TUGAS 1 AZIIZA FITRIA FADHILLA ” LINGKUNGAN SEKITARKU” K3 SEMESTER 2 2012-2013 D3 TATA BUSANA

Aziiza Fitria Fadhilla

D3 Tata Busana/ off: A

120542332491

Metamorfosis Kehidupan Selama 19 Tahun

          Nama saya Aziiza Fitria Fadhilla, saya terlahir  di sebuah kota perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah, yaitu kota Ngawi. Meski banyak orang bilang kota Ngawi itu kota kecil, kenyataannya saya masih tetap bangga pada kota yang telah berjasa dalam membangun karakter pada diri saya. Karena setelah saya telusuri, apabila saya terlahir di sebuah kota besar dengan penuh bahaya firus akibat polusi, maka polusi dan bakteri yang telah meracuni kota akan tertimpa pada bayi yang dapat dengan mudah terkena firus penyakit. Sehingga kesadaraan saya pun tertimbul bahwa kota Ngawi adalah kota yang telah berperan dalam melindungi saya di masa kecil, dan tentunya juga atas kehendak Allah SWT. 

Gambar

Gambar 1.1 Selamat Datang Kota Ngawi

(Sumber: blgspot.com)

        Selain terbebas dari firus-firus yang mengganggu pada saat itu, pada saat saya berada di kota Ngawi, hampir dapat di pastikan bahwa saya setiap hari dapat mengkonsumsi makanan segar dari para petani yang membawa dagangan mereka di sebuah pasar tradisional di dekat rumah saya. Karena bagaimana tidak, lokasi perkebunan sayuran di Magetan yang dapat di tempuh dalam waktu 40 menit  dari kota Ngawi, selalu mengirimkan hasil perkebunan mereka yang masih segar. Jadi bagaimana saya tidak merasa bangga berada di kota Ngawi, karena selama saya tinggal di kota ini, kehidupan saya seakan makmur dalam menikmati kekayaan alam yang masih asri. Dan ada satu nilai plus yang sangat menyenangkan bagi para Ibu rumah tangga di kota Ngawi, karena harga bahan makanan di kota Ngawi dapat di kategorikan pada level ekonomis. Sehingga selain mendapatkan lingkungan yang sehat, masyarakat di kota Ngawi juga mendapatkan ke untungan dalam harga bahan makanan yang relatif murah meriah.

          Namun meski memiliki banyak keunggulan, kota Ngawi juga memiliki sebuah kekurangan dari segi perairan di kota ini. Sistem perairan di kota Ngawi terdapat kandungan kapur. Sehingga masyarakat di daerah kota Ngawi banyak yang memilih untuk mengkonsumsi menuman aqua galon atau air mineral biasa. Dan pastinya juga masih ada beberapa dari masyarakat yang tetap menggunakan air yang memiliki kandungan kapur tersebut untuk di konsumsi sehari karena faktor kelemahan ekonomi.     

          Bercerita lebih jauh  tentang kehidupan yang saya alami di kota Ngawi, kehidupan saya bersama keluarga pada saat itu masih banyak mengikuti kebiasaan Nenek. Seperti pada saat kegiatan memasak di dapur, keluarga saya pada saat itu masih bertahan untuk memasak menggunakan kayu bakar atau areng, dan ruangan yang di pergunakan di buat relatif luas dengan tunjangan jendela kayu yang besar dalam jumlah yang banyak untuk mengalihkan asap yang ada di ruangan dapat keluar. Ruangan yang biasa di pergunakan untuk memasak tersebut, sering di sebut dengan “pawon” (nama lain dapur), dan kenyataannya dengan adanya penerapan seperti itu membuat pemakaian minyak tanah yang sering di pergunakan juga menjadi berkurang dengan adanya cara memasak menggunakan kayu.

          Begitu juga pada pemakaian air di rumah, meski telah banyak orang menggunakan air PDAM, namun keluarga saya masih menyukai penggunaan air sumur dengan bantuan sanyo. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan MCK (Mandi, Cuci, Kakus), keluarga saya lebih memilih menggunakan air sumur di bandingkan dengan Penggunaan air PDAM. Dan kenyataannya air dari sumur tersebut juga dapat mencukupi kebutuhan yang ada di rumah saya.

          Dan dalam perkembangan yang saya alami saat masih berada di kota Ngawi, kondisi lingkungan yang ada di sekitar saya sangatlah mendukung. Seperti pada saat saya masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK), lingkungan tempat tinggal saya sudah membiasakan diri untuk menjaga kebersihan lingkungn dan gerakan menanam pohon. Jadi pada saat saya masih berada di bangku Taman Kanak-kanak, saya dan teman-teman sudah di biasakan untuk menanam beberapa jenis tanama kecil maupun bunga di sekitar lokasi pekarangan Taman Kanak-kanak. Sehingga dengan adanya gerakan seperti itu membuat saya merasa nyaman dan oksigen yang saya hirup terasa begitu menyegarkan. Sehingga terbukti kota Ngawi pernah mendapatkan penghargaan adipura dalam menjaga kebersihannya.

 

Gambar

Gambar 1.2 Adipura Kota Ngawi

(Sumber: dokumen pribadi)

 

          Selain berada dalam kategori kota yang bersih dan nyaman, kota Ngawi juga termasuk kota yang aman. Dalam sepanjang kehidupan yang saya lewati di kota ini, konflik yang terjadi dapat di bilang jarang untuk terjadi. Seperti pada saat saya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), lingkungan tempat saya tinggal memang termasuk dalam lingkungan yang Islami, sehingga nilai kerukunan sangat di junjung tinggi di lingkungan saya. Dan dari adanya banyak kegiatan yang melibatkan antar warga, hal itu membuat sikap kekeluargaan antar masyarakat di sekitar lingkungan yang saya tempati semakin erat. Maka untuk kegiatan syukuran, pengajian, atau kerja bakti di lingkungan saya sangat sering untuk melakukan kegiatan seperti itu. Dan sikap yang di tunjukkan antar masyarakat juga terbilang sangat ramah.    

 

Gambar

Gambar 1.3 SDN Beran 3 Ngawi

(Sumber: dokumen pribadi)

 

          Pada saat saya menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), ada sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan di lingkungan tempat tinggal saya. Kota ngawi yang awalnya tidak peranah banjir, kali ini mengalami kondisi banjir yang menyedihkan. Hal itu merupakan akibat dari beberapa hari hujan deras tanpa kunjung berhenti. Namun Alhamdulillah lokasi rumah saya tidak mengalami banjir, dan kondisi saya bersama keluarga untungnya juga baik-baik saja. Hanya dalam kondisi banjir berlangsung, di lingkungan saya mengalami situasi kekurangan bahan makan dan tidak dapat menikmati listrih hampir satu minggu. Alhasil dari adanya bantuan supermi dari salah satu helikopter yang melemparkan dari atas, keluarga saya dan masyarakat di sekitar saya dapat mengkonsumsi mi instan tang berjumlah dua kardus tersebut. Pada saat itu kondisi di lingkungan saya memang sangat memprihatinkan. Kami tidak dapat memasak mi seperti biasa, maka dalam kondisi tersebut kami tanpa memperdulikan kesehatan langsung saja memakan mi instan dalam keadaan mentah selama dua hari. Dan karena bantuan pada saat itu lama di dapat, maka dengan terpaksa ada dari masyarakat di lingkungan saya terpaksa menampung air hujan untuk di minum. Dan kejadian banjir ini memang menjadi kondisi terparah yang di alami lingkungan saya di kota Ngawi.

          Saat saya menempuh pendidikan di bangku Sekolah Menengah Pertama, saya melanjutkan sekolah di kota Malang. waktu saya pertama kali menetap di kota ini, pandangan saya begitu takjub pada kota ini. karena meski telah mengalami perkembangan, kota Malang masih dapat menjaga kondisi lingkungan yang sejuk. Hanya saja permasalahan yang saya hadapi adalah dalam berkomunikasi. Karena meski kota Malang termasuk Jawa Timur, namun dalam b erbicara logat yang di gunakan berbeda dari kota asal saya.

          Di malang sendiri saya tinggal bersama kakak sepupu saya, di lingkungan ini, saya tinggal di sebuah perumahan di daerah bandulan. Masyarakat yang tinggal di perumahan menurut saya kebanyakan terlihat sibuk pada pekerjaan masing-masing. Bahkan kebanyakan terkesan cuek antar tetangganya. Mungkin ada memang salah satu yang mau bergaul dengan tetangga yang lainnya, namun dari bergaul tersebut kebanyakan adalah ibu-ibu yang suka bergosip sepanjang hari dan terlihat baik hanya di luar saja.

 

Gambar

Gambar 1.4 SMKN 2 Malang

(Sumber: grup upw 1)

 

          Sedangkan saat saya telah duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), lingkungan yang saya hadapi juga hampir sama dengan lingkungan kebanyakan remaja. Mungkin hanya karena remaja di kota Malang lebih maju dari kota saya, maka cara pergaulan anak di sini agak sedikit berbeda dari kota saya. Dan saya pun juga harus tetap menjaga pergaulan agar tidak terarah pada kondisi negatif. 

Gambar

Gambar 1.5 Universitas Negeri Malang

(Sumber: um.ac.id)

          Dan menginjak pendidikan di bangku Perguruan Tinggi, lingkungan yang saya hadapi juga semakinbanyak karakter manusia yang berbeda. Karena saya di sini dapat bertemu dan berteman dengan berbagai masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia. Dan mereka membawa karakter yang berbeda-beda dari daerah mereka. Namun kondisi yang saya alami pada saat ini adalah kondisi udara di kota Malang. karena entah kenapa kota Malang ini semakin panas. Atau mungkin ini pengaruh global worming.      

               

 

Tentang k3tium

sehat dan bersemangat
Pos ini dipublikasikan di D3 Tabus Aziiza Fitria Fadilla, Dwi Astuti Sih Apsari dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s