Sikap, Cara dan Sistem KerjaSikap dan sistem dalam kerja juga di perbolehkan untuk komunikasi dengan sesama pekerja dengan waktu yang terbatas. Cara kerja angkut dan angkat yaitu, memegang dengan tepat, lengan berada dekat dengan badan dalam posisi lurus, punggung dalam posisi lurus, posisi kaki tepat dalam menopang tubuh, beban dekat dengan garis vertikal yang melalui pusat gravitasi tubuh.

Pada keselamatan kerja, penunjang keselamatan keja karyawan adalah kehati-hatian pegawai pada proses menjahit dan pemotongan, penggunaan safety riding (motor), safety belt (mobil), dan kepatuhan pekerja terhadap rambu-rambu lalu lintas.

Selain itu penerapan ergonomi juga merupakan slah satu pengaruh pada proses produksi. Ergonomi yang dimaksud diantaranya ketinggian tempat duduk, panjang alas duduk, lebar tempat duduk, sudut alas duduk semua telah sesuai. Begitu pula dengan ketinggian meja, tebal daun meja, permukaan meja, dan lebar meja juga telah sesuai.

Dari penjelasan yang ada diatas dapat dilakukan upaya pencegahan dan penanggulangan yang dapat dilihat dari beberapa aspek diantaranya dari aspek penyakit yang timbul akibat kerja. Penanggulan yang dapat dilakukan adalah peningkatan kesehatan tenaga kerja dengan kesehatan kuratif, proporsional, dan rehabilitative.

Sedangkan dari aspek sikap dan sistem kerja dapat diterapkannya komunikasi antar pekerja juga ketepatan pekerja dalam pengambilan posisi tubuh. Untuk penerapan ergonominya adalah:

Objek

Kriteria

Keterangan

Tempat duduk

·         Tinggi tempat duduk

·         Panjang alas duduk

·         Lebar tempat duduk

·         Sudut alas duduk

Sesuai

Sesuai

Sesuai

Sesuai

Meja kerja

·         Tinggi meja kerja

·         Tebal daun meja

·         Permukaan meja

·         Lebar meja

Sesuai

Sesuai

Sesuai

Sesuai

 

 

 

 

Pencegahan dan Penanggulan penyakit akibat kerja

Aspek

Bentuk pencegahan / penggulangan

Keterangan

Penyakit akibat kerja

·         Mengevaluasi hasil pemeriksaan kesehatan berkala dan khusus secara berkelanjutan dalam kurun waktu tertentu

·         Melaksanakan peningkatan derajat kesehatan tenaga kerja dengan kesehatan kuratif, proporsional, dan rehabilitatif.

·         Peningkatan kebersihan perorangan dan membiasakan cara hidup sehat

Tidak

 

 

Ya

 

 

Tidak

Sikap dan sistim kerja

·         Rotari kerja

·         Komunikasi dengan sesama pekerja (dengan waktu yang terbatas)

Tidak

Ya

  Dari data obsrvasi diatas, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan pihak menejemen kurang, yang menyebabkan pada proses produksi hingga distribusi masih banyak aspek k3 yang kurang diperhatikan, sehingga masih rawan kecelakaan pada pekerja.

Penerapan k3 seharusnya dapat lebih ditekankan lagi bagi para pekerja. Dari pihak manajemen harus benar-benar mengontrol penerapan k3 ketika proses produksi berlangsung, sehingga dapat menekan angka kemungkinan terjadinya kecelakaan dalam bekerja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tentang k3tium

sehat dan bersemangat
Pos ini dipublikasikan di D3BUS 2012-Fathiyanti, Dwi Astuti Sih Apsari. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s